14/01/17

Road to Bachelor's Degree (1)

"Sebaik-baiknya skripsi adalah skripsi yang selesai"
Entah udah berapa kali gue baca kalimat tersebut bahkan dari gue mahasiswa tingkat I, sampai-sampai gue penasaran, emang orang skripsian tuh gimana sih?
Oia sebelum bahas skripsi, di jurusan gue, Teknik Lingkungan UI, kita sebagai mahasiswa diwajibakan untuk mengambil mata kuliah seminar dan metologi penelitian TL, ini matkul baru di tahun ini dan jumlah SKS-nya pun bertambah dari 1 menjadi 2 tapi rasanya bukan kayak 2 sks bung. Berkali-kali ripat rasanya.
Bedanya sama skripsi? jadi seminar itu membahas mengenai bab 1 2 3 (sebagian orang sampai bab 4) dari skripsi yang isinya latar belakang, tinjauan pustaka dan metodologi penelitian yang tujuannya agar latar belakang masalah yang kita angkat dan cara kita melakukan penelitian nantinya itu benar. Karena balik lagi, kalau dari film Rudy Habibie (eeaaakk) the key of engineering is problem solving. Jadi untuk memastikan masalahnya ada dan metode penyelesaiannya juga benar sebelum kita benar-benar melakukan penelitian.
Yang unik dari penelitian/tugas akhir (TA) gue dan temen-temen TL lainnya dibanding anak sipil (yang juga satu departemen) adalah waktu penelitian kita yang ga bisa singkat dan ga bisa pake kuesioner dan harus siap-siap merogoh kantong untuk dana ngelab, minjem alat maupun bikin rekator. Sebagai contoh, temen gue melakukan studi lysimeter dengan lama waktu penelitian 100 hari. Bayangin bung 100 hari udah kayak mengenang wafat seseorang...dan kalau metode lo salah dan baru ketahuan pas sidang skripsi...kelar idup lo.
Oia, seminar ini juga pake sidang. Di sipil untuk dapetin ST harus melewati 4x sidang, di lingkungan, untuk dapetin ST harus melewati 3x sidang, yaitu sidang tilang, sidang isbat, dan sidang paripurna.
Gak deng.
Pertama sidang Kerja Praktek. Ini sidang paling enak...soalnya bertiga/berdua. Ya setidaknya lo gak deg-degan sendirian gitu. Udah gitu dosen pengujinya bisa diprediksi.
Kedua sidang seminar. Nah ini sidang baru sendirian. Ini sidang yang baru aja gue rasain kemarin
Ketiga sidang skripsi. Belum, yang ini bakal ada di post berikutnya.

