10/03/17

Setelah ini, apa?

Salah satu hal yang menghantui mahasiswa tingkat akhir macam gue adalah pertanyaan besar mengenai "setelah ini, hidup lo mau dibawa kemana?
Sampai akhirnya tanda tanya ini mendorong gue untuk meminta petuah dengan banyak orang, khususnya mereka - mereka yang gue anggap kakak dan lebih cepat merasakan pahit manis hidup ketimbang gue yang...ah masih kayak bocah ingusan.

Sore itu gue mendadak ingin bertemu salah satu senior gue di kampus yang kebetulan akhir-akhir ini lagi ngerjain proyek-proyek di lab. Gue memulai bertanya dengan menanyakan kabar teman-temannya setelah lulus sampai pada kapan gue harus mulai mempersiapkan segalanya. Ada hal unik yang gue dapet dari obrolan sore-sore di kantek saat itu, "Katanya Reg, masa-masa usia 21-26 itu masa dimana kita kayak lagi ga punya guide line hidup. Ada banyak trial and errornya. Ada yang baru mulai kerja, beberapa bulan kemudian pindah. Ada yang udah kerja di tempat yang enak padahal tapi di tengah-tengah memutuskan untuk kuliah lagi. Ada yang udah kerja dapet gaji gede tapi karena ga betah terus berhenti dan memutuskan untuk kerja di lab aja. Ada juga yang gajinya gede tapi ilmunya dikit atau sebaliknya, ilmunya banyak, gajinya dikit. Semua itu ada."

Beberapa minggu kemudian gue kembali bertemu senior gue yang baru-baru ini kerja. Percakapannya sama, selalu dimulai dengan "kak, gue bingung". Tapi iya gue seriusan bingung. Akhirnya dia cerita tentang dunia TL, peluang kerja, saingan terberat, dan juga tips-tips. "Lo harus mulai mikirin dari sekarang, Reg. Kebanyakan orang baru mikirin mereka mau ngapain itu setelah mereka lulus. Ya walaupun lo emang lagi skripsian sekarang, tapi semuanya harus jalan pararel, apalagi kalau lo punya target yang tinggi". Gue banyak menghela napas. "Terus gue harus apa kak?". Paparan panjang lebar dia mengerucut pada satu kesimpulan : lo harus paham sama diri lo. Coba tanya orang-orang terdekat lo tentang gimana diri lo, coba pake aplikasi-aplikasi yang ada , tes kepribadian kek, apa kek, hal-hal yang dapat membantu lo memahami diri lo. "Kalau udah tau jawabannya, lo bikin timeline hidup lo. Bulan Februari ini lo mau ngapain, Maret lo mau ngapain, dan seterusnya. List semua yang jadi targetan lo. Kalau lo emang mau kuliah, list universitas2 dan jurusannya. Lakuin semuanya dari sekarang". Terus gue panik. Seperti panik-panik sebelumnya.


Belum. Belum selesai gue nanya. Gue masih coba nanya orang-orang. Mereka ngasih gue petuah macam "Kita ga bisa Reg bandingin hidup kita sama hidup orang lain. Gue percaya setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing kok. Sabar aja". Kakak gue yang satu ini ngomong sambil asik mainin jari-jari gue yang dia anggap gemay.


Dan yang lainnya? Mereka semua bercerita tentang pengalaman mereka yang bekerja lalu akhirnya memutuskan S2. Ada juga yang sengaja menunggu waktu pendaftaran tapi ternyata ada perubahan timeline dan cukup merasa kecewa karena kosong begitu lama. Pada akhirnya pilihan tersebut bukan hanya tentang kita, tapi tentang banyak hal.


Satu lagi, gue akhirnya datang ke kakak kandung gue. Dengan santainya dia bilang, "Istikharah. Jangan lupa libatin orang tua biar Allah mudahkan pilihannya. Berdoa. Solatnya awal waktu, jangan ditunda-tunda". Dan pembicaraan selesai.


