11/02/17

"List of Things to Do Before I Graduate College"

Beda.
Mungkin ini kata yang bisa mencakup bagaimana seminggu ini berjalan di kampus. Seminggu menjalani masa-masa sebagai semester 8, seminggu menjalani masa-masa menjadi orang yang sebentar lagi akan hengkang dari kehidupan kampus-yang-sangat-ia-nikmati.

Momen wisuda minggu lalu saat gue menghadiri PSB terakhir sebagai warga (InshaAllah) cukup membuat gue merenung banyak. Belum lagi temen-temen SMA gue yang lulus 3,5 tahun sukses membuat rotunda mendadak hangat karena menjadi momentum reuni sederhana demi melihat kawan seperjuangannya memakai toga. Buket bunga, bingkisan, coklat, hadiah, sampai kehadiran orang-orang yang datang jauh-jauh dari berbagai penjuru dan berangkat pagi dan langsung pulang malamnya cuma demi dateng wisuda, tidak lain memberikan pemaknaan bahwa perjuangan dan persiapan hadiah memang demi menambah bahagia di hari bahagia dari perjalanan panjangnya selama kuliah, demi bisa mengukir senyum kawan terbaiknya. Di tengah hiruk-pikuk hari bahagia teman-teman gue menyandang gelar sarjana, tanpa sengaja kata-kata ini terlontar "doakan gue Agustus menyusul ya". 


Kemarin, yang jadi puncak acara PSB yaitu gathering, saat gue dan teman-teman angkatan gue foto tiba-tiba terlintas untuk bikin video singkat. Ketika semua orang lagi sibuk maju ke depan untuk persiaan foto acara antara wisudawan dengan seluruh warga, ada suara-suara yang memecah keributan, "sampai jumpa di PSB genap, aamiin"
Kata-kata yang penuh pengharapan, bukan?
"The trouble is you think you have time" - Buddha
Sering kita menganggap bahwa waktu kita masih banyak dan masih panjang. "Iya, besok deh", "Ah entar juga keburu", "Iya nanti juga bisa". Nyatanya persentase kegagalan itu selalu ada. Dari gue dulu di IMS ketika harus merencankan sesuatu, ketika dihadapkan pada masalah, dan pertanyaan orang-orang be like "terus gimana?" seakan-akan gue sedang diajak mikir di tempat dan ga jarang juga solusi muncul dari obrolan tidak disengaja, dengan kata-kata yang paling sering direpitisi "pikirin dari sekarang" yang artinya waktu lo ga banyak, 24 jam itu singkat, bro.

Setahun memegang timeline yang harus dipantau tidak hanya perbulan, bahkan perminggu, dan terus dijaga tiap harinya membuat gue semakin menghargai waktu, membuat gue untuk terus mikirin nanti gimana dan seterusnya. Termasuk untuk bisa menjalani rare-moment, dari mulai mengiyakan ajakan temen mendadak di hari-H untuk kasih surprise ke temen SMA yang 3 tahun udah ga ketemu, mengiyakan titipan masukin cawan ke oven untuk persiapan nge-lab untuk penelitian, mengiyakan ajakan temen fakultas sebelah makan ke Bu Ani karena katanya lagi pengen Bu Ani, dan hal-hal lainnya yang jarang gue lakukan dan belum tentu bisa gue lakukan nanti. Hal-hal yang-gue pengen banget bantu lo selagi kita masih sering ketemu sekarang.

Di tengah perbedaan hawa yang gue rasakan di kampus, ketika gue lebih sering nyebut kata-kata "ke lab lingkungan" dibanding "ke kantek", "mau ketemu Bu Andari" (pembimbing akademis sekaligus pembimbing skripsi) , dibanding "mau ketemu adek asuh", gue iseng-iseng (tapi semoga dijalaninnya ga iseng-iseng) bikin di buku catatan gue, judulnya keren sih

"List of Things to Do Before I Graduate College"

Isinya macem-macem. Dari mulai yang serius sampe yang cuma lucu-lucuan, dari yang kayak

- makan di semua kantin fakultas
dan untungnya hanya tersisa beberapa fakultas yang gue harus datangi

-naik spekun bener-bener keliling UI

-foto di depan tulisan Universitas Indonesia (yang deket gerbatama UI, di depan danau)

-jadi asisten lab dan tubes  #eeak

sampai ke

- publikasi ilmiah

- nemenin adek asuh jadi BPH dan proses penerimaan sebagai kakak

dan yang ada di nomer 1,

- menyampaikan apa yang harus disampaikan

dan masih banyak list-list lainnya yang bisa gue kejar selagi status mahasiswa-yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan banyak hal-terganti dengan sendirinya.
"Kids, you can't cling to the past. Because no matter how tightly you hold on, it's already gone"-How I Met Your Mother
Carpe diem,
rendah hatilah manusia yang menghayatinya

03/02/17

Catatan Perjalanan : Merbabu yang Ke-2

"Bagiku, petunjuk alam itu adalah bahwa tak ada yang tak mungkin dalam perjalanan. Sesungguhnya, tak ada kebetulan yang benar - benar kebetulan. Setiap pertemuan dan perpisahan itu sudah ada yang mengatur, sudah menjadi guratan nasib. Hubungan anak dan ibunya adalah perjodohan. Hubungan suami dengan istri, hubungan antara anjing dengan tuannya, semua adalah produk perjodohan" -Agustinus Wibowo dalam Titik Nol
Hai! Ya akhirnya kali ini postingan gue kembali normal. Setelah dari kemarin kerjaan gue adalah meracau, kali ini gue mau cerita sekaligus sedikit berbagi (ceilah) tentang cerita pendakian gue ke Gunung Merbabu.