Menjelang Sidang Seminar
Walaupun peneilitian gue ini berkelompok, nama geng kita biodrying karena itu topik skripsi kita, walaupun udah baca beberapa jurnal, tapi tetep aja kita ber-4 sering mentok di beberapa hal. Ga beberapa deng, tapi banyak. Beruntungnya skripsi kita ini juga dilakuin oleh salah satu maha-siswa yang maha-pintar bagai titisan langit yang turun ke bumi untuk ngajarin kita ber-4 bocah ingusan yang kalau asistensi sama dosbing seringnya iya-iya aja dan pas diskusi baru nyadar kenapa kita iya-iya aja. Kalau skripsi kita itu laboratorium scale, kalau skripsi doi pilot scale di salah satu perusahaan. Jadi? udah ga diragukan ke-shahih-annya.
Ga sedikit masalah yang ditemuin padahal udah seminggu menjelang sidang. Mulai dari software yang baru kita tau untuk metode statistik, tiba-tiba ganti tujuan penlitian, maupun semua pertanyaan yang muncul dari kami ber-4. Sampai akhirnya hari-hari menjelang tahun baru ketika manusia di FT bisa diitung jari, kampus rasanya senyap ga seperti biasanya, obrolan kami ber-4 + kakak dewa ini masih berlanjut. Bukan karena kami sok-sok-an, tapi karena kami semakin sadar betapa banyak kurangnya kami menghadapi sidang seminar. 
Persiapan menjelang sidang tuh rasanya....ga cuma semangat yang naik turun. Tapi juga mood dan emosi. Sampai-sampai temen-temen gue komen "Reg kok lo tumben ga sumringah kayak biasanya?" "Reg, kenapa si cemberut mulu" atau lagi chat tiba-tiba dibalesnya "ngomel mulu". Untuk semua hal yang tidak berkenan selama masa-masa tersebut gue minta maaf. Gue sadar kalau menjelang sidang, gue menjadi kurang baik dalam menanggapi atau memberikan feedback baik lewat obrolan langsung maupun via chat. Kadang jawaban gue jadi sekenanya, seadanya, bales singkat yang seolah gue lagi eteb dan kayak ketus padahal biasanya gue kalau di chat suka heboh. Atau gue juga jadi baperan, jadinya sedih dan overthinking. Seriously, itu ga enak banget. Baik buat diri gue sendiri, maupun ke orang lain. Belum lagi deadline tubes yang makin mepet, mata kuliah S2 yang kadang gue ngerasa 'kok gue ga nangkep maksudnya ya?', dan 23 sks ini ternyata bikin gue harus bener-bener dewasa. Gak cuma manajemen waktu. Tapi juga pikiran, dan emosi. Gue pun ga nyangka bahwa per-seminaran ini ternyata cukup buat emosi naik turun dan bikin gue ngelus dada berkali-kali apalagi waktu kena 'evaluasi' dari dosbing, progress yang minim, semangat yang turun dan berkali-kali bikin gue menampar diri sendiri.

3 Januari 2017
