Jogja

by - Februari 27, 2012

Sekian jam sepulangnya mengelilingi Pulau Jawa

Stuba menuju timur Jawa melewati puluhan Kota
Termasuk Jogjakarta

Stuba pertama dan terakhir kalinya di smansa kali ini bukan hanya mendapatkan : mendapatkan pengalaman, mendapatkan pelajaran, mendapatkan teman
ataupun menghilang : menghilang sejenak dari amanah, menghilang dari rumah, menghilang dari sekolah
tapi juga mengenang
dan (masih) tentang Jogjakarta

Saya tak pernah mencoba untuk kembali membuka isi koper yang telah saya lipat rapih-rapih dan saya simpan di pojok ruangan
dihujani debu dan tikus yang menemani pun biasa saja, tak perlu dikhawatirkan
tapi perjalanan ini mengisyaratkan saya bahwa sedikit mengingat tak ada salahnya
sampai akhirnya segalanya jatuh...terlalu dalam

cerita lalu, cerita yang menjadi kebanggan untuk saya, cerita yang kasetnya masih utuh
layaknya baru beli di Pasar Bogor tadi siang

Jogja yang pertama
Jangan instruksikan saya untuk mengingat pun, saya masih mengenal plotnya
temanya
latarnya
dan juga pelakunya
Jogja yang mengenalkan saya pada...ya pada...pada apapun yang bisa saya simpan sebagai cerita
segala bentuk ke-tidak-sengaja-an yang telah dilalui di kota yang nun jauh disana
dan melupakan jauh apa yang sedang dijalani pada waktu itu disini
semua menunjuk saya sebagai antagonis dan saya terima
atau nenek sihir dalam acara misteri gunung berapi
atau ibu tiri pada cerita bawang merah bawang putih
saya tau. saya salah
terlebih yang membuat semakin salah adalah saya menganggap semoga segalanya menjadi baik-baik saja dengan sendirinya
dan saat saya tahu, saya (masih) tidak bisa apa-apa
karena saya pun tak ingin


Jogja yang kedua
Saya terperangkap dalam satu kotak
melewati Jogja
mengingat tragedi dimana tersangka adalah saya
menapaki jalan yang sama
melihat lampu kota yang sama
dan membuka kembali cerita lama...


dimana korban telah ada dihadapan
saya masih ingat
dan saya tidak memaksa siapapun untuk ikut mengingat
tapi kehadiran yang tak pernah diduga membuat saya menjadi risih
membuat saya kerepotan
kalau ternyata membuka semua isi koper lalu memasukannya kembali rapih-rapih itu tidaklah mudah...
yang ada semuanya menjadi salah 
hanya keheningan yang menengahi semuanya


diam dalam diam
semuanya mendiam ditengah kediaman malam
dengan diam-diam semuanya menjadi diam
termasuk diam


tak bisa diulangi dan untuk saya itu cukup
Jogja menjadi saksi untuk catatan hitam saya
untuk kesenangan sesaat diselipan serangkaian kesempatan yang tertata
apapun isi lembar berikutnya saya tetap senang dengan apa yang ada, apa-apa yang pernah ada
tak ada yang menyangka jebakan batman ini jitu pada sasaran yang telah menutup rapat-rapat
sehingga dapat memberikan celah dimana masih ada yang tetap dapat keluar dan masuk seenaknya


saya pun bukan orang yang memang dalam keadaan netral, di pH 7, atau dalam titik 0
segalanya bisa naik dan turun
segalanya
siapapun
di Jogja


komplikasi pada bagian entah berantah
semoga mengerti
sekalipun tak akan membaca




tapi masih ada yang bisa merasa...

ternyata masih ada yang harus dielesaikan
berdamailah sejenak
dan yakinkan
bahwa semua tak akan pernah terjadi sama

You May Also Like

1 komentar