Pertemuan

by - September 30, 2012

".....Tulis ilmu yang baru kau reguk, kau pahami, kau cerna. Tulis segala kebenaran yang kau yakini, ide yang terlintas, inspirasi yang membekas. Tuliskan semuanya. Karena ruang ingatmu sangat terbatas. Apa yang terucap akan segera lenyap. Apa yang terpikir tak lama akan menyingkir. Apa yang didapat tak lama segera lenyap. Maka ikatlah ilmumu, ide-idemu, hasil renunganmu dengan menuliskannya......"
Jadi mari menulis kembali.

Oke, jadi kemarin adalah pertemuan  gue dan orang-orang yang dulunya sangat dekat dengan hari-hari gue. Mereka yang terbiasa membuka percakapan di tengah hari tentang apapun yang dirasa perlu untuk diceritakan, didiskusikan, atau sekedar mengungkapkan apa yang sedang dirasakan.

Hari kemarin diawali dengan kumpul pagi CK yang mengundang pembicara Ketua Umum OSIS Avion, dan Ketua Umum OSIS Pionir. Sayangnya gue hanya dapat mendengar materi di akhir pertemuan, tapi yang gue denger di akhir pun benar-benar membuka pikiran, seperti :
"kenapa sih kok acaranya bisa jadi tradisi?"
"menurut kalian yang membuat atensi warga SMANSA tidak begitu besar terhadap acara tersebut apa?"
seputaran tentang : OSIS gue mau yang seperti apa 

dan jujur, bagi gue, materi kemarin sangat mahal harganya.

Sekeluarnya dari ruangan materi, gue ternyata mendapat kesempatan untuk ngobrol banyak dengan 2 orang yang menjadi garda terdepan OSIS di masanya. Cerita bagaimana dulu mereka mendidik, hal-hal yang tidak sempat terpikirkan, gambaran kecil metode yang diterapkan, seperti ;

"Gini, jadi ada yang namanya espektasi, ada yang namanya realita. Dalam prosesnya, keduanya seringkali semakin menjauh. Nah, tugas kalian adalah merapatkannya kembali"

Sedikit banyak, A Murai menceritakan teori-teori yang ada di ilmu psikologi. Ternyata ada loh teori A yang bisa berguna untuk mereka nantinya. Sharing-sharing kehidupan di UI antara A Ghilan dan A Murai yang menggambarkan sebegitu aktifnya loh anak SMANSA di kehidupan perkuliahan. Gue yang mendengernya pun antusias sambil senyum-senyum pengharapan :"


***

Setelah itu, dilanjut bercerita bareng teteh yang sudah menjadi tempat cerita sejak SMP. Sosok keibuannya masih ga pernah ilang, dengan pesan khasanya

"Berelelah-lelahlah, istirahatnya di surga ya :)"
Pemicu yang benar-benar ampuh kok teh. Gak salah ya pulang ke Bogor mendengar banyak cerita.


***

Depan XII IPA 8

"Sini Reg,  saya mau ngobrol"

Obrolan yang selalu menyenangkan. Pembahasan seputar tentang kabar SMANSA saat ini, generasi dan teknologi, dan penyampaiakan rasa khawatirnya karena pernah mempengaruhi pikiran akan pesimisme yang membuat gue senyum-senyum, angguk-angguk, ataupun mengerutkan dahi guna mencerna isi kalimatnya yang tak pernah dangkal. Ceritanya tentang prospek anak Teknologi Bioproses yang sedang mempersiapkan bio fuel di masa depan.

Meski sempat terhenti sebentar karena makan siang dan gue yang masih harus bertugas, diskusi masih berlanjut di di sisi belakang gedung utara.

Depan Sekretariat Olah Raga

"Ayo Reg ceritain"

Gue pun bercerita, berhenti, diem, mikir, cerita lagi, terus diem lagi, dengan diselingi kata "ng...regia ga ngerti a", cerita bagaimana menjadi gardu terdepan di OSIS, dan yang dilakukannya. Sedang gue sebagai lawan bicara berusaha menyimak sebaik-baiknya. Bukan hanya itu, dia pun bercerita tentang ibunya yang menginspirasi bahwa kita masih jauh lebih beruntung, bahkan di tengah-tengah sibuk yang ada

"Coba deh a liat, si B yang ga punya kerjaan siapa bilang ga stres, dia juga stress a"

Gue seperti sedang diyakini, sibuk pun sebagai bentuk rasa syukur, sibuk pun bisa tetep seneng-seneng kok.
Belum lagi ceritanya tentang bagaimana dia bisa diangkat menjadi ketua departemen, tentang dia yang (masih) dipercayai oleh banyak orang. 

"Lu cuma perlu yakin kok, serius. Karena pengaruh keyakinan itu benar-benar besar"

Dia berpapar banyak tentang keyakinan, yakin yang katanya bisa jadi modal awal seseorang.  Sampai obrolan pun tersambung dengan ambisi, ambisi yang selama ini gue anggap konotasinya negatif karena menurut gue lebih mending obsesi daripada ambisi ternyata tak benar,

"Seorang pemimpin harus punya ambisi" 

Ambisi yang terus menggerakan, ambisi yang membuatnya tak terhenti.

Sore itu pun ditutup dengan penuh keyakinan. Diskusi panjang lebar yang selalu diakhiri dengan senyuman dan semangat untuk menatap hari. Beribu terima kasih atas kedatangan dan segala cerita yang disampaikan :)

***

Malam hari, di depan Laboratorium Bahasa.

"Teh, aku pengen mengubah Indonesia"

tulisan sahabat di buku diary kecil saya; "Indonesia pasti berubah, Gi!"

Serta pengharapan dari sahabat yang (Insya Allah) akan menajdi dokter lulusan Jerman

"Pokoknya sepulangnya aku dari Jerman, Indonesia sudah berubah ya, Gi"

Entah karena  sebentar lagi lengser sehingga orientasinya tak lagi untuk SMANSA,
atau gue yang punya pengharapan besar nantinya untuk Indonesia                                                               

You May Also Like

2 komentar