Ketulusan

by - Maret 24, 2013

Kesimpulan hari ini : 

Ketulusan itu menggerakan diri dengan damai dan sukarela, tanpa pamrih dan tak ada rekayasa. Semuanya alami yang keluar dari dalam diri, meski kamu sedang tidak di posisi aman, ataupun orang yang sejak awal tidak mendapat keberuntungan. -Myself

Saya mempunyai seorang ketua angkatan, namanya Arsya Al Ayubi. Saat kelas X, dia masih bukan siapa-siapa, tapi progress luar biasa dia buktikan menginjak kelas XI, sampai pada akhirnya segala perubahan itu mengantarnya menjadi Ketua Panssera, dan ketua Intern PMR. Belum semuanya selesai, saat penghujung masa jabatan, amanat lain datang padanya untuk menjadi ketua angkatan Meriam Baja, jelas bukan amanah yang ringan untuk memimpin lebih dari 300 orang.

Ekspektasi terhadap ketua angkatan pada kenyataannya bukanlah hal yang patut untuk dituntut karena prosesnya pun tanpa masa kaderisasi, tapi melihat ke dalam pribadi. Awal ketidakmauannya untuk dipilih benar-benar tak berdampak apa-apa, segala naik-turun yang ada, segala bentuk tekanan yang ada sebagai anak kelas 12 ternyata tidak menjadi kompensasi untuknya. Yang berat tetaplah berat, yang sulit tetaplah sulit. Seakan-akan tidak melihat bahwa jenjang yang berikutnya tepat di depan mata kami. Tapi Arsya terus melangkah.

Ditunjuknya saya saat itu menjadi sekretaris angkatan menimbulkan heran sekaligus bangga. Keputusannya untuk membentuk wakil-sekretaris-bendahara di angkatan merupakan tindakan yang amat tepat, karena tak lama dari sana, dispensasi dan panggilan sana sini tetap menjadi hal-hal yang harus kami hadapi.

Benar adanya. Saat-saat itu menjadi hal yang sulit membuat kami lega menutup hari. Panggilan ke ruang wakasek dan duduk di depan kepsek adalah kesempatan yang tak semua orang bisa dapatkan. Memberi argumen di depan banyak kalangan akademika membuat kami harus cermat dalam bermain diksi. Segala intonasi haruslah stabil dan tepat sasaran, tak bisa lebih tinggi, meskipun hanya setengah nada. Saya, Arsya dan teman sayang lain nampak seperi partai oposisi. Kami dinilai bersebarangan.

Titik temu memang menjadi akhir segala bentuk tarik ulur kesepakatan, tapi bekasnya ternyata tidak. Mengungkit kesalahan , berlebih-lebihan dalam menyampaikan, dan ketidaktahuan itu rasanya ternyata benar-benar membuat sakit, kecewa, dan hilang percaya. Laksana burung yang telah dikeluarkan dari sangkar, namuan kakinya tetap terikat ke tanah. Semuanya masih tak mudah.

Akhirnya, semuanya tiba pada proses utama. Arsya, menjalankan dengan bijak tanpa diminta, tanpa permohonan yang tertera atau terucap, ia datang dengan penuh kesadaran diri, dan  segudang ketulusan. Karena ternyata, semua batu-batu besar itu memang dia hadapi dengan semakin banyak bersujud bukan di kala 5 waktu wajib, tapi lebih dari itu.

Ketulusan dipampangnya dengan jelas. Arsya, telah mengajari saya ketulusan berbuat tanpa berkata. Biar, biar Dia yang menjawab semua ketulusan, biar Dia yang akan langsung mengantarmu menjadi pribadi yang lebih baik di masa yang akan datang, dengan segenggam mimpi yang telah kau punya.

Hap! Project saya, Arsya, dan teman-teman yang lain di penghujung SMA masih cukup banyak. Dan saya yakin, kotak semangat dan ketulusan juga masih tersedia banyak :)

You May Also Like

0 komentar