Entah ini apa namanya, sebut saja konspirasi semesta. Kakak gue di belahan kota lain menulis notes di line. Big thanks to teh Linea Alfa Arina untuk insightnya,
Sekolah, Kerja atau, Nikah?
Kita ajukan pertanyaan itu kepada siapa, sih, sebenarnya? Kepada orang lain, yang diharapkan bisa memberi saran terbaik? Kepada orang tua, yang memang lebih berpengalaman? Atau seharusnya, pertanyaan itu diajukan untuk diri kita sendiri, yang juga akhirnya harus dijawab oleh diri kita sendiri?
.
Aku memilih tidak sependapat pada pihak yang menyatakan sekolah dulu lebih baik daripada kerja, atau kerja dulu lebih baik baru nikah, atau nikah dulu lebih baik baru sekolah, ataupun perbandingan-perbandingan lainnya seputar itu. Karena bagiku, masing-masing pilihan, punya resiko yang sama banyak dan sama besar, juga.. sama tidak mudahnya. 
.
Apapun yang kita pilih, tidak akan menjadi salah kalau niat awalnya benar, caranya juga benar. Tuhan pun mengajarkan kepada kita bahwa dalam setiap aktivitas yang dilakukan, kita diminta sungguh-sungguh. Yang mau sekolah, sungguh-sungguhlah cari beasiswa, persiapan berkas sana-sini. Yang mau kerja, sungguh-sungguhlah lamar kerja, jemput bursa kerja di mana-mana, buat CV yang baik. Yang mau nikah, sungguh-sungguhlah persiapan terbaik membangun keluarga. Semuanya satu jalan: sungguh-sungguh. Jadi gak ada ceritanya debat kusir tentang pilihan satu selalu lebih baik dari pilihan lainnya.
.
Karena semua itu, tergantung siapa yang menjalani. Nikah gak lebih baik dari sekolah kalau yang menjalani masih mengedepankan ego diri, gimana mau berkeluarga kalau masih serba-aku. Sekolah gak lebih baik dari kerja kalau yang menjalani beralasan ingin mendapat beasiswanya normatif. Kerja juga gak lebih baik dari sekolah atau nikah, kalau yang menjalani rutinitas kantor adalah ahli mengeluh lelah di medsos setiap pulang kerja.
.
Lalu harus apa? Banyak orang menghabiskan energi menentukan pilihan dengan menggantungkan pada opini orang lain, padahal sebenarnya itu bisa selesai antara dirimu dan Tuhanmu. Dalam istikharahmu. Dalam waktu-waktu jujurmu terhadap hatimu sendiri. Banyak yang lupa bahwa kendali terbaik bukan pada mahirnya kamu membuat visi-misi hidup, tapi pada ketentuan Tuhan atas harimu. Banyak yang pesimis untuk menentukan, akhirnya memilih jalan di tempat. 
.
Padahal jelas, ketika kamu memilih dan melibatkan Tuhanmu, baik sekolah, kerja, maupun nikah, akan menjadi pilihan yang insyaallah penuh dengan kebaikan. Kamu jadi bersyukur atas pilihanmu, gak iri dengan "rumput tetangga yang lebih hijau" tiap lihat kesuksesan pada pilihan yang mereka jalani. Yang sekolah gak iri sama yang udah dapat kerja, yang udah kerja gak iri sama yang udah bertemu jodohnya, yang bertemu jodohnya gak iri sama yang bisa sekolah tinggi. Melainkan, masing-masing bersyukur dengan apa yang dijalani, karena ingat, di luar sana, ada loh, orang-orang yang mendambakan posisi kita.
.
Yak, lagi-lagi belajar tentang merasa cukup. Dan belajar totalitas atas ranah apapun yang dipilih. Karena kalau kita mau beramal baik, ladangnya tidak melulu harus sama, kan? :)
.
Mari maksimalkan, dan bersungguh-sungguh, di mana pun pilihan kita. Baik sungguh-sungguh belajar, sungguh-sungguh bekerja, maupun sungguh-sungguh membangun keluarga. 
.
Bandung, angkot ungu, 3 Februari 2017,
terinspirasi dari sebuah tulisan yang berat (sebelah)
"Pilihan itu ada pada istikharahmu"
Menyenangkan bukan ketika dikelilingi oleh orang-orang baik? Ketika diingatkan bahwa segala kuasa bukan hanya pada diri kita.

Ya muqollibal quluub tsabbit qalbi....

"Wahai Dzat yang membolak-balikan hati, tetapkanlah hati ini..."


Di sebuah restoran cepat saji, lagi jeda bentar ambil skripsian
Jangan lupa bahagia! :)

11/02/17

"List of Things to Do Before I Graduate College"

Beda.
Mungkin ini kata yang bisa mencakup bagaimana seminggu ini berjalan di kampus. Seminggu menjalani masa-masa sebagai semester 8, seminggu menjalani masa-masa menjadi orang yang sebentar lagi akan hengkang dari kehidupan kampus-yang-sangat-ia-nikmati.

Momen wisuda minggu lalu saat gue menghadiri PSB terakhir sebagai warga (InshaAllah) cukup membuat gue merenung banyak. Belum lagi temen-temen SMA gue yang lulus 3,5 tahun sukses membuat rotunda mendadak hangat karena menjadi momentum reuni sederhana demi melihat kawan seperjuangannya memakai toga. Buket bunga, bingkisan, coklat, hadiah, sampai kehadiran orang-orang yang datang jauh-jauh dari berbagai penjuru dan berangkat pagi dan langsung pulang malamnya cuma demi dateng wisuda, tidak lain memberikan pemaknaan bahwa perjuangan dan persiapan hadiah memang demi menambah bahagia di hari bahagia dari perjalanan panjangnya selama kuliah, demi bisa mengukir senyum kawan terbaiknya. Di tengah hiruk-pikuk hari bahagia teman-teman gue menyandang gelar sarjana, tanpa sengaja kata-kata ini terlontar "doakan gue Agustus menyusul ya". 


Kemarin, yang jadi puncak acara PSB yaitu gathering, saat gue dan teman-teman angkatan gue foto tiba-tiba terlintas untuk bikin video singkat. Ketika semua orang lagi sibuk maju ke depan untuk persiaan foto acara antara wisudawan dengan seluruh warga, ada suara-suara yang memecah keributan, "sampai jumpa di PSB genap, aamiin"
Kata-kata yang penuh pengharapan, bukan?
"The trouble is you think you have time" - Buddha
Sering kita menganggap bahwa waktu kita masih banyak dan masih panjang. "Iya, besok deh", "Ah entar juga keburu", "Iya nanti juga bisa". Nyatanya persentase kegagalan itu selalu ada. Dari gue dulu di IMS ketika harus merencankan sesuatu, ketika dihadapkan pada masalah, dan pertanyaan orang-orang be like "terus gimana?" seakan-akan gue sedang diajak mikir di tempat dan ga jarang juga solusi muncul dari obrolan tidak disengaja, dengan kata-kata yang paling sering direpitisi "pikirin dari sekarang" yang artinya waktu lo ga banyak, 24 jam itu singkat, bro.

Setahun memegang timeline yang harus dipantau tidak hanya perbulan, bahkan perminggu, dan terus dijaga tiap harinya membuat gue semakin menghargai waktu, membuat gue untuk terus mikirin nanti gimana dan seterusnya. Termasuk untuk bisa menjalani rare-moment, dari mulai mengiyakan ajakan temen mendadak di hari-H untuk kasih surprise ke temen SMA yang 3 tahun udah ga ketemu, mengiyakan titipan masukin cawan ke oven untuk persiapan nge-lab untuk penelitian, mengiyakan ajakan temen fakultas sebelah makan ke Bu Ani karena katanya lagi pengen Bu Ani, dan hal-hal lainnya yang jarang gue lakukan dan belum tentu bisa gue lakukan nanti. Hal-hal yang-gue pengen banget bantu lo selagi kita masih sering ketemu sekarang.