Akhirnya hari ini tiba juga. Setelah semalaman gue dan temen-temen nginep bareng untuk menghadapi sidang. Gue chat mamah, bapbap, kakak, dan temen-temen gue agar gue dimudahkan untuk sidang. Gue juga harus menghadapi kendala dulu karena harus mengganti penguji satu jam sebelum gue sidang karena penguji utama tidak bisa hadir. Banyak hal yang gue khawatirkan sebelum sidang.
Sampai akhirnya, setelah melalui 33 menit sekian detik...gue keluar ruang ujian denga lega. Ya tentunya revisi-revisi itu ada. Tapi untuk sampai check point hari ini, gue bersyukur karena Allah Mahabaik, semesta mendukung gue di hari itu.
This too shall pass. Yang dikhawatirkan semenjak kemarin, yang dibayang-bayang dalam pikiran, yang disebut-sebut dalam doa di akhir solat akhirnya sudah dilewati. Alhamdulillah. Di hari itu gue resmi 2/3 ST.

Gue, setelah sidang

hadiah dari makhuk-makhluk kesayangan
Tiba-tiba di grup gemash, temen gue ngirim ini,

Dari: someone
Untuk: UI 2013

Pesan:
Sebentar lagi kita akan merasakan rindunya naik bikun. Rindunya makan di kantin. Rindunya bertemu dosen dan teman-teman. Rindunya terengah-engah mengerjakan skripsi. Rindunya sibuk organisasi. Rindunya menunggu nilai SIAK. Kita akan memulai fase baru yang lebih berat. Dunia kerja. Dunia pascakampus. Ketika kesalahan menjadi sulit untuk ditolerir. Ketika sebagian yang lain masih luntang-lantung mencari pekerjaan. Ketika lelah pulang bekerja seharian. 
Maka, nikmatilah satu semester terakhir ini :)
Dulu, pas gue lagi sibuk-sibuknya IMS di semester 5, gue melihat kakak-kakak gue yang biasanya sering gue ajak ngobrol di gazeb atau bercanda bareng di kantek, atau tw-tw di selasar, bahkan curhat colongan di tamtek perlahan-lahan mulai sulit gue temukan keberadaannya. Intensitas kita ketemu dan ngobrol ga sesering dulu, karena mereka mulai sibuk dengan penelitian mereka yang akhirnya gue paham memang banyak menguras waktu. Jadi sekalinya kita bisa ketemu, di kantek misalnya, gue selalu nyamperin mereka dan tanpa sadar bilang
"kak, kok lo udah mau lulus aja sih....jangan cepet-cepet lulus dong..nanti gue cerita sama siapa :') "
"Yah jangan ngomong gitu dong Reg...gue juga ga pengen cepet-cepet Reg...tapi sekarang tuh lo seakan-akan sedang berada pada titik dimana lo udah memulai, dan lo udah berjalan di tengah-tengah dan yang harus lo lakukan adalah ya menyelesaikan itu"
Terus sekarang gue ada di titik itu. Kegilaan kegiatan kampus beserta tetek bengeknya bikin gue punya banyak cerita baik di sipil, di teknik, maupun di UI. Padahal dari dulu gue mengindam-idamkan untuk punya gelar Sarjana Teknik dan ternyata (inshaAllah) satu langkah lagi nama belakang gue bertambah hurufnya.
Semester 8. Udah diujung ya ternyata :")

