Berdamai

by - Februari 22, 2013

"Karena dengan belajar menerima, kita juga belajar untuk berdamai"
- Dee, Rectoverso
Habis sudah cerita-cerita itu aku makan lumat-lumat. Tapi bukan kenyang yang kudapat, melainkan rasa sesak yang mencuat.


 ***

Betapa semua yang tak terucap akan mengendap, dalam-dalam, secara utuh tak terpengaruh. Menyisakkan ruang yang akan melebur dalam satu kesatuan. Bukan sebagai kenangan, melainkan sebagai serpihan yang tak tersampaikan.
Kau ingat. Ribuan sel otak aktif menghantarkan impuls satu sama lainnya. Kau tak mungkin lupa.
Sedang semuanya hanya menjadi bagian yang bisa kau rekam dalam ingatan, kau genggam bersama angin, kau rasa dengan indera, kau abadikan dalam sudut hati. Semuanya tak lebih dari senyuman yang akan kau tampilkan.
Pada akhirnya, sepahit apapun bentuknya, sekeras apapun paksaannya, sebesar apapun tekananannya, menerima adalah sikap terbaik yang kau punya. Kau hanya butuh alam untuk menemanimu hari ini, dan memohon agar semesta menidurkanmu, sampai akhirnya kau bangun dalam hidup yang baru.

"Lantas, kalau tak bisa menerima mau apa?"
Kau tak akan pernah bisa lari.
Sekencang apapun.
Dari waktu sekalipun.
Sekalipun.

Bogor, 22 Februari 2013
1.04 dini hari
"Ya, aku benar-benar merasakan kedamaian itu.." 

You May Also Like

0 komentar