241011

by - Oktober 25, 2011

03.59 dini hari

*suara keyboard laptop* 
*klik klik klik*
 "Aaaa udah jam segini! keburu ga ya sampai kumpul pagi nanti."
"Aduh tugas harian belum sama sekali lagi!"

Gua kangen. Kangen banget malah.
Jam-jam segini tak segila biasanya. Tak sepanik biasanya. Tak setakut bisanya.
Buku biru yang tulisannya sering tak terbaca.
Map putih yang berisi hasil ketikan tangan gua selama dua minggu.
Iya, kangen...


Mungkin, ini sedikit pengakuan dari gua.


Selama gua OSIS SMP gua mengaku bahwa gua adalah seorang pekerja lapangan. Gua bukan konseptor, karena gua memang ga bisa mengonsep. Tapi di SMA, gua memang banyak belajar.
Dimulai dari MEKAH. Sewaktu koor.acara gua, a Arfie memberi amanah kepada gua menjadi anggota seksi acara, dan bukan hanya itu. Gua dijadikan PJ lombanya, dan diantara PJ PJ yang ada, gua kelas X sendiri. Gua kaget. 
Gua benar-benar diajar mandiri. Bahkan koor gua pun tidak memberikan ilmunya secara langsung, dan tidak memberikan data apapun kepada gua. Dari Januari kita udah ngumpul di sekret, gua dikasih tugas beserta deadlinenya yang menurut gua cukup dekat. Tapi ternyata gua bisa. Ya, gua bisa seorang diri dalam beberapa aspek disana.
Semenjak itu, di semua acara DKM gua ditempatkan di acara. Sampai saat gua menjadi koor acara TAKBIR dengan segala tuntutan dan perubahan yang ada, benar-benar membuat gua banyak belajar dan sabar. Juga dimana gua benar-benar menjadi seorang jembatan. Jembatan tunggal. Gua pun menjadi anggota acara SALAM, ditambah gua PJ akhwatnya, dan juga anggota acara KORMA. Aneh? Iya aneh. Gua juga ngerasa aneh. Tapi gua menyadari satu hal, ternyata gua pun ada kemampuan untuk mengonsep.


Dan sepanjang itu... Tentang dimana gua saat ini
Gua gak tau sejak kapan gua punya keinginan ada disana. Yang gua rasakan, teman-teman gua mendorong gua untuk ada disana. Mereka menyirami keinginan gua. Membuatnya terus tumbuh.
"Coba menjadi Kabid 1 tidak harus laki-laki, seperti di SMP." Pikiran gua saat itu.


4 hari gua diistirahatkan
Gua malah bingung mau ngapain. Sampai Qorib pernah bilang ke gua "Pengen ikutan baris ya gi? hahaha" Gua cuma diem ngeliat dia ketawa puas banget. Akhirnya gua mencari kesibukan. Gua yang menyimpan data mengenai 68 itu. 
Lagi. Sore hari di altar. Menyusun yang delapan. Gua bilang "Menurut gua, dia lebih cocok disitu bla bla bla Gua....pengen punya tempat kembali." Terkesan egois memang.
"Tapi gi, kita juga kan liat kebutuhan bla bla bla"
Gua mendengarkan.
Sampai salah satunya nyeletuk "Gimanapun juga, kita kembalinya bakal ke lu lagi gi."
Gua lagi-lagi cuma bisa diem.


Sampai akhirnya masa 2 minggu itu datang.
Terlalu banyak hal yang diluar perkiraan gua. Gua memang orang yang mempunyai kemampuan motorik tidak begitu baik. Gua jarang sekali menggunting, menempel. Tulisan gua suka-suka banget. Iya gua sering menggambar, tapi semuanya abstrak, bentuknya tak pernah gua kenali. Sekalipun jelas, itu hanya gambar gedung impian gua. Udah.
Kesehatan gua ngedrop. Selama tahun 2011 gua belum pernah ga masuk sekolah. Dan sepanjang rentetan MOPDB, SALAM, MENARA, TAKBIR, regen DKM, regen OSIS gua ga sakit-sakit. Gua bingung kenapa. Dan efeknya? gua emang ga sakit, tapi gua ga bisa terjaga lebih lama dari biasanya. Gua susah fokus. Gua gampang ketiduran. Gua kesel sama diri gua sendiri. Gua jauh menurun dibanding fase-fase sebelumnya. Gua mempertanyakan diri gua lagi untuk ada disana, 'yakin gi dengan lu yang kayak gini ada disana?'


Di hari Selasanya gua ga kuat untuk ke sekolah. Gua istirahat total di rumah. Gak banyak yang gua kerjakan. Di Hari Rabunya, gua malah kecelakaan motor. Gua pulang, diurut, dan dikasih obat yang efek sampingnya bikin ngantuk. Gua tertidur. Jam 2 gua bangun, gua nangis, kesel. Merasa sangat tidak produktif. Gua membaca 3 halaman kertas itu. Ternyata masih banyak yang harus gua lakukan.
Dengan waktu yang tinggal segini.


Gua sempet kesel. Semakin hari gua semakin merasa asing dan aneh. Gua kangen diri gua. Gua kangen abstraknya gua, berantakannya gua, asalnya gua. Entah kenapa gua sangat melawan. Sampai-sampai gua pernah bilang, selama itu tidak menyusahkan gua dan merugikan orang lain, gua bakal tetep kayak gini!
Tapi toh gua juga nemu jawabannya sendiri.
Jika dengan cara ini bisa lebih baik, kenapa engga gi?


Juga saat dimana gua tidak yakin.
Kenapa gua ngerasa ini sulit banget?
Gua benar-benar merasa di titik nadir dan bingung harus ke siapa.
Pembicaraan dengan salah satu teman "Inget ga waktu temen2 bilang antara gua dan lu. Kelebihan gua dibanding lu cuma di emosi, tapi untuk kemampuan, lu lebih dari gua.."


Gua yang nyemplung ke tempat lain. Kumpul informal yang ga pernah absen. Filosofi stir dan ban..
sms sms yang selalu datang
"Gi ada dimana? ikut ke rumah faza kan?"
"Gi, ada ide ga buat ID?"
"Gi, punya ide lain ga untuk lambang?"
"Lu bisa kok gi, beneran deh"
Tentang harapan, percaya, dan keyakinan. Mereka yang seperti itu ke gua, dan pada saat itu gua cuma bisa teriak dalam hati 'gua gak sebegitunya kok....' 'jangan berharap banyak ya dari gua...'


Sampai akhirnya gua mencoba membuka lagi.
23 orang yang hadir di XII IPA 3. Jawaban hasil wawancara yang benar-benar membuat gua.. 'Gua seharusnya besyukur dapet kesempatan ini'


Makasih atas sambutannya, SMANSA.
Semuanya sudah cukup.
Sangat banyak hal yang gua temui selama perjalanan itu.
Cukup sampai malam itu.
Dan dua pesan yang bisa gua buka kapanpun.


Penutup simulasi hari itu..
'Kalau kalian bingung dan butuh apapun, tanya gua aja ya. Tetap semangat ya teman-teman.




Meriam Baja juga bisa kok.... :) '


Dan gua gak butuh siapapun lagi untuk meyakinkan gua.


14.42
25  Oktober 2011
dibawah abu-abunya langit sore
akhirnya  semuanya tertumpahkan
di depan kelas  sang anak yang  dulunya milik sang ayah

You May Also Like

0 komentar