Berhubung sekarang gue lagi libur semester, gue memutuskan untuk mengiyakan ajakan naik gunung temen-temen peer gue sewaktu SMP. Selain gue emang lagi kangen banget naik gunung, gue juga sadar kalau liburan semester kali ini akan gue habiskan di lab, alhasil gue kabur sejenak dari rutinitas lab dan memutuskan pergi ke Gunung Merbabu.

Sejujurnya pendakian gue ke Merbabu kali ini adalah yang kedua kalinya. Pendakian pertama gue lakukan Februari 2016 via Wekas dan turun Wekas (cerita pendakiannya juga ada di post gue yang sebelumnya), sedangkan pendakian kali ini gue dan teman-teman memutuskan untuk melalui jalur Suwanting yang katanya (katanya loh ya) relatif singkat tapi punya pemandangan yang tetep juara.

and here's my story....

9 Januari 2017
Jadi kita semua sepakat janjian di Stasiun Pasar Senen jam 11. Oia gue kenalin dulu siapa aja squad Merbabu gue kali ini
Nbe-Fikri-Gue-Site-Nanda (dari kiri ke kanan)
Jadi kondisinya gini, Nbe Site Fikri berangkat dari stasiun Bogor, gue naik dari stasiun UI tapi alhamdulillahnya gue tetep satu gerbong sama mereka, dan Nanda nyusul ke stasiun karena harus ke kampus buat ngurus wisuda. Ini foto diambil dengan kondisi terburu-buru karena Nanda dateng amat sangat mepet dengan jam keberangkatan kereta, sekitar 8 menit sebelum kereta berangkat dan kita masih harus melalui pengecekan dan bodohnya kita salah loket, tapi untungnya mba-mbanya sangat kooperatif ngasih jalan pintas ke kita untuk pindah loket dan pengecekan tiket kita ga disertai pengecekan KTP karena mba-mbanya takut kita ketinggalan. Setelah 5 tiket di-scan kita ber-5 lari lewat underpass turun tangga terus naik lagi dengan bawa carrier. Rasanya kayak dipaksa pemanasan duluan tapi alamdulillah kita ber-5 berhasil masuk ke kereta dan tepat setelah kita duduk keretanya berangkat. Ceritanya mirip sama 5 cm, waktu Ian (yang berbadan paling besar diantara geng mereka) telat dan bikin yang lainnya khawatir dan bikin lari-larian karena nyaris ketinggalan kereta. Tapi yaudahlah, niat untung menyamakan kita dengan pemain 5 cm gue cukupkan ketika gue bingung harus memerankan Raline atau Pevita. Kandas sudah niat itu.

Di kereta, gue duduk bersebalahan dengan Fikri dan depan gue adalah Nbe dengan ibu-ibu yang mau pulang kampung dan cukup banyak mengajak kami ngobrol, apalagi waktu tau kalau Fikri kuliah di kedokteran, she was amazed and curious, ngomong kalau doter hidup enak dan segala macem, padahal sebelumnya pas di Uber dari Manggarai menuju Pasar Senen melewati RSCM, Fikri cerita gimana dia kuliah, gimana ekspektasi orang-orang terhadap dokter, gimana pandangan orang-orang yang kalau jadi dokter mah hidup terjamin dan bahagia, padahal di balik itu semua ada banyak jerih payah, ada hal-hal kultural yang ga semua orang tau, gimana beban kuliah, gimana ketemu dokter senior, sampai lama-lama biasa aja ngeliat orang berdarah-darah dan makin biasa lagi denger kabar duka. Belum lagi kuliah lama, harus mengabdi dulu, terus kalau kuliah buat spesialis ga makan biaya dikit, yaaa intinya perjalanannya ga mudah, ga kayak yang banyak (ga banyak juga sih, cukup banyak) orang liat secara kasat mata. Oia Site sama Nanda duduk di bangku sebrang kita bertiga.



Di perjalanan sebetulnya gue dan yang lain cukup khawatir karena cuaca di luar hujan dan takut kalau pendakian besok juga diguyur hujan. Ya namanya juga mendaki di musim hujan, harus siap sedia aja.

Stasiun Kutoarjo
Setelah sekitar 7,5 jam di kereta, akhirnya kita sampai juga. Pertama kali sampai sini gue bingung, ini stasiunnya kok sederhana ya, dan sepi juga gitu. Sampai akhirnya kita bertanya-tanya Kutoarjo tuh nama apa ya? Kota? Kabupaten? Kecamatan? Apa ya?
Sesampainya di sini, karena kita bawa carrier segede alaihim gambreng, langsung deh kita ditanya-tanya pake Bahasa Jawa yang please...gue ga ngerti masnya ngomong apa, tapi beruntungnya kita punya Koli! Oia Koli itu juga masuk squad pendakian Merbabu, tapi karena dia kuliahnya di UNS, dia berangkatnya dari Solo langsung ke Kutoarjo. Oia balik lagi, banyak banget orang yang nanyain kita mau naik gunung apa, ke basecamp yang mana, nawarin tumpangan mobil dari pick up, taxi, sampai xenia, bahkan kita dikejar-kejar pas kita bilang mau diksusi, diliatin sama orang-orang sini sambil ditungguin diskusi Well, sejujurnya ga enak banget. Tapi ya itu yang selalu gue rasakan ketika jadi pelancong ke kota lain, apalagi dengan logat beda, masih muda, bawa gembolan/tas gede, tampang celingukan, terus ditanya "dari mana?" terus di jawab dari "Bogor/Depok/jakarta" yang bagi mereka nun-jauh di sana, gue merasa seperti sasaran empuk untuk ditawari berbagai moda transportasi dengan harga yang kadang bikin gue "hah? mahal banget!!!"
Setelah sejam mondar-mandir sana-sini dengan ngeles bilang mau cari makan, kita memutuskan untuk mengiyakan tawaran mas-mas pertama dateng, yaitu dengan mobil Xenia kami ber-6 bayar Rp 500.000,- dari Stasiun Kutoarjo sampai ke depan basecamp Suwanting yang jalannya aja udah nanjak.

