Penghuni "Rumah-Ketiga"

by - Oktober 13, 2012

Semenjak UTS, NF telah menjadi tempat "kepulangan" gue seselesainya dari sekolah. Tak ada kumpul pagi/tugas untuk calon OSIS. Seluruh kegiatan di-off-kan selama kurang lebih seminggu.


Gara-gara UTS kemarin, gue merasakan kembali atmosfer semangat belajar, persaingan yang ketat, berlomba-lomba untuk jadi yang lebih baik, semuanya bersama-sama. Tapi yang perlu di garis bawahi disini adalah satu sama lainnya saling mengajarkan sesuai dengan kemampuan di bidangnya masing-masing. Semangat belajar anak-anak juga naik drastis. Gue sendiri kaget sekaligus senang ketika pemantapan fisika dilaksanakan di ruang tengah NF dikarenakan tidak ada ruang kelas yang mampu menampung jumlah anak-anak yang ingin ikut pemantapan. Semuanya seperti telah dibangunkan; "Hei, gue udah kelas 12 ya?"

Berhubung gue semakin sering ke NF, gue pun sering membuka percakapan dengan tutor-tutor di sana, dan ternyata banyak percakapan yang membuat gue harus bercermin terhadap diri gue mengenai apa itu sukses, bagaimanakah memainkan peran di dalam hidup, dan bagaimanakah ilmu itu seharusnya.

***

Malam hari menjelang ulangan fisika..
Regia : Mas, Regia boleh tanya ga?
Mas Piet : Kenapa Reg?
Regia : Mas Piet kan lulusan Teknik Fisika yah mas, FTI ITB lagi. Kok mas milih jadi guru sih?
Mas Piet : Ya..karena saya pengen bantu kalian memahami fisika. Saya pernah kerja di pabrik 5 bulan, tapi saya gak kuat, Reg. Gak cocok sama saya. Mending jadi guru, Reg. Kerjanya gak ribet. Membuat orang-orang jadi pinter, Reg.
Regia : Dan lagi ilmu yang bermanfaat itu pahalanya Insya Allah terus mengalir ya mas?
Mas Piet : Iya Reg. Betul itu... *sambil tersenyum*
Ketika materi bukan segalanya meski kuliah setinggi apapun, tapi tentang pengabdian, dedikasi, dan beramal.

Atau di sela-sela pelajaran...


Regia : Mas, rumus A apa ya?
Mas Piet : *menyebutkan rumus A*
Regia : Makasih mas

berselang 5 menit...


Nabiel : Mas rumusnya A apa ya?
Mas Piet : *menyebutkan rumus A*

5 menit kemudian...


Reisa : Mas, kalau soal ini pake rumus apa ya?
Mas Piet : *mengulang rumus A dengan sabar*

gue yang ada di deket sana ikut nyeletuk..


Regia : Mas, pasti bosen ya mengulang-ngulang rumus yang sama
Mas Piet : Ya sebetulnya saya hapal rumus karena diulang-ulang terus, Reg.
Tama : Mas tukeran dong otaknya....
Mas Piet : Ya jangaan, nanti kamu taunya fisika doang haha
Bukan hanya menyampaikan rumus, tapi memberi motivasi untuk menjadi lebih baik di setiap harinya. Menyampaikan analogi antara fisika dan hidup yang membuat didikannya memahami tiap-tiap peranannya di kehidupan nyata. Bukan hanya itu, yang menambah nilai plus juga yaitu tentang kegigihannya mengajar untuk menyampaikan ilmu, untuk membuat adik-adiknya menjadi pintar, meski harus pulang larut dan mengejar kereta terakhir, meski harus diajak bermalam di rumah beratapkan tulisan "Nurul Fikri". Ikhlasnya yang membuat orang-orang selalu ingin diajar olehnya. Mengajar yang bukan semata-mata ; "saya guru dan tugas saya adalah mengajar", bukan semata-mata sebuah materi, tapi tentang melaksanakan tugasnya sepenuh hati.