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Semoga Engkau senantiasa memberi penutup yang indah, penutup yang manis, dan penutup yang baik dari perjalanan panjang ini, dari perjuangan 4 tahun ini, dari ibadah ini. Perkenankan hamba Ya Rabb. Aaamiin. Aamiin. Allahumma Aamiin.

13/01/17

Racau #2

"Kebahagiaan harus selalu dicari ke dalam, bukan ke luar. Terbang ke atas tidak akan pernah membuat kita sampai karena langit tak pernah punya ujung untuk digapai. Tapi berenang ke dalam, akan selalu membahagiakan. Karena saat hati kita berhasil menyentuh dasarnya, kita akan tahu: kita sudah punya semuanya" - Academicus 
Create your own happiness. Itu kata-kata yang lagi gue pake akhir-akhir ini. Ada banyak banget hal yang pengen gue lakuin, salah satunya adalah kembali melakukan hal yang 6 bulan kemarin sering gue lakukan. Tapi lagi-lagi kondisi sekarang udah beda dan hal ini yang gue selalu katakan sama diri gue sendiri, "Ayolah gue...ayolah gue. Jangan manja".
Gue coba membuka percakapan berkualitas dengan orang-orang. Tentang life goals mereka, tentang what they are gonna do with their life, tentang pandangan cewe-ke-cowo atau sebaliknya, karena gue merasa sedang pada titik krisis referensi dan sebutuh itu tau perspektif orang lain, berharap gue dapet banyak insight dan gue tau apa yang harus gue lakuin nanti.
Nyatanya ga semua percakapan-percakapan itu mengantar gue ke titik terang. I mean, gue dapet banyak saran, masukan, pendapat, another point of view, tapi ada hal lain juga yang gue dapatkan, yaitu penyesalan atas apa yang baru gue lakukan dan ternyata cukup membuat gue mengutuki diri gue sendiri "bodoh banget gue kenapa bisa ngelakuin itu" dan iya semuanya ga bisa dikembaliin. Here I am now, sedang menyesali keputusan yang gue anggap terburu-buru dan penuh dengan asumsi.
Gue saat ini sedang berusaha membayar rasa penyesalan tapi lagi-lagi gue ga tau perlukah rasa menyesal ini ditebus, haruskan gue benar-benar menyesali, atau jangan-jangan ketergesaan gue saat itu adalah yang terbaik. No one knows. Mungkin nanti setelah serangkaian sebab-akibat ini berjalan, gue bisa tau baik-tidaknya keputusan itu.
Gue coba "berenang ke dalam" menyelami diri gue lagi kalau you have nothing to worry about, bahwa bumi masih berputar, bahwa matahari masih terbit dari timur dan tenggelam di barat, bahwa semua masih baik-baik aja. Walaupun memang ga sepenuhnya baik-baik aja, tapi diri ini butuh sugesti bahwa semuanya memang sedang baik-baik saja.
Perjalanan menyelami diri gue lakukan saat gue duduk lama di kereta Pasar Senen-Lempuyungan, melakukan pendakian gunung dan akhirnya bisa melihat luasnya langit dan menyadari betapa kecilnya rumah-rumah itu, betapa banyaknya manusia yang berlalu lalang, dan betapa banyaknya kesempatan yang masih akan kita temui ke depannya. Untuk semua hal yang direncanakan, maupun yang datang dengan tiba-tiba...


