Untuk Indonesiaku...

by - Agustus 16, 2012

"Tidak semua yang berkoar-koar memiliki hasil yang sama dengan yang menanggapinya dengan tenang dan sederhana"

Hari ini dan beberapa hari kebelakang rasanya dituntut untuk berpikir luas. Tentang pemimpin, tentang mimpi, tentang Indonesia, tentang bagaimana nanti.
Khususnya kutipan di atas adalah bagaimana menanggapi segala situasi dan kondisi saat ini yang tepat di hadapan mata, dan mungkin untuk pertama kalinya biarkan gua menulis untuk Indonesia.

Kalau boleh jujur, ini sedikit mengutip bagaimana obrolan dengan seorang Ghilandy, sosok yang gua rasa sering mengemukaan sesuatu dari sudut netral dan sisi yang berbeda. Tentang semangat yang berkoar-koar, lantas kalau tak ada implementasinya?
Diskusi singkat itu sedikit mengungkit tentang contoh kecil dari cara berkoar-koar yang ada di negeri ini, Mei 98. Bagaimana mahasiswa di tahun itu berkoar-koar menggulingkan pemerintahan.
Dan sejujurnya ini telah menjadi pernyataan gua sejak lama : lalu dimana mereka sekarang?

Mei 98 dalam umur mahasiswa, dan 2012. 14 tahun lamanya peristiwa itu terjadi, dan kalau menghitung umur seharusnya saat ini sedang dalam masanya memulai dan merintis. Gua benar-benar menunggu aksi itu, kejadian 98 yang memang banyak dianggap mewakili suara rakyat, yang mengetahui keinginan rakyat, dan berada di posisi yang sama. Namun mengapa sekarang tidak terdengar kembali suaranya? sebagai orang yang pernah berhasil menggulingkan pemerintahan, kenapa tidak dibentuk saja pemerintah baru yang sama-sama mampu mewakili? apa semuanya karena mahasiswa selalu melekat dengan sejarah namun semua yang sudah lulus memiliki jiwa dan semangat yang berbeda, apa hanya karena sebatas peran bernama maha dan siswa ?
Gue selalu kagum dengan peran itu, tapi yang menjadi pertanyaan adalah, lantas seselesainya menjabat sebagai peran itu bagaimana?

Ah ya masih ada!
Tentang partai. Di setiap negara memiliki sistem politik yang berbeda-beda. Terbukti di beberapa negara yang memiliki banyak partai cenderung tidak stabil dibandingkan negara yang hanya memiliki sedikit partai, contohnya saja di Amerika. Karena bukankah pada kenyataannya pemerintah hanya butuh 2 kubu : koalisi yang mendukung dan oposisi yang mengkritisi. Di Indonesia, partai yang jumlah lebih dari 30 toh pada akhirnya hanya memilih diantara 2 pilihan dan dari 30 sekian partai itu pula yang mampu duduk di pemerintahan kurang dari 1/3 nya. Gua sendiri merasa kepentingan golongan diatas kepentingan rakyat, mau bersuara jujur takut dikurangi jatah kursinya, berbeda pendapat mendapat ancaman reshuffle kabinet, mengikuti hati nurani takut dikira berkhianat, ada masalah kembalinya ke partai padahal disebelahnya ada orang walaupun dari fraksi yang berbeda, bersuara atas nama "partai" bukan atas nama "saya". Jadi negara kita dikendalikan oleh pemerintahan atau oleh partai?
Semuanya berlomba-lomba menjanjikan yang terbaik dengan mencalonkan diri sebagai pemimpin, beda sedikit cara pandang membentuk partai baru, semuanya ingin bersuara, padahal dari sekian banyak visi, intinya satu : agar Indonesia bisa lebih baik lagi
Objeknya sama, tapi mengapa caranya harus sebanyak ini?
Gua saat diregen diajarkan bagaimana menanggapi perbedaan, "perbedaan itu bukan untuk diperdebatkan, tapi untuk diseleraskan"
Coba kalau begitu kita selaraskan bersama, kalau memang untuk Indonesia. Dari sekian banyak perbedaan yang ada, cobalah untuk saling mengisi dan melengkapi satu sama lainnya. Karena ini bukan agama, yang kebenarannya mutlak.

Baru aja gua menyaksikan lagi kasus Bank Century. Presiden dalam pidatonya (pada intinya) membeberkan pembelaan dirinya dan membuktikan bahwa dirinya memang bersih dari tuduhan Antasari, dengan memberikan segala data yang ada, contoh kecilnya: tanggal.
Gue ga ngerti bagaimana mengarsipkan semua pidato yang ada sambil mengingat isinya di luar kepala, karena ternyata setiap pidato presiden diarsipkan dan dijadikan bukti sewaktu-waktu ada perkara dari ucapan presiden yang tidak tepat, 
"saya ingat betul sewaktu itu kita membahas a dan tidak mengungkit masalah b sekalipun" padahal ini terjadi di tahun 2008
Bahasannya bermain data dan menunjukan siapa yang datanya paling lengkap dan paling valid. Sebegitu berhargakah arti sebuah pencitraan?

Media memuat berita tentang partai, haah padahal rasanya banyak yang perlu diberitahukan tenntang kabar daerah di Indonesia yang belum terjangkau.

Mungkin memang benar, Teh Tika dalam tulisannya,
ada pelatihan kepemimpinan tapi tidak ada pelatihan dipimpin
ada pelatihan public speaking tapi tidak ada pelatihan public hearing

Entah karena gue sendiri merasakan menjadi "orang yang mendorong dari bawah" yang pada kenyataannya sama sekali tidak menunjukan kalau lu bukan pemimpin. Karena pada ujungnya semuanya tentang bagaimana lu mampu memberikan pengaruh sebesar-besarnya pada lingkaran yang lu punya, bukan hanya : lu siapa? jabatan lu apa?
Pemimpin sekalipun butuh orang tengah sebagai konektor dan orang yang berada di bawah untuk terus membantu mendukung. Garis kepemimpinan itu berfungsi horizontal dan vertikal, keduanya harus sama-sama aktif.

Gue punya banyak mimpi untuk Indonesia. Sangat banyak malah. Ketidaksempurnaan itulah yang membuat mimpi-mimpi ini terus hidup, dan terus berdatangan. Kalau lu paham benar apa mimpi lu, maka lu akan jadi pelengkap dari kekurangan yang ada.

Tulisan ini pun hanya sudut pandang pelajar putih abu yang melihat tanah airnya dari layar kaca, tidak lebih, di umur negrinya yang menginjak 67 tahun.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS 13:11

Mungkin ini alasan mengapa kita harus terus maksimal dalam berbuat :)

Merdeka!

You May Also Like

0 komentar