Sepulangnya saya dari NF, pasti selalu seperti ini...
Regia : Mas, Regia duluan ya!
Mas Piet : Hati-hati Regia. Semangat ya belajarnya!
Apalagi setelah gue menyampaikan keinginan gue untuk ada di ranah teknik...


***

Gue jarang banget dateng ke NF tepat waktu, biasanya gue dateng di pelajaran ke-2 atau akhir pelajar pertama. Di hari itu, gue dateng tepat waktu dan pelajaran saat itu adalah BIP. BIP memang bukan pelajaran eksak seperti yang semua tahu, bukan pula pelajaran bahasa, dan gue sendiri memang tidak tahu kepanjangan dari BIP itu apa, tapi gue mendefinisikan BIP itu seperti "mentoring", seperti sarana untuk introspeksi dan lebih mengenal diri kita sendiri, mendapatkan informasi, namun berlandaskan agama.

Hari itu pembahasannya adalah tentang mendefinisikan sukses. Pada dasarnya, sukses itu bukan sesuatu yang dapat diukur, dan meraih sukses itu tergantung bagaimana kita mendefinisikan sukses itu sendiri. Konsep sederhana dari sukses yang sebenarnya adalah mencapai kebahagiaan, dan cara sederhana untuk menjadi sukses adalah mensyukuri apa yang kita punya.

Hari itu seperti mendapat "angin segar", sampai-sampai salah seorang teman saya ikut menangis merasakan sejuknya angin di tengah panasnya situasi yang ada.


***

Di ruang tengah NF Paledang...
Regia : Mas, namanya Erwin Mikoriza?
Mas Erwin : Engga kok, nama asli saya sebetulnya Erwin aja, tapi saya tambah Mikoriza
Regia : Waah mas cinta biologi banget mas
Mas Erwin : Iya dong
Regia : Tapi kenapa harus Mikoriza mas?
Mas Erwin : Karena saya suka jamur hehe
Regia : Kenapa harus jamur mas? Memang apa yang membuat jamur sampai seistimewa itu di mata mas?
Mas Erwin : Gini, jadi sebetulnya ahli patologi di Indonesia hanya 4 orang, 2 diantaranya sudah meninggal, dan tinggal 2 orang saja yang masih hidup. Tapi profesor A umurnya sudah 80 tahun, beliau sudah sangat tua, dan saya ingin menjadi salah satunya. Nah tadi kan kamu nanya kenapa harus jamur, jadi gini, saya pernah mengamati sebuah jamur, ketika hifa tersebut muncul bentuknya seperti orang bertasbih, keluarnya juga sedikit demi sedikit, subhanallah sekali. Nah dari sana saya belajar keistiqomahan, tentang konsistensi yang sedikit demi sedikit namun berkelanjutan. Jamur mikoriza, ketika saya amati saat hifa muncul membentuk kaligrafi yang indaaaah sekali akalu tidak salah ayatnya seperti ini *membacakan potongan ayat*. Dari sana saya mulai mencintai jamur. Saya melihat kekuasan Allah langsung di depan mata saya. Saya melihat keistiqomahan. Kalau ada orang bertanya; dimanakah saya menemukan Tuhan, maka saya akan menjawab ; saya menemukannya pada jamur.

Gue, Tika, Tama, dan Nabiel yang mendengar cerita tersebut langsung terdiam, diam karena ketika feed-back dari berilmu pengetahuan tinggi adalah dibalas dengan semakin bersyukur.


Mas Erwin : Oia, yang ulang tahun hari ini siapa?
Regia : Tika mas *sambil menunjuk Tika*
Mas Erwin : Nah karena saya ga bawa apa-apa, jadi saya mau ngasih ini *memberikan gantungan kunci bertuliskan New York*. Ini gantungan yang dikasih dosen saya sepulangnya dari Amerika. Beliau baru saja menghadiri pertemuan ahli mikrobiologi dari seluruh dunia.
Seketika, mata sahabat saya langsung berkaca-kaca. Kehanyutan benar-benar terasa di dalam sana.

***

Minggu-minggu UTS pun diisi dengan pelajaran makna, makna yang membuat mata kita membuka selebar-lebarnya

You May Also Like

0 komentar