Di Stasiun Kutoarjo, abis solat, lengkap!
Setelah semua carrier diiket di atas mobil dan ditutup fly sheet karena malem itu cuaca mendung, kita memutuskan untuk makan malem dulu di tempat yang khas dari kota ini. Akhirnya kita dibawa ke alun-alun Purworejo sambil makan ayam bakar karena harganya murah, tapi untuk suasananya tetep dapet kok. Selesai makan, kita lanjutin perjalanan yang katanya menghabiskan waktu kurang lebih 2-3 jam untuk sampai ke basecamp Suwanting yang ada di antara Magelang dan Boyolali.
Beruntungnya, kita dapet supir yang dia emang udah biasa banget bawa orang-orang naik gunung, apalagi gunung Merbabu. Beliau cerita kenapa akhirnya dia memutuskan untuk menyewakan mobilnya dan mau nganter jauh-jauh orang, beliau juga cerita kalau udah keliling kota karena pernah kerja di Jakarta, kemudian pindah kesana kemari, sampai-sampai beliau bilang "yaa mau gimana lagi toh mas, jalanan udah jadi kehidupan saya". Dulu, beliau adalah orang yang penakut, takut sama banyak hal, apalagi sama hantu-hantu gitu, kemudian nenek/ibunya (gue lupa) bilang, "kalau kamu jadi pemberani, kamu harus hidup di jalan", dan akhirnya beliau memutuskan untuk jadi supir dan menyewakan mobilnya. Padahal beliau udah punya anak dan istri tapi jadi sering ditinggal karena  ya balik lagi "yaa namanya juga usaha mas, mba, harus mau ngelakuin apa aja. Tapi bener  memang yang ibu/nenek (maaf gue masih lupa) bilang, saya jadi berani karena saya hidup di jalan. Jalanan udah ngajarin saya banyak hal. Wah cerita-cerita soal hantu juga udah ga aneh mas. Tapi ya saya makin biasa aja karena udah sering ngalamin kayak gitu". Gue yang tadinya setengah sadar jadi seger lagi demi mendengar cerita masnya. Jalan cerita manusia memang selalu unik, ada aja pembelajaran yang terselip di dalamnya

Basecamp Suwanting
Akhirnya kita ber-6 sampai juga di basecamp Suwanting, kalau ga salah jam 12an dan suasananya sepi banget. Di pos ga ada yang jaga, liat rumah-rumah yang lain juga sepi kayak lagi ga ada pendaki yang istirahat di sana, warganya juga ga ada. Gue akhirnya memutuskan untuk jalan ke beberapa rumah penduduk dan untungnya ketemu sama ibu-ibu yang lagi beresin warung, setelah ngobrol singkat akhirnya kami dianter ke basecamp yang cukup besar, letaknya di sebelah pos, mungkin ini semacam basecamp utama. Tapi setelah di buka pintunya juga sepi, ga ada orang sama sekali tapi ada makanan banyak banget. Selidik punya selidik, ternyata ba'da Isya itu desa suwanting baru aja ngadain acara maulid nabi dan setelah beres-beres acara warganya kelelahan dan langsung istirahat, makanya suasananya sepi.




Sampai di basecamp, kita langsung bersih-bersih, packing ulang nyiapin pendakian besok dan istirahat walaupun beberapa temen gue masih ada yang ngobrol sampai pagi karena mereka ga bisa tidur. Ahiya, padahal masih di kaki gunung nih ya, tapi dinginnya udah kebangetan, gue pun yang tidur kebangun berkali-kali karena ngerasa kedinginan.

Selasa, 10 Januari 2017
Pagi yang membahagiakan waktu gue tau kalau cuaca pagi itu cerah, warga sekitar juga mengabarkan kalau cuaca akhir-akhir ini lagi baik, ga ada badai, dan kalaupun hujan hanya sebentar dan tidak besar. Setelah beli makan nasi-ayam-sambel-sayur yang cuma Rp 9.000,- yampun-ini-murah-banget, gue dan lainnya bersiap-siap. Setelah Fikri ngurus perizinan, kita semua pemanasan singkat dan langsung melakukan perjalanan. Kami memulai pendakian sekitar pukul 08.00

Gaya dulu part 1

Gaya dulu part 2

cuaca Suwanting pagi hari
Pendakian Menuju Pos 1
Jalur pendakian menuju pos 1 jalanan berbatu di kawasan penduduk, kemudian masuk ke kebun sayuran. Trek awal cukup menanjak sedikit namun masih mudah. Tapi untuk gue yang harus bawa badan dan carrier, sebetulnya tetep aja melelahkan. 15 menit pertama pendakian selalu paling melelahkan karena diri gue masih beradaptasi dengan lingkungan. Karena treknya juga bukan tanah, ga tau kenapa gue selalu gampang cape kalau nemu trek gini, tapi gue tetep jalan aja sedikit-sedikit, kalau cape diem bentar beberapa detik ambil napas, terus jalan lagi, ketika temen-temen gue kayak Nbe Koli Site lagi lari-larian, gue dan Nanda yang paling gampang capek dan Fikri yang paling sabar nungguin kita. Setelah melewati kebun penduduk, kita mulai memasuki hutan pinus dan urutan jalan pun ganti jadi Fikri-Gue-Koli-Nanda-Nbe-Site


Berhubung cuaca panas, gue pake topi rimba. Udah gitu karena pas kita nanjak jarak kita dengan pendaki lainnya berjauhan, kita nyalain lagu yang terhubung ke speaker Nanda lewat bluetooh. Pendakian ini begitu....kekinian.

Pos 1!
Istirahat bentar di pos 1
yey checkpoint!

