Bermain peran

by - Desember 19, 2012

Pada akhirnya saya mengerti mengapa dunia disebut panggung sandiwara. Karena kerap kali banyak peran yang kita emban secara sekaligus, dan kita terima secara cuma-cuma.
Sesimpel itu.
.
.
.

Sejak lahir, kita telah melakoni sebua peran, dan dari hari ke hari, peran itu kian bertambah, seiring dengan banyaknya lingkungan yang kau "hidupi" dan keinginan yang tercetus dari dalam diri. Lingkungan secara horizontal antar sesama manusia, ataupun secara vertikal kepada Sang Kuasa. Peran-peran itu tidak melekat begitu saja, selalu ada tuntutan yang datang dan memintamu mempertanggungjawabkannya. Memintamu untuk menjalaninya dengan sebaik mungkin, dengan sebaik yang kau bisa. Menjalaninya dengan hati yang seikhlas-ikhlasnya.

Banyak cara manusia dalam menjalani sebuah peran. Ada yang mengabaikannya, ada yang terus menerus memikirkannya.

"kalau peduli ya harus siap repot"
"kalau ga mau repot, yaudah dibiarin aja"
kita gak cuma diminta untuk memilih atas daftar pilihan yang telah tertera sejak menginjakkan kaki di bumi, tapi melewati semua pilihan itu dengan menjalaninya sebaik mungkin, dengan memanfaatkan sebuah kesempatan yang belum tentu dimiliki oleh semua orang yang justru menginginkannya dan telah mendambakannya sejak lama.

Peran-peran itu bukan secara tertulis ada dalam lembaran kertas persetujuan, tapi berupa kedudukan semu yang transparan, karena memang bukan semata-mata untuk dilihat, tapi untuk disertakan dengan perbuatan. Seperti bagaimana memainkan peran sebagai anak, sebagai pelajar, sebagai teman yang baik, sebagai manusia yang hidup bermasyarakat, sebagai seorang "tokoh", sebagai generasi penerus bangsa, dan tak lain sebagai hamba-Nya yang sepanjang hidupnya hanya menjadi hamba.

Pada dasarnya semua peran-peran itu akan terlakoni dengan baik jika pada waktu yang tepat, pada siapa kamu dan kamu saat ini. Seringkali kita bingung saat tidak bisa memberikan yang terbaik, menjalani dengan sebagaimana semestinya, atau menecewakan dan ingin sesegera mungkin melepas peran itu. Seringkali kita ingin "menjadi"  pada waktu yang belum tiba. Dan sering pula kita tak sadar kalau kita sedang mempermainkan sebuah peran. Seketika luput dari kesadaran dan jalan melenggang tanpa beban. Tanpa rasa bersalah yang mencuat.

Peranmu kini adalah potret peranmu nanti. Peran yang lama kelamaan akan menjadi kebiasaanmu dalam menghadapi hari. Peran yang dapat membuatmu terkekang oleh jeruji besi atau bebas seperti merpati. Peran yang dapat membuatmu hidup dalam menghidupi kehidupan, atau membuatmu mati oleh keadaan. 

Ketika kau menghadapi banyak peran, dahulukanlah yang telah menjadi kewajiban. Kewajiban dalam peran sebagai manusia seutuhnya. Dan jalanilah peran yang memang pantas untuk masamu. Jalanilah dengan sepenuh hati dan tanpa terbebani. Jalani sebagaimana kau tak pernah sendiri. Dibalik itu semua, ada irisan yang mampu kau jalani secara bersamaan. Kau tak perlu bersedih, kawan. Cukup pandangi mereka, mereka yang telah lama ada disisi namun seringkali tak disadari. Kaunya saja yang tiba-tiba pergi.

Sebanyak apapun peranmu kini, sebanyak itu pula jejakmu terekam di tepian hati. Mereka membekas dan musim pun tak mampu menghapusnya. Mereka mengingat dan itu menjadi kebaikan tersendiri untukmu dalam menjadi manusia yang bermartabat. Jadilah yang bermanfaat, dan Ia akan senantiasa menikkan derajat. Lakukanlah dengan baik peran-peranmu, lalu lupakan. Biar menjadi kenangan. Biar mereka yang mengingat semua kebaikan.

 
 Ditulis dengan penuh pengharapan
Semoga suatu saat nanti dapat menjadi sebaik-baiknya peran

You May Also Like

0 komentar