kita tetap masih punya semuanya. Dengan status kepemilikan penuh maupun sebagian, dengan peran yang bermacam-macam, dengan wujud yang beraneka ragam, maupun dengan kondisi yang tak lagi sama. 

01/01/17

2016

Tulisan ini dibuat untuk merapihkan kenangan, untuk mencoba mengulas balik tentang apa-apa yang pernah dirasakan dan didapatkan. Hingga akhirnya kita mampu berkaca dan menyelipkan rasa syukur bahwa segala pahit-manis yang melanda punya arti yang besar bagi diri kita, si pembuat cerita.
Terlalu banyak.
Satu dari sekian banyak yang ada adalah akhirnya gue bisa kembali bercerita lagi. Tapi bagaimana pun juga, 2016 menjadi tahun peralihan gue di banyak hal. Ketika tahun 2015 gue penuh dengan naik turun karena IMS membuatnya seperti itu, 2016 penuh dengan naik turun karena...ada banyak hal baru yang gue termukan di sini.
Ya, jadi gue dulu punya kebiasaan. Setiap menjelang pergantian tahun, gue mencoba menuliskan apa yang telah gue jalani selama setahun ke belakang, kayak gini,

http://regia-pursof.blogspot.co.id/2012/12/2012.html -->; tahun 2012
http://regia-pursof.blogspot.co.id/2010/12/tahun-mimpi.html -->; tahun 2010
Waktu tidak akan menghapus apa yang lalu, tapi dia akan membantu kita untuk terus bertumbuh dan dewasa dalam memahami
Post-Power Syndrome ternyata beneran ada
Dedicator
Awal tahun 2016 gue rasanya kosong. Momen ketika hp lo yang tadinya penuh sama chat dari orang-orang dan mendadak ga serame biasanya.
Puncak Pertama!
Walaupun pernah ke Papandayan, tapi sayangnya ga sampe puncak. Dilanjut ke Munara, tapi lebih pantes disebut bukit dibanding gunung. Terus tiba-tiba semesta mempertemukan gue dengan orang baru dan gue diajak ke sini.
Gue di Puncak Syarif Merbabu yang penuh kabut
Gue menghadap puncak Merapi tapi kehalangan awan
Setiap kali pertama dalam hidup selalu menjadi bagian yang membekas. Semoga Januari mendatang diperkenankan untuk menikmati (kembali) Merbabu dengan lautan awan cerahnya.
Someone I Relied
Mungkin foto di bawah bisa menjelaskan,
dari tumblernya truegrey. makasih ya mbak
Bukan siapa-siapa tapi bisa jadi satu dari sekian orang-orang yang gue sebut significant others. Salah satu yang ikut mewarnai dari merah ceria sampai biru sendu. Makasih karena sudah meng-influence hal baru dan hal baik...
Ya, bahkan mulai dari obrolan-obrolan jarak jauh pas gue awal KP.
Maaf ya suka ngomel-ngomel ga jelas.
Dua Ribu Enam Belas! Siap!
Bidang Evaluasi. Walaupun gue masih bingung kenapa temen-temen gue percaya untuk gue mengemban amanah ini.. Dan gue sekarang sadar kalau itu cara mereka untuk tetep bikin gue "ada" dan bikin gue (mau ga mau) mikir, belajar, dan ikut memahami walaupun gue selalu ngerasa otak gue ga pernah nyampe diajak ngomongin hal-hal kayak gitu.
Katanya sesi bidang gue adalah sesi yang paling banyak dihindari, dari mulai orang-orangnya sampai suasananya. Tapi bisa jadi di sisi lain, sesi ini yang selalu membekas, yang masih diingat tanpa kita berniat untuk mengingat.