Hutan Pinus Pos 1
Oia, gue lupa pos 1 ini namanya apa, tapi tanda-tanda udah mulai deket sama pos 1 ditandai dengan hutan pinus ini

Menuju Pos 2
Perjalanan menuju Pos 2 adalah drama bagian 1. Karena ternyata untuk menuju pos 2 kita harus melewati 4 lembah terlebih dahulu yang jaraknya cukup berjauhan

1: Lembah Gosong
Lembah pertamaa
Setelah beristirahat yang juga cuma sejenak karena jalan masih panjang dan gue juga memutuskan tidak mau duduk lama-lama karena kalau udah duduk lama biasanya stamina gue malah jadi turun, kita melanjutkan perjalanan. Treknya belum terlalu menanjak, hidup masih baik-baik saja di sini. Di Lembah Gosong, Fikri ngasih tongkat yang dia ambil dari ranting pohon itu ke gue, ceritanya pengganti Tracking Pole yang malah gue tinggal di kosan.

2 : Lembah Cemoro
Lembah kedua : Lembah Cemoro
View Kota mulai keliatan di sini
Semakin lama, treknya semakin menanjak. Tapi yaudah semangat aja. Kalau cape ya duduk bentar, minum, makan coki-coki atau makan madu juga boleh

Ngaso bentar
Gue lagi makan coki-coki malah nuduk
kalau udah kuat, yowes dilanjut perjalanannya, sambil Site nyalain lagu, sambil Fikri cerita, sambil liat pendaki yang juga istirahat

3: Lembah Ngrijan
Anaknya gunung banget

Itu yang digantung di carrier Site bukan terminal, tapi speaker

jalan masih panjang bung...tapi perut mulai keroncongan

istirahat sambil disuguhi pemandangan cantik
yak mangat Nan!

4 : Lembah Mitoh
Gue lepas carrier
di lembah ini kebetulan ada pos air, jadi kita ngisi perbekalan minum kita lagi. Fikri juga mulai banjur kepala karena cuaca makin panas, jarak tempuh rasanya udah jauh banget juga tapi kita belum juga nyampe. Sesuai dengan peta, harusnya lembah ini menjadi lembah terakhir sebelum pos 3. Di antara lembah yang lain, kita istirahat paling lama di sini, sekitar 30 menit dan ngeliat trek kalau pos 2 masih di atas gue ngerasa.....kenapa masih jauh banget..kenapa...kenapa ga sampe-sampe.

dan tenyata bener...treknya makin menyeramkan. Tanjakan curam, pijakan kaki yang ga begitu jelas, belum lagi kalau liat yang kanan dan kiri yang ada cuma jurang




Di bagian trek ini, pendaki yang berpapasan juga punya pertanyaan yang sama, kok ga sampe-sampe pos 2 ya?
Sampai akhirnya Fikri yang beraa paling depan teriak "Wei, udah pos 2 ini. Ayo semangat! Dikit lagi sampe. Kita istirahat di sini"

Pos 2!
Finally, jam sekitar jam 13.00 kita sampe di sini. Di pos ini akhirnya kita solat, makan, lurusin kaki, dan beberapa dari kita memutuskan untuk tidur sebentar





Pos 2 menuju Pos 3
Di sini bagian yang paling banyak drama. Setiap pendaki yang lewat terus kita tanya,"mas berapa lama sampai pos 3 dari sini?" pertanyaan mereka ada yang jawab 2 jam, ada yang 3 jam. Terus pas ditanya treknya ga senanjak trek 2. Jadi dengan informasi itulah gue dan yang lain menemukan optimisme kalau kita masih kuat dan bisa sampe puncak.
Tapi sayangnya yang terjadi ga kayak gitu.
Kita memutuskan mulai jalan lagi pukul 15.30. Istirahat yang cukup lama karena ada yang tidur, dan harus beres-beres dulu, alhasil menuju pos 3 dalam kondisi yang sangat sore.
Trek awal dari Pos 2 menuju Pos 3 hanya sedikit menanjak hingga lama-lama ketika vegetasinya semakin berbeda, treknya semakin menanjak, bahkan ada 3 tanjakan yang karena jalannya tanah licin disediakan tali untuk membantu nanjak. Gue mulai cemas karena cuaca makin gelap dan gue pribadi ga pernah melakukan pendakian gelap. Belum lagi ditambah lelah yang makin kerasa, udara yang makin dingin....gue yang semakin bertanya, "gue bisa ga ya?"

Semakin gelap, persiapan headlamp bung
Waktu lagi cape-capenya nemu tanjakan yang ga beres-beres dan bikin mikir lewat jalan yang mana yang enak dan nafas yang makin terengah-engah, ternyata ketika gue dan temen-temen membalikan badan, kita dikasih pemandangan yang kayak gini

Sunset di Suwanting
Di tengah pesimisnya bisa dapet sunrise besok pagi, Tuhan masih baik dengan memberi sunset yang mengiringi perjalanan.
Di trek ini juga karena treknya sangat menanjak dan semakin gelap, kita jarang-jarang foto di sini

masih berusaha
Kabut mulai menutupi
Di trek ini, jujur, gue banyak sekali mengeluh. Mengeluh karena tidak sampai-sampai, kemudian disaat teriak juga ga ada pendaki lain yang merespon. Koli udah mulai mengumpat karena bingung ini setelah ini harusnya udah sampai tapi nyatanya belum juga sampai. Gue juga sempet jatuh, yang lain juga banyak yang terpeleset. Kecepatan berjalan juga semakin lambat karena malam hari penerangan hanya bergantung pada headlamp. Dingin makin nusuk, kaki makin capek, diterpa angin kencang berkali-kali karena semakin tinggi semakin sedikit jumlah pohon tinggi, badan semakin pegel, tapi kita ga boleh berhenti. "Paksain yaaa, harusnya pos 3 bentar lagi".
Setelah melewati jalan yang memutar untuk menghindari tanjakan terjal yang mepet sama jurang, Fikri dan Site memutuskan jalan duluan, tujuannya untuk mastiin jalan dan langsung mendirikan tenda biar gue dan 3 temen gue yang lain setibanya di pos 3 tidak usah menunggu lama untuk bisa beristirahat.