Di tengah perbedaan hawa yang gue rasakan di kampus, ketika gue lebih sering nyebut kata-kata "ke lab lingkungan" dibanding "ke kantek", "mau ketemu Bu Andari" (pembimbing akademis sekaligus pembimbing skripsi) , dibanding "mau ketemu adek asuh", gue iseng-iseng (tapi semoga dijalaninnya ga iseng-iseng) bikin di buku catatan gue, judulnya keren sih

"List of Things to Do Before I Graduate College"

Isinya macem-macem. Dari mulai yang serius sampe yang cuma lucu-lucuan, dari yang kayak

- makan di semua kantin fakultas
dan untungnya hanya tersisa beberapa fakultas yang gue harus datangi

-naik spekun bener-bener keliling UI

-foto di depan tulisan Universitas Indonesia (yang deket gerbatama UI, di depan danau)

-jadi asisten lab dan tubes  #eeak

sampai ke

- publikasi ilmiah

- nemenin adek asuh jadi BPH dan proses penerimaan sebagai kakak

dan yang ada di nomer 1,

- menyampaikan apa yang harus disampaikan

dan masih banyak list-list lainnya yang bisa gue kejar selagi status mahasiswa-yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan banyak hal-terganti dengan sendirinya.
"Kids, you can't cling to the past. Because no matter how tightly you hold on, it's already gone"-How I Met Your Mother
Carpe diem,
rendah hatilah manusia yang menghayatinya

03/02/17

Catatan Perjalanan : Merbabu yang Ke-2

"Bagiku, petunjuk alam itu adalah bahwa tak ada yang tak mungkin dalam perjalanan. Sesungguhnya, tak ada kebetulan yang benar - benar kebetulan. Setiap pertemuan dan perpisahan itu sudah ada yang mengatur, sudah menjadi guratan nasib. Hubungan anak dan ibunya adalah perjodohan. Hubungan suami dengan istri, hubungan antara anjing dengan tuannya, semua adalah produk perjodohan" -Agustinus Wibowo dalam Titik Nol
Hai! Ya akhirnya kali ini postingan gue kembali normal. Setelah dari kemarin kerjaan gue adalah meracau, kali ini gue mau cerita sekaligus sedikit berbagi (ceilah) tentang cerita pendakian gue ke Gunung Merbabu.

Berhubung sekarang gue lagi libur semester, gue memutuskan untuk mengiyakan ajakan naik gunung temen-temen peer gue sewaktu SMP. Selain gue emang lagi kangen banget naik gunung, gue juga sadar kalau liburan semester kali ini akan gue habiskan di lab, alhasil gue kabur sejenak dari rutinitas lab dan memutuskan pergi ke Gunung Merbabu.

Sejujurnya pendakian gue ke Merbabu kali ini adalah yang kedua kalinya. Pendakian pertama gue lakukan Februari 2016 via Wekas dan turun Wekas (cerita pendakiannya juga ada di post gue yang sebelumnya), sedangkan pendakian kali ini gue dan teman-teman memutuskan untuk melalui jalur Suwanting yang katanya (katanya loh ya) relatif singkat tapi punya pemandangan yang tetep juara.

and here's my story....

9 Januari 2017
Jadi kita semua sepakat janjian di Stasiun Pasar Senen jam 11. Oia gue kenalin dulu siapa aja squad Merbabu gue kali ini
Nbe-Fikri-Gue-Site-Nanda (dari kiri ke kanan)
Jadi kondisinya gini, Nbe Site Fikri berangkat dari stasiun Bogor, gue naik dari stasiun UI tapi alhamdulillahnya gue tetep satu gerbong sama mereka, dan Nanda nyusul ke stasiun karena harus ke kampus buat ngurus wisuda. Ini foto diambil dengan kondisi terburu-buru karena Nanda dateng amat sangat mepet dengan jam keberangkatan kereta, sekitar 8 menit sebelum kereta berangkat dan kita masih harus melalui pengecekan dan bodohnya kita salah loket, tapi untungnya mba-mbanya sangat kooperatif ngasih jalan pintas ke kita untuk pindah loket dan pengecekan tiket kita ga disertai pengecekan KTP karena mba-mbanya takut kita ketinggalan. Setelah 5 tiket di-scan kita ber-5 lari lewat underpass turun tangga terus naik lagi dengan bawa carrier. Rasanya kayak dipaksa pemanasan duluan tapi alamdulillah kita ber-5 berhasil masuk ke kereta dan tepat setelah kita duduk keretanya berangkat. Ceritanya mirip sama 5 cm, waktu Ian (yang berbadan paling besar diantara geng mereka) telat dan bikin yang lainnya khawatir dan bikin lari-larian karena nyaris ketinggalan kereta. Tapi yaudahlah, niat untung menyamakan kita dengan pemain 5 cm gue cukupkan ketika gue bingung harus memerankan Raline atau Pevita. Kandas sudah niat itu.