Makasih banyak banget sudah mengajarkan gue banyak hal baru yang sering gue hindari karena kalau disuruh milih kelembagaan atau kemahasiswaan gue pasti milih kelembagaan padahal keduanya ga bisa dipisahkan. Semoga tetap semangat jadi orang yang gemes kalau ngeliat sesuatu yang salah, yang pusing kalau ada sesuatu yang tidak pada tempatnya, yang "besok ngobrol sama gue ya" tiap hal yang ini gak boleh kayak gini terus.
Orang-orang keren in one frame
Paling bisa emang untuk bikin gue kembali belajar sebenar-benarnya ikhlas.
Mereka Bukan Sekedar Adik
"Reg mau jadi kakak asuh lagi ga?"
"Engga deh, sekali aja cukup. Biar yang lain aja"
Kemudian MADK dicemplungin di bidang eval, dan..
"Reg yakin ga mau jadi kakak asuh?"
"Eh..gue pikir-pikir dulu deh. Gue izin sama Kato Pale Ditta dulu ya"
...dan beginilah gue saat ini.
Gue mencoba bukan jadi kakak, tapi jadi teman karena mungkin gue ga sepantes itu untuk ngajarin banyak hal. Yang gue yakin kita bisa saling bercerita banyak hal, saling bertukar pendapat dari hal penting sampe hal yang ga penting sekaligus karena gue percaya mereka semua bukan sekedar kertas polos yang ga paham apa-apa dan bisa bahkan jadi tempat "tumpah" ketika sang kakak lagi bermasalah.
Mengenal Rifia yang gue banyak belajar dari adek gue yang satu ini karena dia setangguh itu -yang bisa jadi gue mungkin ga kuat kalau jadi dia-
Memahami Adil yang unik -satu dari ribuan orang yang dianugerahi kelucuan di atas rata-rata tanpa berniat utuk melucu tapi diam-diam menyimpan penuh perhatian dan jalan hidup yang ga mudah-
Mengerti Kato yang jangan pernah judge anak ini dari luar aja karena dia punya bakat besar, pemikiran luas, dan cara sendiri untuk memandang sesuatu.
Me-nggeleng-gelengkan kepala karena Yudha, Ditta dan Pale ternyata mengikuti jejak gue jadi BPH IMS. Selamat menyibukkan diri di tempat yang pernah menempa gue segitunya 2 tahun yang lalu ya Yud, Dit, Le. Semoga gue masih bisa bantu kalian.
"Mikroba, be Nice Please"
Reaktor yang masih terus disempurnakan
Memantau bakteri 1x24 jam
Diskusi-diskusi liburan menjalang tahun baru saat manusia di FT bisa dihitung jari
Setelah gue jadi anak kantek, kemudian beralih jadi anak gazeb, akhir-akhir ini dan seterusnya hingga skripsi gue selesai, laboratorium lingkungan bakalan jadi tempat gue banyak menghabiskan waktu sembari menikmati masa-masa bahwa penelitian ternyata bisa seseru itu. Semakin besar semester yang diambil, semakin gue menikmati mata kuliah lingkungan yang walaupun kadang bikin kayak mau mati pelan-pelan tapi ternyata se-seru dan se-mulia itu ilmunya...dan bikin gue menyesal kenapa gue ga belajar serius dari dulu.
Dewantara ini-pun Bersayap
Ini apa? for more information go to page http://sayapdewantara.org/
Kalau setelah IMS gue udah ga ada rapat-rapat...sebetulnya salah besar. Masih ada yang bikin gue telat pulang ke Bogor atau balik ke Depok lebih cepet karena masih ada rapat-rapat. Gimana pun juga, hal-hal yang kayak gini yang bikin gue ga berada di zona nyaman, bikin gue mikir keras, bikin gue ga boleh mager-mageran gi, plis.
Dapur Program
Soket-Fai-Gue-Dea-Ummu-Ujep (dari kiri ke kanan)