Pos 3 : Dampo Awang
Setelah 4,5 jam perjalanan, yang bahkan orang lain bilang 3 jam, akhirnya pukul 20.00 kita sampe juga di POS 3. Fikri dan Site langsung membuat tenda karena cuaca semakin dingin. Sekitar pukul 22.30, setelah semua sudah ganti baju, sudah rapih-rapih, kita semua langsung tidur, kecuali Site yang makan dulu. Saking kecapeannya.

11 Januari 2017
Pagi harinya setelah diskusi, kita semua memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan ke Puncak demi mengejar kereta di Stasiun Lempuyungan jam 18.00. Karena pendakian kemarin berlangsung selama 12 jam dari jam 8 pagi sampai 8 malam dan itu hanya samapai pos 3, Fikri mengestimasi waktu kita turun kurang lebih 6 jam, belum lagi kita masih harus packing dan foto-foto. Jadi perjalanan gue dan temen-temen cukup sampai di pos 3, tapi karena udah tinggi (sekitar 2800-2900 mpdl), yha beda 300an meter dengan puncak, view di sini juga udah bagus banget. Bisa liat awan di bawah kaki, bisa liat Merapi dikelilingin awan, bisa liat Sindoro Sumbing dari kejauhan, ini pun tetep bikin perjalanan ke Merbabu antara yang pertama dna kedua tetep beda. 




Setelah kita ngobrol-ngobrol dengan penghuni tenda sebelah, ternyata cuaca di puncak kabarnya berkabut. Entah kenapa rasanya meredam keinginan gue karena masih penasaran dengan sabana merbabu, puncak suwanting, dan terutama puncak kenteng songo. Ini merbabu gue yang ke-2, tapi lagi-lagi gue masih belum kesampean untuk menyentuh puncak tertingginya. "Tujuan dari pendakian bukanlah puncak, melainkan pulang dengan selamat", ya bermodal dari kata-kata itu gue mencukupkan diri gue untuk tetap mensyukuri perjalanan ini menjadi momen berharga untuk cerita pendakian gue. 

Well guys, gue punya banyak makasih sama kalian







Sebuah perjalanan selalu mengajarkan gue banyak hal, terkhusus perjalanan yang tidak pernah mudah. Iya naik gunung salah satunya. Walaupun rasanya capek banget dan ga murah, tapi pasti ada aja orang yang selau ketagihan saat naik gunung. Bagi gue, alam selalu lebih jujur ketimbang manusia, dan alam selalu bisa memberi makna dari setiap langkah kaki : rasa syukur, bahwa manusia memang seharusnya menghamba setelah melihat betapa sempurna-tanpa-cacat ciptaan-Nya.
Gue juga selalu percaya, kalau selama perjalanan pendakian, sifat asli setiap orangnya bisa terlihat di sini ketika dihadapkan masalah, kesusahan, kesenangan, siapakah yang bersabar, siapakah yang lebih dahulu mengulurkan tangan, siapa saja yang pantang menyerah, siapa saja yang banyak berkeluh kesah...perjalanan ini seperti cermin yang menunjukkan siapa diri kita.
"Perjalanan adalah belajar melihat dunia luar, juga untuk melihat ke dalam diri. Pulang memang adalah jalan yang harus dijalani semua pejalan. Dari titik nol kita berangkat, kepada titik nol kita kembali. Tiada kisah cinta yang tak berbubuh noktah, tiada pesta yang tanpa bubar, tiada pertemuan tanpa perpisahan, tiada perjalanan yang tanpa pulang" (Agustinus Wibowo dalam Titik Nol)
Terima kasih sudah membantu gue menyelami diri selama perjalanan. Maaf merepotkan selama perjalanan....


dan terima kasih yang kedua kalinya untuk Merbabu karena sudah menggembleng gue se-gitunya untuk tetap percaya bahwa diri kita, nyatanya, mampu melampaui batas.

nb : btw temen gue juga ikut bercerita tentang perjalanannya, lengkap dengan tips naik gunung untuk pemula, please kindly visit Nadia's blog . Thanks! :)

28/01/17

Racau #3

Broken bottles in the hotel lobby
Seems to me like I'm just scared of never feeling it again
I know it's crazy to believe in silly things
But it's not that easy

I remember it now, it takes me back to when it all first started
But I've only got myself to blame for it, and I accept it now
It's time to let it go, go out and start again
But it's not that easy

But I've got high hopes, it takes me back to when we started
High hopes, when you let it go, go out and start again
High hopes, when it all comes to an end
But the world keeps spinning around

And in my dreams, I meet the ghosts of all the people who have come and gone
Memories, they seem to show up so quick but they leave you far too soon
Naïve I was just staring at the barrel of a gun
And I do believe that (Kodaline - high hopes)
Ini racauan ke-3 gue. Masih tentang yang sama. Mungkin rasanya bosan. Tapi berhubung blog ini bertumbuh bersama gue sejak tahun 2009, gue hanya ingin jujur dengan diri gue sendiri. Isi blog ini juga udah berisi hal-hal yang sangat gue senangi sampai hal yang gue hindari. Salah satunya ini : menutup sebuah cerita. Walaupun ini racauan yang ke-3, tapi gue punya harapan besar setelah menumpahkan semuanya: gue cukupkan di sini, semoga racau 3 menjadi akhir tentang cerita yang selalu membuat gue senang saat mengingatnya. Cerita ini, mungkin sudah saatnya diganti.

Menjadi bagian dari perjalanan seseorang ternyata....begitu membahagiakan
Walaupun hanya sebagai yang menemani, tapi pemaknaan-pemaknaan ini pada akhirnya gue temui dalam perjalanannya.