Di kereta, gue duduk bersebalahan dengan Fikri dan depan gue adalah Nbe dengan ibu-ibu yang mau pulang kampung dan cukup banyak mengajak kami ngobrol, apalagi waktu tau kalau Fikri kuliah di kedokteran, she was amazed and curious, ngomong kalau doter hidup enak dan segala macem, padahal sebelumnya pas di Uber dari Manggarai menuju Pasar Senen melewati RSCM, Fikri cerita gimana dia kuliah, gimana ekspektasi orang-orang terhadap dokter, gimana pandangan orang-orang yang kalau jadi dokter mah hidup terjamin dan bahagia, padahal di balik itu semua ada banyak jerih payah, ada hal-hal kultural yang ga semua orang tau, gimana beban kuliah, gimana ketemu dokter senior, sampai lama-lama biasa aja ngeliat orang berdarah-darah dan makin biasa lagi denger kabar duka. Belum lagi kuliah lama, harus mengabdi dulu, terus kalau kuliah buat spesialis ga makan biaya dikit, yaaa intinya perjalanannya ga mudah, ga kayak yang banyak (ga banyak juga sih, cukup banyak) orang liat secara kasat mata. Oia Site sama Nanda duduk di bangku sebrang kita bertiga.



Di perjalanan sebetulnya gue dan yang lain cukup khawatir karena cuaca di luar hujan dan takut kalau pendakian besok juga diguyur hujan. Ya namanya juga mendaki di musim hujan, harus siap sedia aja.

Stasiun Kutoarjo
Setelah sekitar 7,5 jam di kereta, akhirnya kita sampai juga. Pertama kali sampai sini gue bingung, ini stasiunnya kok sederhana ya, dan sepi juga gitu. Sampai akhirnya kita bertanya-tanya Kutoarjo tuh nama apa ya? Kota? Kabupaten? Kecamatan? Apa ya?
Sesampainya di sini, karena kita bawa carrier segede alaihim gambreng, langsung deh kita ditanya-tanya pake Bahasa Jawa yang please...gue ga ngerti masnya ngomong apa, tapi beruntungnya kita punya Koli! Oia Koli itu juga masuk squad pendakian Merbabu, tapi karena dia kuliahnya di UNS, dia berangkatnya dari Solo langsung ke Kutoarjo. Oia balik lagi, banyak banget orang yang nanyain kita mau naik gunung apa, ke basecamp yang mana, nawarin tumpangan mobil dari pick up, taxi, sampai xenia, bahkan kita dikejar-kejar pas kita bilang mau diksusi, diliatin sama orang-orang sini sambil ditungguin diskusi Well, sejujurnya ga enak banget. Tapi ya itu yang selalu gue rasakan ketika jadi pelancong ke kota lain, apalagi dengan logat beda, masih muda, bawa gembolan/tas gede, tampang celingukan, terus ditanya "dari mana?" terus di jawab dari "Bogor/Depok/jakarta" yang bagi mereka nun-jauh di sana, gue merasa seperti sasaran empuk untuk ditawari berbagai moda transportasi dengan harga yang kadang bikin gue "hah? mahal banget!!!"
Setelah sejam mondar-mandir sana-sini dengan ngeles bilang mau cari makan, kita memutuskan untuk mengiyakan tawaran mas-mas pertama dateng, yaitu dengan mobil Xenia kami ber-6 bayar Rp 500.000,- dari Stasiun Kutoarjo sampai ke depan basecamp Suwanting yang jalannya aja udah nanjak.

Di Stasiun Kutoarjo, abis solat, lengkap!
Setelah semua carrier diiket di atas mobil dan ditutup fly sheet karena malem itu cuaca mendung, kita memutuskan untuk makan malem dulu di tempat yang khas dari kota ini. Akhirnya kita dibawa ke alun-alun Purworejo sambil makan ayam bakar karena harganya murah, tapi untuk suasananya tetep dapet kok. Selesai makan, kita lanjutin perjalanan yang katanya menghabiskan waktu kurang lebih 2-3 jam untuk sampai ke basecamp Suwanting yang ada di antara Magelang dan Boyolali.
Beruntungnya, kita dapet supir yang dia emang udah biasa banget bawa orang-orang naik gunung, apalagi gunung Merbabu. Beliau cerita kenapa akhirnya dia memutuskan untuk menyewakan mobilnya dan mau nganter jauh-jauh orang, beliau juga cerita kalau udah keliling kota karena pernah kerja di Jakarta, kemudian pindah kesana kemari, sampai-sampai beliau bilang "yaa mau gimana lagi toh mas, jalanan udah jadi kehidupan saya". Dulu, beliau adalah orang yang penakut, takut sama banyak hal, apalagi sama hantu-hantu gitu, kemudian nenek/ibunya (gue lupa) bilang, "kalau kamu jadi pemberani, kamu harus hidup di jalan", dan akhirnya beliau memutuskan untuk jadi supir dan menyewakan mobilnya. Padahal beliau udah punya anak dan istri tapi jadi sering ditinggal karena  ya balik lagi "yaa namanya juga usaha mas, mba, harus mau ngelakuin apa aja. Tapi bener  memang yang ibu/nenek (maaf gue masih lupa) bilang, saya jadi berani karena saya hidup di jalan. Jalanan udah ngajarin saya banyak hal. Wah cerita-cerita soal hantu juga udah ga aneh mas. Tapi ya saya makin biasa aja karena udah sering ngalamin kayak gitu". Gue yang tadinya setengah sadar jadi seger lagi demi mendengar cerita masnya. Jalan cerita manusia memang selalu unik, ada aja pembelajaran yang terselip di dalamnya

Basecamp Suwanting
Akhirnya kita ber-6 sampai juga di basecamp Suwanting, kalau ga salah jam 12an dan suasananya sepi banget. Di pos ga ada yang jaga, liat rumah-rumah yang lain juga sepi kayak lagi ga ada pendaki yang istirahat di sana, warganya juga ga ada. Gue akhirnya memutuskan untuk jalan ke beberapa rumah penduduk dan untungnya ketemu sama ibu-ibu yang lagi beresin warung, setelah ngobrol singkat akhirnya kami dianter ke basecamp yang cukup besar, letaknya di sebelah pos, mungkin ini semacam basecamp utama. Tapi setelah di buka pintunya juga sepi, ga ada orang sama sekali tapi ada makanan banyak banget. Selidik punya selidik, ternyata ba'da Isya itu desa suwanting baru aja ngadain acara maulid nabi dan setelah beres-beres acara warganya kelelahan dan langsung istirahat, makanya suasananya sepi.