Sadewa abis tim building di KRB cuy

Sadewa di IP Fest-Fostering partnership for Sustainable Development Goals
Mid-Night Attack
Masuk Rumah Sakit terus diinfus jam 23.30, keluar rumah sakit jam 06.30, berangkat ke kampus untuk ujian jam 08.30.
Seberarti itu teman-teman angkatan dari mulai dateng ke kosan, nemenin di kosan, beliin teh anget, ngerokin, nganterin ke RS tengah malem, nemenin di RS, sampe ngebayarin dulu biaya rumah sakit, nanyain ujian gue dan maksa gue untuk pulang.
"Ya terserah kamu, kan kamu Engineer-nya"
Ga kebayang aja kalau ternyata suasana kelas di tingkat akhir itu punya atmosfer beda. Kalau dosen lagi ngajar terus beliau nanya ptapi kita balesnya lama dan jawabannya meleeset dari harapan beliau tiba-tiba kalimat ini muncul "Udah mau lulus kok kayak gini" atau "Mau jadi sarjana kok masih aja bingung" atau cerita-cerita nakutin kayak "Kalau kalian tidak berusaha keras dari sekarang, maka tepat satu langkah kalian menginjakkan kaki keluar dari balairung, saat itu juga kalian akan menjadi pengangguran". Gila. Rasanya mistis.
Ga jarang juga diskusi-diskusi kelas udah berubah menjadi, "kalau kalian menjadi seorang konsultan dan kalian mendapati kasus seperti ini, maka apa yang akan kalian lakukan" terus seisi kelas berdiskusi, menghasilkan berbagai jawaban, memberikan berbagai pertimbangan tapi kita semua ga ada yang yakin sama jawaban kita dan satu anak nyeletuk "kalau kayak gini boleh ga bu?" dosen tersebut cuma menjawab "ya terserah kalian, kan kalian engineer-nya". Mungkin kata-kata yang sederhana tapi maknanya sedalam samudera *lebay*. Artinya, kedewasaan dalam memilih, dalam mempertimbangkan, dalam menjwab ada di diri setiap orang. Ga ada jawaban salah. Semuanya tergantung. Tergantung kita, engineer-nya.
Gemash goes to Holcim
pertama kali belajar composting langsung di lapangan
kalau kata Dany, kirain TL nanem pohon, taunya nanem pipa
What's Next?
Ini pertanyaan yang mulai menghantui gue 3 bulan terakhir : Setelah ini, terus apa?
Kalau dulu setelah SMP ya pilihannya SMA, setelah SMA ya pilihannya mau kuliah PTN atau PTS? Tapi setelah kuliah...pilihan terbuka begitu lebar. Antara mau nerusin semangat belajar S2 karena (sebetulnya) seseneng itu sama topik penelitian dan punya keinginan sekolah di luar negeri, atau mau langsung kerja aja punya penghasilan sendiri dan ngurangin beban orang tua, atau mau lanjut program insinyur yang baru-baru ini dibuka, atau mau coba buka usaha dan bikin karya, atau...iya terlalu banyak atau setelah ini. Mungkin masa SMA dulu gue seberusaha itu untuk masuk ITB atau minimal UI dan itu yang membuat gue harus meraih itu di saat itu juga. Tapi sekarang...iya gue punya banget mimpi untuk sekolah di luar negeri, tapi haruskah tepat setelah gue lulus S1? dan semua pilihan ini mengantarkan gue pada kesimpulan kalau gue belum sepaham itu sama diri gue sendiri. Kalau kerja emang udah kepikiran dimana? kalau kuliah S2 emang mau ngambil jurusan apa? kalau ngambil profesi keinsinyuran....emang gue mau beneran mau jadi insinyur? Ketika semuanya udah ga bisa let it flow aja lah, atau gimana nanti..tapi ya nanti gimana.
Gue sedang rindu-rindunya punya deep conversation, dan kebetulan gue akhirnya mendapatkan ini dengan makhluk yang sudah gue kenal semenjak umur 4 tahun. Di tengah perjalanan menuju Bogor dengan batre HP sekarat, gue berasa dapet kuliah umum,
"lo udah ada rencana kerja, ndi?"
"sejujurnya gue basically orangnya suka belajar...gue gatau kenapa gue 3,5 kalau bukan karena beberapa hal dan memang syaratnya udah terpenuhi-terpenuhi aja. Hasrat masih pengen belajar tuh gue masih seneng...dan sejujurnya kalau amin gue lulus, gue takut sih mempertanggungjawabkan sebagai SH. Tapi kalau dipiki-pikir gue abis lulus mau S2 juga ga gitu-gitu banget. Ga tau deh gi, apalagi lapak kerja hukum bingung dah mau ke arah mana saking luasnya."
terus muncul notif low battery lagi dan gue panik ini si Indi pasti masih ngetik panjang lebar
"Se-gajelas-gajelasnya hidup gue, yang paling jelas itu sih, idup bikin orang tua seneng. Dengan tujuan itu dulu yang jelas. Gue juga jadi ga egois dan ambisius sama diri sendiri..misal kayak gue pengen kerja terlalu idealis tapi ga bikin orang tua seneng sih kayaknya jadi ga penting kalau cuman memuaskan hasrat diri"
"Hm...gue terakhir kali bikin seneng orang tua kapan ya?"
"Iyah kapan coba nanya sama diri sendiri. Terkahir kali ga mikirin diri sendiri. Makin anehlah udah gede gini. Ga tau deh pokoknya kalaupun gue kehilangan arah, gue lempeng seenggaknya mau bikin orang tua seneng"
Ga jarang mungkin pertanyan ini muncul "sebetulnya gue kayak gini ngapain sih? buat apa?" dan temen gue cuma berpesan "Goodluck yah Gi, banyak nyenengin diri dan nyenengin orang yang pantes buat dibikin seneng aja" saking mungkin dia terlalu sering melihat gue "berantakan" karena beberapa hal, bermodal percaya bahwa semuanya ga ada yang sia-sia padahal gue selalu bisa milih untuk "iya kita ga boleh dzolim sama orang lain tapi plis jangan juga dzolim sama diri sendiri".


