Seketika hujan...

by - Juni 09, 2012

Tepian langit mencekram bumi. Tegak bersih. Jingga semakin tak terkendali, memporak porandakan isi hati. Gundah.
Aku berjalan, dan mendapatimu terangkul angin. Penuh kedamaian yang terpancar dari parasmu. Bagai surga dunia. Kau nampak sangat bahagia.
Enggan ku ganggu meditasimu. Hari ini begitu syahdu, sesyahdu lantunan musik Mozart dengan biola tuanya yang kian rapuh. Sosokmu kian terlihat, bayangmu pun tepat jatuh pada retina. Andai lup dalam genggaman, telah kudapatimu dalam skala yang lebih besar.
Aku bertanya pada awan sirus, dia bilang bahwa kamu tidak beranjak dari tempatmu sejak berjam jam yang lalu, dan seberkas sinar yang tersisa sebelum tenggelam pada cakrawala menimpali, bahwa kau sudah terpanggang berjam jam pada koordinat yang sama. Kau masih begitu.
Lantas apa daya niatku untuk berurai kata padamu. Kau tetap sibuk dengan duniamu, menyatukan jiwa pada benda hidup tak berbahasa. Dan kau masih asik saja, di sisa hari yang semakin jenuh dengan kegelapan di sekitarmu.
Kamu, si distraksi akbar dalam setapak perjalanan. Si misterius yang tak pernah ku kenal. Biarkan aku menjadi jari-jari pusatmu yang rela disisimu meski harus berlari, memutar, dan menjaga pada jarak yang tak boleh berubah. Kau membuat semua ini melelahkan. 
Sesaat langkah ikut merubah takdir langit pada hari itu. Bulir yang jatuh ternyata bukan dari mataku, tapi dari langit yang ikut meratapi kejanggalanmu. Kau panik, seperti anak sekolah dasar yang telat ke sekolah, kau merasa sangat terusik.
Ku berlari tak peduli genangan yang kuhadapi. Kau meneduh bersikap tak acuh. 
Dan sejak saat itu ku sadar, bahwa hujan telah menghapuskan lamunanmu

...dan sekejap menghapus imaji tentang dirimu

You May Also Like

0 komentar