Sampai di basecamp, kita langsung bersih-bersih, packing ulang nyiapin pendakian besok dan istirahat walaupun beberapa temen gue masih ada yang ngobrol sampai pagi karena mereka ga bisa tidur. Ahiya, padahal masih di kaki gunung nih ya, tapi dinginnya udah kebangetan, gue pun yang tidur kebangun berkali-kali karena ngerasa kedinginan.

Selasa, 10 Januari 2017
Pagi yang membahagiakan waktu gue tau kalau cuaca pagi itu cerah, warga sekitar juga mengabarkan kalau cuaca akhir-akhir ini lagi baik, ga ada badai, dan kalaupun hujan hanya sebentar dan tidak besar. Setelah beli makan nasi-ayam-sambel-sayur yang cuma Rp 9.000,- yampun-ini-murah-banget, gue dan lainnya bersiap-siap. Setelah Fikri ngurus perizinan, kita semua pemanasan singkat dan langsung melakukan perjalanan. Kami memulai pendakian sekitar pukul 08.00

Gaya dulu part 1

Gaya dulu part 2

cuaca Suwanting pagi hari
Pendakian Menuju Pos 1
Jalur pendakian menuju pos 1 jalanan berbatu di kawasan penduduk, kemudian masuk ke kebun sayuran. Trek awal cukup menanjak sedikit namun masih mudah. Tapi untuk gue yang harus bawa badan dan carrier, sebetulnya tetep aja melelahkan. 15 menit pertama pendakian selalu paling melelahkan karena diri gue masih beradaptasi dengan lingkungan. Karena treknya juga bukan tanah, ga tau kenapa gue selalu gampang cape kalau nemu trek gini, tapi gue tetep jalan aja sedikit-sedikit, kalau cape diem bentar beberapa detik ambil napas, terus jalan lagi, ketika temen-temen gue kayak Nbe Koli Site lagi lari-larian, gue dan Nanda yang paling gampang capek dan Fikri yang paling sabar nungguin kita. Setelah melewati kebun penduduk, kita mulai memasuki hutan pinus dan urutan jalan pun ganti jadi Fikri-Gue-Koli-Nanda-Nbe-Site


Berhubung cuaca panas, gue pake topi rimba. Udah gitu karena pas kita nanjak jarak kita dengan pendaki lainnya berjauhan, kita nyalain lagu yang terhubung ke speaker Nanda lewat bluetooh. Pendakian ini begitu....kekinian.

Pos 1!
Istirahat bentar di pos 1
yey checkpoint!

Hutan Pinus Pos 1
Oia, gue lupa pos 1 ini namanya apa, tapi tanda-tanda udah mulai deket sama pos 1 ditandai dengan hutan pinus ini

Menuju Pos 2
Perjalanan menuju Pos 2 adalah drama bagian 1. Karena ternyata untuk menuju pos 2 kita harus melewati 4 lembah terlebih dahulu yang jaraknya cukup berjauhan

1: Lembah Gosong
Lembah pertamaa
Setelah beristirahat yang juga cuma sejenak karena jalan masih panjang dan gue juga memutuskan tidak mau duduk lama-lama karena kalau udah duduk lama biasanya stamina gue malah jadi turun, kita melanjutkan perjalanan. Treknya belum terlalu menanjak, hidup masih baik-baik saja di sini. Di Lembah Gosong, Fikri ngasih tongkat yang dia ambil dari ranting pohon itu ke gue, ceritanya pengganti Tracking Pole yang malah gue tinggal di kosan.

2 : Lembah Cemoro
Lembah kedua : Lembah Cemoro
View Kota mulai keliatan di sini
Semakin lama, treknya semakin menanjak. Tapi yaudah semangat aja. Kalau cape ya duduk bentar, minum, makan coki-coki atau makan madu juga boleh

Ngaso bentar
Gue lagi makan coki-coki malah nuduk
kalau udah kuat, yowes dilanjut perjalanannya, sambil Site nyalain lagu, sambil Fikri cerita, sambil liat pendaki yang juga istirahat

3: Lembah Ngrijan
Anaknya gunung banget

Itu yang digantung di carrier Site bukan terminal, tapi speaker

jalan masih panjang bung...tapi perut mulai keroncongan

istirahat sambil disuguhi pemandangan cantik
yak mangat Nan!

4 : Lembah Mitoh
Gue lepas carrier
di lembah ini kebetulan ada pos air, jadi kita ngisi perbekalan minum kita lagi. Fikri juga mulai banjur kepala karena cuaca makin panas, jarak tempuh rasanya udah jauh banget juga tapi kita belum juga nyampe. Sesuai dengan peta, harusnya lembah ini menjadi lembah terakhir sebelum pos 3. Di antara lembah yang lain, kita istirahat paling lama di sini, sekitar 30 menit dan ngeliat trek kalau pos 2 masih di atas gue ngerasa.....kenapa masih jauh banget..kenapa...kenapa ga sampe-sampe.

dan tenyata bener...treknya makin menyeramkan. Tanjakan curam, pijakan kaki yang ga begitu jelas, belum lagi kalau liat yang kanan dan kiri yang ada cuma jurang




Di bagian trek ini, pendaki yang berpapasan juga punya pertanyaan yang sama, kok ga sampe-sampe pos 2 ya?
Sampai akhirnya Fikri yang beraa paling depan teriak "Wei, udah pos 2 ini. Ayo semangat! Dikit lagi sampe. Kita istirahat di sini"

