Makalah

by - Mei 06, 2012

Kata Pengantar

Hari ini dibuka dengan suara gua yang hampir habis, bantu masak, nganterin mamah, nyuci motor, ke acara Putik sebentar, makan bareng Teh Tika dan Teh Novi, dan pulang ke rumah pake sepedah.
Minggu ini diawali dengan sisi berbeda yang dirasakan oleh Melda atas diri gua, to do list yang banyak tak tercoret, percikan api di beberapa tempat, dan sulitnya mengembalikan ritme.
Tapi Sabtu kemarin adalah titik balik dari semuanya. 

Pembuka
Hari-hari sebelum Mid-event terasa sangat desperate. Asli. Sepanjaang malam online ym membicarakan hal yang sama, mempertanyakan orang yang sama. Belum lagi, menunggu kepastian itu memang selalu terasa campur aduk.
Ritme yang tak berpola terjadi begitu saja, sesederhana itu menerima dan menolak pekerjaan. Belum lagi celoteh sana sini yang tak kunjung henti, seperti memasukkan kegiatan baru dalam proker rutin karena seharusnya memang seperti itulah lapangannya, cakupannya, lingkungannya. Seputaran yang sama. 
Percikan sana sini tak aneh, karena kita semua memang konduktor yang baik, bahkan seringkali terlampau baik, sampai-sampai semudah itu terjadinya.

Isi
Desperatenya minggu ini, menuai banyak pertanyaan. Oke, kita gak akan pernah tahu usaha atau do'a yang telah kita lakukan selama ini telah maksimal atau belum, yang kita anggap kita sudah maksimal hanyalah hipotesis belaka, karena kita tahu maksimal atau tidaknya seselesainya itu semua. Tapi 1 pelajaran yang gua tangkap adalah : jangan pernah berhenti
dan seperti itulah yang terjadi...
ditengah kekhawatiran yang melanda, hal yang terbesit adalah : apakah kita kurang berdo'a? apakah kita lupa bahwa segala eksekusi kembali pada-Nya? dan kita, manusia hanyalah bisa berencana, dan Dia adalah sebaik-baik pemberi jawaban.
Mid-Event : Sabtu, 5 Mei 2012
Gua hampir saja ingin membiarkan  bulir-bulir itu turun, tapi belum waktunya, kita masih punya closing. Menyekap sudut mata; ini untuk tanggal 19 Mei nanti.

Rembulan Tenggalam Di Wajahmu : sedikit banyak telah mempengaruhi konsep berpikir gua. Oke, mungkin gua memang lamban dalam membacanya, tapi dalam menghayati agar terinternalisasi dalam diri adalah yang utama buat gua, terlebih daerah resapan tiap-tiap orang berbeda. Konsep sebab-akibat: semua yang terjadi tidak pernah begitu saja, sedikitpun tidak pernah. Jadi, berhentilah mempertanyakan mengapa harus begini?
satu lagi, konsep kehilangan yang dituliskan sesederhana memaknainya. Pada intinya, dalam kehilangan ada 2 pihak, pihak yang pergi dan pihak yang ditinggalkan, tugas kita adalah mencoba memposisikan diri di pihak yang pergi, maka kau akan mengerti.

Mengembalikan ritme memang sepertinya harus bertahap, dan memanfaatkan momen bisa jadi salah satu cara. Ya, disadarkan banyak hal. Sadar, gue akhirnya sadar...Huah.

Bicara percikan.... Kita butuh air, air yang tenang dan mendalam. Walaupun ada: a, b, c, d, e, f, g dst, mereka tetap saja satu : huruf, hanya saja memang harus ada yang di awal, di tengah, dan di akhir.

Penutup
Untuk adik yang sudah dititipkan amanah, maaf ya saya sempat terkejut mendengarnya, hari itu kau memang bandel dik, sebetulnya poinnya adalah agar kamu banyak belajar banyak, dan mengambil banyak.

Satu wish-list gue tercoret : lulus ulangan teori kinetik gas
hahahaha
Gue pun besok ulangan kimia.
Pamit.

You May Also Like

0 komentar