priorities collide

by - Maret 11, 2012

Today is 10 days before smansa day, and today is the 7th day I lost direction. Today I knew that everything isn't changing once, it can happen for several times, including me, as a sophomore, as a teenager, as a student, ditengah keadaan paling menjebak, paling menguras semuanya. Semuanya datang tak terjadwal dan menuntut untuk diproiritaskan tanpa adanya toleransi satu sama lainnya. Horizon yang tak berujung seperti keadaan saya saat ini yang tak sempat turun dari sepeda, hanya dapat minum sambil mengayuh, di semuanya, semuanya. Dan ini bukan tentang siapa saya, jabatan saya, di lingkungan seperti apa saya, tapi pilihan-Nya menurunkan beberapa batu kecil di belahan bagian bumi ini.


Saya. Pelaku dalam pembunuh emosi dan menuntut sahabat saya untuk egois. Kedinginan 7 hari itu bukan saya tak tahu kenapa, tapi saya sendiri yang memposisikan dan mengatur sikap, raut wajah, dan emosi. Dan tak lain mungkin saya yang paling menunjukan sikap kontra atas dasar agar tak ada yang memakan kata-kata terlontar, tak ada yang hitam yang terlukis agar tak ada yang nantinya berusaha menghapus hitam. Dan anggaplah you cannot get something you want without any sacrifices. Penanaman bibit bisa tak disadari, kapan, dimana, oleh siapa, tapi saat semuanya sudah tumbuh, semuanya bisa melihat.


Rentetan peristiwa hujan. Saya memandang langsung hujan di berbagai tempat dan jujur sakit rasanya melihat hujan yang tak kunjung henti dari awal tahun hingga saat ini. Memang sedang musimnya hujan turun, toh kemarau pun hujan tetap bersedia hadir menemani semuanya. Permasalahan yang sama, hanya konteksnya yang berbeda, karena intinya adalah : kekhawatiran yang semakin menjadi-jadi, yang ditumpahkannya sama. Bukan cuma bosen, mumet, tapi karena memang putarannya masih sama.


Jika menuliskan semuanya, hanya membuat jemari sakit. Asal kamu tahu, tabrakan inilah yang menghasilkan tumpukan-tumpukan yang harus ditata rapi, dan kembali mengatur lalu lintas agar tidak terjadi kecelakaan beruntun lagu. Hasilnya adalah pada kebiasaan dimana saya menjadi sangat nyaman menjadi sendiri, sendiri ke kantin, sendiri ke Pakuan, karena sekarang saya berbicara tentang irisan dan yang sedang dihadapinya saat ini, dengan jujur dan subjektif. Pada ruangan luas namun sesak karena sedikit oksigen disana.


Prioritas yang bertubrukan adalah sebutan untuk kondisi gila bagi salah satu sahabat saya, karena rasanya semuanya meminta harus diselesaikan lebih dulu dalam waktu dekat. Frekuensi yang semakin banyak dengan semua spontanitas yang ada seperti sudah menjadi makanan sehari hari. Langkah 1, langkah 2, langkah 3 mempunyai efek kejut yang berbeda-beda satu sama lainnya. Dinamika yang luar biasa yang dirasakan di D-10. Streching kali ini seperti mengisyaratkan bahwa saya harus dalam keadaan kuat dahulu sebelum memasuki 2 bulan itu, dengan maksud (setelah) dikuatkan, (maka harus) kuat, (untuk) menguatkan.


Saya masih percaya dengan keajaiban! Keajaiban dari-Nya yang begitu nyata.

You May Also Like

1 komentar