Pos 2!
Finally, jam sekitar jam 13.00 kita sampe di sini. Di pos ini akhirnya kita solat, makan, lurusin kaki, dan beberapa dari kita memutuskan untuk tidur sebentar





Pos 2 menuju Pos 3
Di sini bagian yang paling banyak drama. Setiap pendaki yang lewat terus kita tanya,"mas berapa lama sampai pos 3 dari sini?" pertanyaan mereka ada yang jawab 2 jam, ada yang 3 jam. Terus pas ditanya treknya ga senanjak trek 2. Jadi dengan informasi itulah gue dan yang lain menemukan optimisme kalau kita masih kuat dan bisa sampe puncak.
Tapi sayangnya yang terjadi ga kayak gitu.
Kita memutuskan mulai jalan lagi pukul 15.30. Istirahat yang cukup lama karena ada yang tidur, dan harus beres-beres dulu, alhasil menuju pos 3 dalam kondisi yang sangat sore.
Trek awal dari Pos 2 menuju Pos 3 hanya sedikit menanjak hingga lama-lama ketika vegetasinya semakin berbeda, treknya semakin menanjak, bahkan ada 3 tanjakan yang karena jalannya tanah licin disediakan tali untuk membantu nanjak. Gue mulai cemas karena cuaca makin gelap dan gue pribadi ga pernah melakukan pendakian gelap. Belum lagi ditambah lelah yang makin kerasa, udara yang makin dingin....gue yang semakin bertanya, "gue bisa ga ya?"

Semakin gelap, persiapan headlamp bung
Waktu lagi cape-capenya nemu tanjakan yang ga beres-beres dan bikin mikir lewat jalan yang mana yang enak dan nafas yang makin terengah-engah, ternyata ketika gue dan temen-temen membalikan badan, kita dikasih pemandangan yang kayak gini

Sunset di Suwanting
Di tengah pesimisnya bisa dapet sunrise besok pagi, Tuhan masih baik dengan memberi sunset yang mengiringi perjalanan.
Di trek ini juga karena treknya sangat menanjak dan semakin gelap, kita jarang-jarang foto di sini

masih berusaha
Kabut mulai menutupi
Di trek ini, jujur, gue banyak sekali mengeluh. Mengeluh karena tidak sampai-sampai, kemudian disaat teriak juga ga ada pendaki lain yang merespon. Koli udah mulai mengumpat karena bingung ini setelah ini harusnya udah sampai tapi nyatanya belum juga sampai. Gue juga sempet jatuh, yang lain juga banyak yang terpeleset. Kecepatan berjalan juga semakin lambat karena malam hari penerangan hanya bergantung pada headlamp. Dingin makin nusuk, kaki makin capek, diterpa angin kencang berkali-kali karena semakin tinggi semakin sedikit jumlah pohon tinggi, badan semakin pegel, tapi kita ga boleh berhenti. "Paksain yaaa, harusnya pos 3 bentar lagi".
Setelah melewati jalan yang memutar untuk menghindari tanjakan terjal yang mepet sama jurang, Fikri dan Site memutuskan jalan duluan, tujuannya untuk mastiin jalan dan langsung mendirikan tenda biar gue dan 3 temen gue yang lain setibanya di pos 3 tidak usah menunggu lama untuk bisa beristirahat.

Pos 3 : Dampo Awang
Setelah 4,5 jam perjalanan, yang bahkan orang lain bilang 3 jam, akhirnya pukul 20.00 kita sampe juga di POS 3. Fikri dan Site langsung membuat tenda karena cuaca semakin dingin. Sekitar pukul 22.30, setelah semua sudah ganti baju, sudah rapih-rapih, kita semua langsung tidur, kecuali Site yang makan dulu. Saking kecapeannya.

11 Januari 2017
Pagi harinya setelah diskusi, kita semua memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan ke Puncak demi mengejar kereta di Stasiun Lempuyungan jam 18.00. Karena pendakian kemarin berlangsung selama 12 jam dari jam 8 pagi sampai 8 malam dan itu hanya samapai pos 3, Fikri mengestimasi waktu kita turun kurang lebih 6 jam, belum lagi kita masih harus packing dan foto-foto. Jadi perjalanan gue dan temen-temen cukup sampai di pos 3, tapi karena udah tinggi (sekitar 2800-2900 mpdl), yha beda 300an meter dengan puncak, view di sini juga udah bagus banget. Bisa liat awan di bawah kaki, bisa liat Merapi dikelilingin awan, bisa liat Sindoro Sumbing dari kejauhan, ini pun tetep bikin perjalanan ke Merbabu antara yang pertama dna kedua tetep beda. 




Setelah kita ngobrol-ngobrol dengan penghuni tenda sebelah, ternyata cuaca di puncak kabarnya berkabut. Entah kenapa rasanya meredam keinginan gue karena masih penasaran dengan sabana merbabu, puncak suwanting, dan terutama puncak kenteng songo. Ini merbabu gue yang ke-2, tapi lagi-lagi gue masih belum kesampean untuk menyentuh puncak tertingginya. "Tujuan dari pendakian bukanlah puncak, melainkan pulang dengan selamat", ya bermodal dari kata-kata itu gue mencukupkan diri gue untuk tetap mensyukuri perjalanan ini menjadi momen berharga untuk cerita pendakian gue. 