Akhirnya malem itu, mungkin gue tau apa yang harus gue kejar, walaupun dengan cara entah gue S2, entah gue kerja dan lainnya, tapi tujuan gue satu : bikin orang tua seneng, selagi gue punya waktu.


---


Terima kasih kepada makhluk-makhluk Tuhan yang paling sempurna ciptannya karena telah membersamai selama tahun 2016, for the joys and tears, the ups and downs, the black and white-and sometimes grey.
“You wrote down all these things to say goodbye to, but so many of them are good things. Why not just say goodbye to the bad things? Say goodbye to all the times you felt lost, to all the times it was a ‘no’ instead of a ‘yes,’ to all the scrapes as and bruises, to all the heartache. Say goodbye to everything you really want to do for the last time, but don’t go have the last Scotch with Barney — have the first Scotch toasting Barney’s new life because that’s a good thing, and the good things will always be here waiting for you.” - Lily
Mungkin resolusi gue untuk 2017 cuma butuh satu: gue ga boleh takut sama apa yang ada di depan gue.
Selamat bikin cerita baru! :)


To me,
2016 was a year anything can happen

11/12/16

Terima-Kasih


Minggu ke-2 di Bulan Desember.
Depok siang ini hujan deras-berangin, membuat suasana tak lagi seperti siang. Suasana di sudut rumah makan cepat saji seperti teduh namun riuh. Jendela dipenuhi embun dan bulir air. Di luar orang-orang basah kuyup.
juga di sisi kanan dan kiri pipi,
sembari mengharap yang jatuh dari langit menuju bumi, masuk ke gorong-gorong dan jauh ke hilir tidak hanya hujan,
tapi juga kenangan.
.
'finished off what you strated'
Dan dia baru saja mengirim pesan teks yang sudah lama disusunnya dan dibacanya berkali-kali karena takut ada kalimat yang menyakiti atau banyak interpretasi. Akhirnya dengan bermodal keyakinan bahwa ini akan baik untuk semuanya, dia mengirim enter pada komputer jinjingnya dan segera me-log out karena tak ingin segera melihat jawaban. Baginya, seberat itu untuk mengirim enter. Se-berat-itu memutuskan sesuatu yang pernah dia genggam dengan sangat erat.
Dahulu.
.
Tuhan mempertemukan untuk satu alasan. Entah untuk belajar atau mengajarkan. Entah hanya untuk sesaat atau selamanya. Entah untuk menjadi bagian terpenting atau hanya sekedarnya. Akan tetapi tetaplah jadi yang terbaik di waktu-waktu tersebut. Lakukan dengan tulus. Meski tidak seperti yang diinginkan. Tidak ada yang sia-sia karena Tuhan mempertemukan.

Seorang Regia akhirnya berani untuk menuangkan apa yang dipikirannya. Memberanikan diri untuk menerima konsekuensi terhadap masalah yang sudah lama tidak ia temui. Dia dengan segala ke-tidakmampuan untuk mengatur dan menempatkan dirinya dengan baik dalam masalah seperti ini akhirnya menemukan waktu bahwa mungkin ini saatnya.

'Tidak ada yang sia-sia'
Pernah menjadi bagian sebuah perjalanan ternyata begitu membahagiakan. Dengan berbagai rasa yang mengiringi perjalanan, ternyata ada Regia di sana. Meski terkadang penuh pertanyaan "mengapa menjadi seperti ini?"
Dia harus sadar, bahwa tak ada yang sia - sia.
sekali lagi, tidak-ada-yang-sia-sia.
.
Bagaimana sebuah hal yang tidak memiliki awal bisa memiliki akhir?
Since people come and go, dia hanya ingin menjadi satu dari sekian banyak people yang come and go dengan baik, berlalu lalang di hidup orang lain juga dengan baik.
Karena tidak ada yang salah dengan kata baik.
Meski perbedaan kondisi rasanya seperti hidup di belahan bumi yang berbeda. Hidup baru akan baik-baik saja ketika tak pernah ada kata berharap yang keluar dari salah satu sisi bumi.
.
'sukses di jalan masing-masing'
Kata-kata terakhir balasannya.
Ini cukup.
Semoga semuanya baik.
Semoga semesta meng-amin-kan apa yang terjadi di hari ini.
Hujan tak lama turun
'Hujan, tolong bawa ini semua jauh-jauh. Bawa-jauh-jauh'
Dengan segala harap bahwa ia benar-benar ikhlas. Tanpa berat hati. Tanpa keluh kesah. Cukup hadirkan kelegaan.
Ini cukup.
Terima kasih.
:)
.
Kemudian dia ingat, 1,5 tahun yang lalu dia pernah membaca buku Koala Kumal karya Raditya Dika,


'Oh apa kabar dia?' 
'Baik, sih'. Kata gue dengan tidak acuh
Nyokap melihat ke mata gue, naluri seorang ibu tampaknya membuat dia tahu apa yang bikin gue bersikap beda malam itu. Nyokap lalu bertanya 'Dik, kamu tahu gak istilah mama untuk orang yang sudah pernah merasakan patah hati?'
'Apa, ma?'
Nyokap mentap mata gue lalu bilang, 'Dewasa'
Nyokap bernajak ke dalam kamar, meninggalkan gue sendirian.
Ada detak jam yang terdengar sayup, ada senyum kecil yang mengembang di bibir.
Ada sesuatu yang selesai. 

04/12/16

Maybe


Jadi kemarin malam gue memutuskan untuk me-reset handphone gue karena ga tau kenapa udah lemot banget dan suka berulah aneh.
Ternyata, hasilnya handphone gue kembali normal, ga ada yang aneh-aneh, dan history line semuanya keapus
.
.
.
Ternyata  faedah yang gue dapatkan banyak...

Dimulai dari 0 lagi ya!