===

Hal ini baru gue sadari ketika gue memiliki deep sharing bersama salah satu teman terbaik gue di kuliah ketika kita duduk di kereta selama perjalanan dari stasiun UI - stasiun Bogor,

"Gue ga nyangka Reg, gue bisa bertahan sejauh ini. Gue baru sadar aja gue ternyata nemenin dia udah jauh banget. Dari bareng-bareng di Rosil, terus dia maju Ketua IMS, dia jadi BPH, dia jadi Ketua Cartala, dia ke Jerman, sampe dia akhirnya lolos KJI ternyata ada gue di sana, Reg"

Kemudian di tengah-tengah cerita temen gue, ada yang membuat gue tertegun. Gue teringat banyak hal. Gue  seperti diajak mundur ke belakang, ada memori yang memaksa untuk keluar, berharap dapat dikenang.
Melihat seseorang bertransformasi, menjalani akselerasi diri, mengalami pahit-manis, menemui banyak tanda tanya, menghapus batas, dan melawan takut, membuat gue sadar bahwa seseorang telah berubah sebegitunya. Seseorang yang pertama kali gue kenal seperti kecebong, penuh kepolosan, dan diajarkan caranya berenang, telah berubah menjadi katak besar yang mengajarkan bagaimana caranya melompat.
Sosoknya telah berubah menjadi magnet di antara paku, taman di tengah kota, ataupun perpustakaan di tengah kampus. Perubahan itu mengantarkan dia menjadi bagian terpenting, menjadi seseorang yang kehadirannya dibutuhkan. Pribadinya kini telah mampu mengajarkan banyak hal, menjadi tempat untuk bertanya, menjadi aktor utama dalam sebuah drama, menjadi sebaik-baiknya pemberi manfaat. Hanya saja gue tidak menyangka, perubahan ini begitu cepat.

Gue yang mengikuti langkah perubahannya bisa jadi belum berbuat banyak. Senyum saat lelah, kata-kata semangat di kala hari terasa berat, candaan ketika situasi tak menyenangkan, menjadi teman berbagi tanya, keluh, dan kesah : terdengar bukan hal besar dalam jangka waktu yang cukup singkat, namun menyisakkan banyak hal bagi gue.

Adalah gue yang belajar banyak dari perjalanan orang lain. Ikhlas dan sabar menjadi kata-kata yang harus gue repetisi di setiap saatnya. Gue ternyata tidak sesabar itu untuk menerima serta merta perubahan kondisi yang terjadi, gue juga tidak berhasil untuk tidak mengeluh sekalipun padahal gue paham bagaimana medannya, gue minta maaf untuk tidak bisa sekuat itu. Gue merasa tidak ada apa-apanya dibanding perjuangan temen gue untuk lebih melapangkan dadanya di situasi yang bisa jadi lebih terpuruk dari yang gue alami, dengan urai air mata, dengan berulang kali mengelus dada, dengan segala upaya untuk terus menerus mengerti, "Karena gue ga mungkin minta dia berubah, berarti harus gue yang berubah, Reg". Tapi percayalah, pernah jadi bagian perjuangan dari perjalanan dia benar-benar membuat diri gue seneng.

Melihat bagaimana hari-hari berlalu saat ini, rasanya semuanya sudah kembali normal, seperti obrolan, sikap, suasana, dan dia yang sangat menikmati dunianya. Dan gue....akan menyusul untuk siap mengukir cerita lainnya. 
"Dan janjiku, bukanlah janji matahari. Yang mampu terbenam untuk kembali terbit lagi." Gue nulis komen di bawah ini di salah salu postingan blog @deayel , secara gak sadar menyuarakan apa yang mungkin selama ini gue butuh dengar.
Aku juga banyak merenung, De. Tentang kata-kata "people come and go". Tapi, hidup adalah lingkaran besar tentang yang datang dan yang pergi. Kejadian perubahan, kedatangan, dan kepergian akan selalu berlari memutari lingkaran besar hidup itu untuk keberlangsungan hidup itu sendiri. Seperti bandara, gak akan beroperasi kalau gak ada kedatangan dan keberangkatan. Mati. Karena mungkin esensinya hidup ya... Memahami setiap yang datang dan yang pergi, entah itu orang atau pun kesempatan atau waktu.

Dan apakah benar bahwa ungkapan "the best will stay"? Mungkin benar. Tapi, sungguh, aku bakal lebih percaya ungkapan ini, "the best will come and go" sama seperti yang lainnya. Karena kembali lagi, hidup adalah lingkaran besar tentang yang datang dan yang pergi. But we will get used to this, karena hidup akan terus berjalan tanpa jeda, tidak ada lengan jam yang istirahat sedetik dan sedikitpun.
Dan meskipun "sometimes we grow apart" atau mengutip kata-kata dari manga favorit aku (bleach), "Along this world, we won’t stop moving forward. Not even if we become separated from one another." hati akan selalu menyimpan mereka (yang datang dan pergi) yang berarti. (Dikutip dari caption di salah satu post instagram @njriyani , orang yang selalu bisa merangkai kata dengan begitu ciamiknya)
Satu lagi, semakin dewasa, rasanya semakin takut untuk berjanji, karena kita tahu bahwa janji ga pernah main-main, bahwa bisa jadi kita tidak punya waktu untuk memenuhi janji kita sampai akhirnya dia bukan lagi jadi orang yang harus dipenuhi janjinya. Namun janji, tetaplah janji, tak pernah semurah itu.
Termasuk post ini. Gue ga bisa janji ini benar-benar yang terakhir. Ga ada yang tau. Namun setidaknya gue paham bahwa cerita pasti punya akhir, seneng atau sedih, ya cerita punya akhir. Gue berusaha menutupnya di racau ke #3, mencoba membuka mata lagi, menyambut semester 8 gue dengan semangat baru, dengan mimpi-mimpi baru, dengan langkah baru.....



...sembari melihat lurus ke depan. Jalan ini bisa jadi masih panjang, kemungkinan masih terbuka lebar, dan dunia masih sibuk menyambut hari yang silih berganti.