Well guys, gue punya banyak makasih sama kalian







Sebuah perjalanan selalu mengajarkan gue banyak hal, terkhusus perjalanan yang tidak pernah mudah. Iya naik gunung salah satunya. Walaupun rasanya capek banget dan ga murah, tapi pasti ada aja orang yang selau ketagihan saat naik gunung. Bagi gue, alam selalu lebih jujur ketimbang manusia, dan alam selalu bisa memberi makna dari setiap langkah kaki : rasa syukur, bahwa manusia memang seharusnya menghamba setelah melihat betapa sempurna-tanpa-cacat ciptaan-Nya.
Gue juga selalu percaya, kalau selama perjalanan pendakian, sifat asli setiap orangnya bisa terlihat di sini ketika dihadapkan masalah, kesusahan, kesenangan, siapakah yang bersabar, siapakah yang lebih dahulu mengulurkan tangan, siapa saja yang pantang menyerah, siapa saja yang banyak berkeluh kesah...perjalanan ini seperti cermin yang menunjukkan siapa diri kita.
"Perjalanan adalah belajar melihat dunia luar, juga untuk melihat ke dalam diri. Pulang memang adalah jalan yang harus dijalani semua pejalan. Dari titik nol kita berangkat, kepada titik nol kita kembali. Tiada kisah cinta yang tak berbubuh noktah, tiada pesta yang tanpa bubar, tiada pertemuan tanpa perpisahan, tiada perjalanan yang tanpa pulang" (Agustinus Wibowo dalam Titik Nol)
Terima kasih sudah membantu gue menyelami diri selama perjalanan. Maaf merepotkan selama perjalanan....


dan terima kasih yang kedua kalinya untuk Merbabu karena sudah menggembleng gue se-gitunya untuk tetap percaya bahwa diri kita, nyatanya, mampu melampaui batas.

nb : btw temen gue juga ikut bercerita tentang perjalanannya, lengkap dengan tips naik gunung untuk pemula, please kindly visit Nadia's blog . Thanks! :)

28/01/17

Racau #3

Broken bottles in the hotel lobby
Seems to me like I'm just scared of never feeling it again
I know it's crazy to believe in silly things
But it's not that easy

I remember it now, it takes me back to when it all first started
But I've only got myself to blame for it, and I accept it now
It's time to let it go, go out and start again
But it's not that easy

But I've got high hopes, it takes me back to when we started
High hopes, when you let it go, go out and start again
High hopes, when it all comes to an end
But the world keeps spinning around

And in my dreams, I meet the ghosts of all the people who have come and gone
Memories, they seem to show up so quick but they leave you far too soon
Naïve I was just staring at the barrel of a gun
And I do believe that (Kodaline - high hopes)
Ini racauan ke-3 gue. Masih tentang yang sama. Mungkin rasanya bosan. Tapi berhubung blog ini bertumbuh bersama gue sejak tahun 2009, gue hanya ingin jujur dengan diri gue sendiri. Isi blog ini juga udah berisi hal-hal yang sangat gue senangi sampai hal yang gue hindari. Salah satunya ini : menutup sebuah cerita. Walaupun ini racauan yang ke-3, tapi gue punya harapan besar setelah menumpahkan semuanya: gue cukupkan di sini, semoga racau 3 menjadi akhir tentang cerita yang selalu membuat gue senang saat mengingatnya. Cerita ini, mungkin sudah saatnya diganti.

Menjadi bagian dari perjalanan seseorang ternyata....begitu membahagiakan
Walaupun hanya sebagai yang menemani, tapi pemaknaan-pemaknaan ini pada akhirnya gue temui dalam perjalanannya.

===

Hal ini baru gue sadari ketika gue memiliki deep sharing bersama salah satu teman terbaik gue di kuliah ketika kita duduk di kereta selama perjalanan dari stasiun UI - stasiun Bogor,

"Gue ga nyangka Reg, gue bisa bertahan sejauh ini. Gue baru sadar aja gue ternyata nemenin dia udah jauh banget. Dari bareng-bareng di Rosil, terus dia maju Ketua IMS, dia jadi BPH, dia jadi Ketua Cartala, dia ke Jerman, sampe dia akhirnya lolos KJI ternyata ada gue di sana, Reg"

Kemudian di tengah-tengah cerita temen gue, ada yang membuat gue tertegun. Gue teringat banyak hal. Gue  seperti diajak mundur ke belakang, ada memori yang memaksa untuk keluar, berharap dapat dikenang.
Melihat seseorang bertransformasi, menjalani akselerasi diri, mengalami pahit-manis, menemui banyak tanda tanya, menghapus batas, dan melawan takut, membuat gue sadar bahwa seseorang telah berubah sebegitunya. Seseorang yang pertama kali gue kenal seperti kecebong, penuh kepolosan, dan diajarkan caranya berenang, telah berubah menjadi katak besar yang mengajarkan bagaimana caranya melompat.
Sosoknya telah berubah menjadi magnet di antara paku, taman di tengah kota, ataupun perpustakaan di tengah kampus. Perubahan itu mengantarkan dia menjadi bagian terpenting, menjadi seseorang yang kehadirannya dibutuhkan. Pribadinya kini telah mampu mengajarkan banyak hal, menjadi tempat untuk bertanya, menjadi aktor utama dalam sebuah drama, menjadi sebaik-baiknya pemberi manfaat. Hanya saja gue tidak menyangka, perubahan ini begitu cepat.

Gue yang mengikuti langkah perubahannya bisa jadi belum berbuat banyak. Senyum saat lelah, kata-kata semangat di kala hari terasa berat, candaan ketika situasi tak menyenangkan, menjadi teman berbagi tanya, keluh, dan kesah : terdengar bukan hal besar dalam jangka waktu yang cukup singkat, namun menyisakkan banyak hal bagi gue.

Adalah gue yang belajar banyak dari perjalanan orang lain. Ikhlas dan sabar menjadi kata-kata yang harus gue repetisi di setiap saatnya. Gue ternyata tidak sesabar itu untuk menerima serta merta perubahan kondisi yang terjadi, gue juga tidak berhasil untuk tidak mengeluh sekalipun padahal gue paham bagaimana medannya, gue minta maaf untuk tidak bisa sekuat itu. Gue merasa tidak ada apa-apanya dibanding perjuangan temen gue untuk lebih melapangkan dadanya di situasi yang bisa jadi lebih terpuruk dari yang gue alami, dengan urai air mata, dengan berulang kali mengelus dada, dengan segala upaya untuk terus menerus mengerti, "Karena gue ga mungkin minta dia berubah, berarti harus gue yang berubah, Reg". Tapi percayalah, pernah jadi bagian perjuangan dari perjalanan dia benar-benar membuat diri gue seneng.

Melihat bagaimana hari-hari berlalu saat ini, rasanya semuanya sudah kembali normal, seperti obrolan, sikap, suasana, dan dia yang sangat menikmati dunianya. Dan gue....akan menyusul untuk siap mengukir cerita lainnya. 
"Dan janjiku, bukanlah janji matahari. Yang mampu terbenam untuk kembali terbit lagi." Gue nulis komen di bawah ini di salah salu postingan blog @deayel , secara gak sadar menyuarakan apa yang mungkin selama ini gue butuh dengar.
Aku juga banyak merenung, De. Tentang kata-kata "people come and go". Tapi, hidup adalah lingkaran besar tentang yang datang dan yang pergi. Kejadian perubahan, kedatangan, dan kepergian akan selalu berlari memutari lingkaran besar hidup itu untuk keberlangsungan hidup itu sendiri. Seperti bandara, gak akan beroperasi kalau gak ada kedatangan dan keberangkatan. Mati. Karena mungkin esensinya hidup ya... Memahami setiap yang datang dan yang pergi, entah itu orang atau pun kesempatan atau waktu.

Dan apakah benar bahwa ungkapan "the best will stay"? Mungkin benar. Tapi, sungguh, aku bakal lebih percaya ungkapan ini, "the best will come and go" sama seperti yang lainnya. Karena kembali lagi, hidup adalah lingkaran besar tentang yang datang dan yang pergi. But we will get used to this, karena hidup akan terus berjalan tanpa jeda, tidak ada lengan jam yang istirahat sedetik dan sedikitpun.
Dan meskipun "sometimes we grow apart" atau mengutip kata-kata dari manga favorit aku (bleach), "Along this world, we won’t stop moving forward. Not even if we become separated from one another." hati akan selalu menyimpan mereka (yang datang dan pergi) yang berarti. (Dikutip dari caption di salah satu post instagram @njriyani , orang yang selalu bisa merangkai kata dengan begitu ciamiknya)
Satu lagi, semakin dewasa, rasanya semakin takut untuk berjanji, karena kita tahu bahwa janji ga pernah main-main, bahwa bisa jadi kita tidak punya waktu untuk memenuhi janji kita sampai akhirnya dia bukan lagi jadi orang yang harus dipenuhi janjinya. Namun janji, tetaplah janji, tak pernah semurah itu.
Termasuk post ini. Gue ga bisa janji ini benar-benar yang terakhir. Ga ada yang tau. Namun setidaknya gue paham bahwa cerita pasti punya akhir, seneng atau sedih, ya cerita punya akhir. Gue berusaha menutupnya di racau ke #3, mencoba membuka mata lagi, menyambut semester 8 gue dengan semangat baru, dengan mimpi-mimpi baru, dengan langkah baru.....



...sembari melihat lurus ke depan. Jalan ini bisa jadi masih panjang, kemungkinan masih terbuka lebar, dan dunia masih sibuk menyambut hari yang silih berganti.

25/01/17

Sebungkus Cerita dari Semangkuk Indomie

"Kadang kau pikir, lebih mudah mencintai semua orang daripada melupakan satu orang. Jika ada seseorang terlanjur menyentuh inti janungmu, mereka yang datang kemudian hanya menemukan kemungkinan-kemungkinan" -Aan Mansyur

Mereka yang sulit membuka dirinya, akan juga sulit menutup masa lalunya. Tidak seperti gali lubang tutup lubang. Tidak semudah memasak air panas. Tidak sesederhana menghapus tulisan pada secarik kertas. Tidak secepat menghabiskan semangkuk indomie goreng dengan telur dan sawi pada atasnya. Rasa bukan mie instan, maupun ayam renyah pada restoran cepat saji. Semuanya berproses. Rasa seperti tumbuhan, semakin kau beri pupuk, semakin ia bertumbuh dan bersemi. Semuanya butuh waktu, entah cepat ataupun lambat. Tapi aku memilih lambat. Sesekali melawan waktu tak ada salahnya.

Ribuan kata yang tertulis telah menjelma menjadi imaji. Kau ada tapi tak ada. Kau nyata tapi tak bisa ku raba. Kau hadir namun tak tampak. Kau lenyap namun berjejak. Kau sekumpulan aksara pada cerita. Kau irama dalam nada. Kau untaian benang pada kemeja. Kau, bagian terpenting dari setiap momen yang tercipta. Kau, satu dari sekian kemungkinan.

Namun sayangnya baju tak bisa dipakai setiap hari, matahari tak bisa bersinar sepanjang pagi, roti tak bisa dibiarkan karena akan menjadi rumah bagi jamur dan bakteri. Ternyata aku, kau, kita, memutuskan untuk saling pergi. Berbalik arah, melawan kebiasaan, dan menerima keadaan, juga tidak seperti makan indomie yang habis dilahap dalam hitungan menit. Aku berpacu dalam waktu. Tapi tak usah tanya juaranya. Aku tetap menuju garis akhir meski tentu saja aku kalah telak.

Kalau kau tak ingin kembali, biarkan aku beraklimatisasi. Menikmati dingin, merasakan terpaan angin, agar aku kuat. Tennag saja, perjalanan  bersama kau bukan seperti indomie yang kenikmatannya terasa hanya sekejap. Kau, satu dari sekian yang berarti. Kau, telah mengukir banyak arti. Disini.