25/01/17

Sebungkus Cerita dari Semangkuk Indomie

"Kadang kau pikir, lebih mudah mencintai semua orang daripada melupakan satu orang. Jika ada seseorang terlanjur menyentuh inti janungmu, mereka yang datang kemudian hanya menemukan kemungkinan-kemungkinan" -Aan Mansyur

Mereka yang sulit membuka dirinya, akan juga sulit menutup masa lalunya. Tidak seperti gali lubang tutup lubang. Tidak semudah memasak air panas. Tidak sesederhana menghapus tulisan pada secarik kertas. Tidak secepat menghabiskan semangkuk indomie goreng dengan telur dan sawi pada atasnya. Rasa bukan mie instan, maupun ayam renyah pada restoran cepat saji. Semuanya berproses. Rasa seperti tumbuhan, semakin kau beri pupuk, semakin ia bertumbuh dan bersemi. Semuanya butuh waktu, entah cepat ataupun lambat. Tapi aku memilih lambat. Sesekali melawan waktu tak ada salahnya.

Ribuan kata yang tertulis telah menjelma menjadi imaji. Kau ada tapi tak ada. Kau nyata tapi tak bisa ku raba. Kau hadir namun tak tampak. Kau lenyap namun berjejak. Kau sekumpulan aksara pada cerita. Kau irama dalam nada. Kau untaian benang pada kemeja. Kau, bagian terpenting dari setiap momen yang tercipta. Kau, satu dari sekian kemungkinan.

Namun sayangnya baju tak bisa dipakai setiap hari, matahari tak bisa bersinar sepanjang pagi, roti tak bisa dibiarkan karena akan menjadi rumah bagi jamur dan bakteri. Ternyata aku, kau, kita, memutuskan untuk saling pergi. Berbalik arah, melawan kebiasaan, dan menerima keadaan, juga tidak seperti makan indomie yang habis dilahap dalam hitungan menit. Aku berpacu dalam waktu. Tapi tak usah tanya juaranya. Aku tetap menuju garis akhir meski tentu saja aku kalah telak.

Kalau kau tak ingin kembali, biarkan aku beraklimatisasi. Menikmati dingin, merasakan terpaan angin, agar aku kuat. Tennag saja, perjalanan  bersama kau bukan seperti indomie yang kenikmatannya terasa hanya sekejap. Kau, satu dari sekian yang berarti. Kau, telah mengukir banyak arti. Disini.


14/01/17

Road to Bachelor's Degree (1)

"Sebaik-baiknya skripsi adalah skripsi yang selesai"
Entah udah berapa kali gue baca kalimat tersebut bahkan dari gue mahasiswa tingkat I, sampai-sampai gue penasaran, emang orang skripsian tuh gimana sih?
Oia sebelum bahas skripsi, di jurusan gue, Teknik Lingkungan UI, kita sebagai mahasiswa diwajibakan untuk mengambil mata kuliah seminar dan metologi penelitian TL, ini matkul baru di tahun ini dan jumlah SKS-nya pun bertambah dari 1 menjadi 2 tapi rasanya bukan kayak 2 sks bung. Berkali-kali ripat rasanya.
Bedanya sama skripsi? jadi seminar itu membahas mengenai bab 1 2 3 (sebagian orang sampai bab 4) dari skripsi yang isinya latar belakang, tinjauan pustaka dan metodologi penelitian yang tujuannya agar latar belakang masalah yang kita angkat dan cara kita melakukan penelitian nantinya itu benar. Karena balik lagi, kalau dari film Rudy Habibie (eeaaakk) the key of engineering is problem solving. Jadi untuk memastikan masalahnya ada dan metode penyelesaiannya juga benar sebelum kita benar-benar melakukan penelitian.
Yang unik dari penelitian/tugas akhir (TA) gue dan temen-temen TL lainnya dibanding anak sipil (yang juga satu departemen) adalah waktu penelitian kita yang ga bisa singkat dan ga bisa pake kuesioner dan harus siap-siap merogoh kantong untuk dana ngelab, minjem alat maupun bikin rekator. Sebagai contoh, temen gue melakukan studi lysimeter dengan lama waktu penelitian 100 hari. Bayangin bung 100 hari udah kayak mengenang wafat seseorang...dan kalau metode lo salah dan baru ketahuan pas sidang skripsi...kelar idup lo.
Oia, seminar ini juga pake sidang. Di sipil untuk dapetin ST harus melewati 4x sidang, di lingkungan, untuk dapetin ST harus melewati 3x sidang, yaitu sidang tilang, sidang isbat, dan sidang paripurna.
Gak deng.
Pertama sidang Kerja Praktek. Ini sidang paling enak...soalnya bertiga/berdua. Ya setidaknya lo gak deg-degan sendirian gitu. Udah gitu dosen pengujinya bisa diprediksi.
Kedua sidang seminar. Nah ini sidang baru sendirian. Ini sidang yang baru aja gue rasain kemarin
Ketiga sidang skripsi. Belum, yang ini bakal ada di post berikutnya.

Menjelang Sidang Seminar
Walaupun peneilitian gue ini berkelompok, nama geng kita biodrying karena itu topik skripsi kita, walaupun udah baca beberapa jurnal, tapi tetep aja kita ber-4 sering mentok di beberapa hal. Ga beberapa deng, tapi banyak. Beruntungnya skripsi kita ini juga dilakuin oleh salah satu maha-siswa yang maha-pintar bagai titisan langit yang turun ke bumi untuk ngajarin kita ber-4 bocah ingusan yang kalau asistensi sama dosbing seringnya iya-iya aja dan pas diskusi baru nyadar kenapa kita iya-iya aja. Kalau skripsi kita itu laboratorium scale, kalau skripsi doi pilot scale di salah satu perusahaan. Jadi? udah ga diragukan ke-shahih-annya.
Ga sedikit masalah yang ditemuin padahal udah seminggu menjelang sidang. Mulai dari software yang baru kita tau untuk metode statistik, tiba-tiba ganti tujuan penlitian, maupun semua pertanyaan yang muncul dari kami ber-4. Sampai akhirnya hari-hari menjelang tahun baru ketika manusia di FT bisa diitung jari, kampus rasanya senyap ga seperti biasanya, obrolan kami ber-4 + kakak dewa ini masih berlanjut. Bukan karena kami sok-sok-an, tapi karena kami semakin sadar betapa banyak kurangnya kami menghadapi sidang seminar. 
Persiapan menjelang sidang tuh rasanya....ga cuma semangat yang naik turun. Tapi juga mood dan emosi. Sampai-sampai temen-temen gue komen "Reg kok lo tumben ga sumringah kayak biasanya?" "Reg, kenapa si cemberut mulu" atau lagi chat tiba-tiba dibalesnya "ngomel mulu". Untuk semua hal yang tidak berkenan selama masa-masa tersebut gue minta maaf. Gue sadar kalau menjelang sidang, gue menjadi kurang baik dalam menanggapi atau memberikan feedback baik lewat obrolan langsung maupun via chat. Kadang jawaban gue jadi sekenanya, seadanya, bales singkat yang seolah gue lagi eteb dan kayak ketus padahal biasanya gue kalau di chat suka heboh. Atau gue juga jadi baperan, jadinya sedih dan overthinking. Seriously, itu ga enak banget. Baik buat diri gue sendiri, maupun ke orang lain. Belum lagi deadline tubes yang makin mepet, mata kuliah S2 yang kadang gue ngerasa 'kok gue ga nangkep maksudnya ya?', dan 23 sks ini ternyata bikin gue harus bener-bener dewasa. Gak cuma manajemen waktu. Tapi juga pikiran, dan emosi. Gue pun ga nyangka bahwa per-seminaran ini ternyata cukup buat emosi naik turun dan bikin gue ngelus dada berkali-kali apalagi waktu kena 'evaluasi' dari dosbing, progress yang minim, semangat yang turun dan berkali-kali bikin gue menampar diri sendiri.

3 Januari 2017
Akhirnya hari ini tiba juga. Setelah semalaman gue dan temen-temen nginep bareng untuk menghadapi sidang. Gue chat mamah, bapbap, kakak, dan temen-temen gue agar gue dimudahkan untuk sidang. Gue juga harus menghadapi kendala dulu karena harus mengganti penguji satu jam sebelum gue sidang karena penguji utama tidak bisa hadir. Banyak hal yang gue khawatirkan sebelum sidang.
Sampai akhirnya, setelah melalui 33 menit sekian detik...gue keluar ruang ujian denga lega. Ya tentunya revisi-revisi itu ada. Tapi untuk sampai check point hari ini, gue bersyukur karena Allah Mahabaik, semesta mendukung gue di hari itu.
This too shall pass. Yang dikhawatirkan semenjak kemarin, yang dibayang-bayang dalam pikiran, yang disebut-sebut dalam doa di akhir solat akhirnya sudah dilewati. Alhamdulillah. Di hari itu gue resmi 2/3 ST.

Gue, setelah sidang

hadiah dari makhuk-makhluk kesayangan
Tiba-tiba di grup gemash, temen gue ngirim ini,

Dari: someone
Untuk: UI 2013

Pesan:
Sebentar lagi kita akan merasakan rindunya naik bikun. Rindunya makan di kantin. Rindunya bertemu dosen dan teman-teman. Rindunya terengah-engah mengerjakan skripsi. Rindunya sibuk organisasi. Rindunya menunggu nilai SIAK. Kita akan memulai fase baru yang lebih berat. Dunia kerja. Dunia pascakampus. Ketika kesalahan menjadi sulit untuk ditolerir. Ketika sebagian yang lain masih luntang-lantung mencari pekerjaan. Ketika lelah pulang bekerja seharian. 
Maka, nikmatilah satu semester terakhir ini :)
Dulu, pas gue lagi sibuk-sibuknya IMS di semester 5, gue melihat kakak-kakak gue yang biasanya sering gue ajak ngobrol di gazeb atau bercanda bareng di kantek, atau tw-tw di selasar, bahkan curhat colongan di tamtek perlahan-lahan mulai sulit gue temukan keberadaannya. Intensitas kita ketemu dan ngobrol ga sesering dulu, karena mereka mulai sibuk dengan penelitian mereka yang akhirnya gue paham memang banyak menguras waktu. Jadi sekalinya kita bisa ketemu, di kantek misalnya, gue selalu nyamperin mereka dan tanpa sadar bilang
"kak, kok lo udah mau lulus aja sih....jangan cepet-cepet lulus dong..nanti gue cerita sama siapa :') "
"Yah jangan ngomong gitu dong Reg...gue juga ga pengen cepet-cepet Reg...tapi sekarang tuh lo seakan-akan sedang berada pada titik dimana lo udah memulai, dan lo udah berjalan di tengah-tengah dan yang harus lo lakukan adalah ya menyelesaikan itu"
Terus sekarang gue ada di titik itu. Kegilaan kegiatan kampus beserta tetek bengeknya bikin gue punya banyak cerita baik di sipil, di teknik, maupun di UI. Padahal dari dulu gue mengindam-idamkan untuk punya gelar Sarjana Teknik dan ternyata (inshaAllah) satu langkah lagi nama belakang gue bertambah hurufnya.
Semester 8. Udah diujung ya ternyata :")

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Semoga Engkau senantiasa memberi penutup yang indah, penutup yang manis, dan penutup yang baik dari perjalanan panjang ini, dari perjuangan 4 tahun ini, dari ibadah ini. Perkenankan hamba Ya Rabb. Aaamiin. Aamiin. Allahumma Aamiin.