#BookReview Negeri Di Ujung Tanduk

by - April 25, 2013


Negeri Di Ujung Tanduk merupakan sekuel dari novel Negeri Para Bedebah yang di tulis oleh Tere Liye merupakan aroma baru dari tema buku-buku yang pernah ditulisnya. Mengangkat isu politik dan hukum membuat saya antusias untuk mengetahui kelanjutan ceritanya.
Dari sekain percakapan, ada beberapa potong kalimat yang paling saya suka
"Moralitas sejatinya hanyalah salah satu omong kosong yang bisa dijual dalam bisnis politik. Sehebat apapun ide moralitas yang mereka bawa, entah itu perdamaian dunia, kesejahteraan manusia, itu tetap sebuah politik. Dijual ke masyarakat luas untuk dibeli, didengar, didukung. Tanpa pengikut, tanpa mesin yang melaksanakannya, ide itu kosong. Hanya kalimat mengambang, tulisan tergeletak. Ide politik selalu bersifat netral. Kita selalu bisa memolesnya menjadi barang dagangan yang menarik dan memiliki kepentingan"
Penggalan kalimat tersebut seakan menyadarkan peran ide, gagasan, inovasi, sebagus apapun bentuknya atau isinya, perlu ada sistem yang mendukung terwujudnya visi tersebut.
"Dalam strategi komunikasi, kita tidak bisa memaksakan ide kepada orang lain - karena malah jadi kontraproduktif, orang lain menolak mentah-mentah, melawan ide kita meskipun awalnya dia bersikap netral"

"Tetapi kita selalu bisa menggiring orang lain untuk sependapat. Kita selalu bisa menanamkan bibit-bibit ide tersebut, lantas membiarkannya tumbuh berkembang dengan sendirinya, membuat tempat bersemainya ide itu justru merasa memilikinya, kemudian dengan sukarela menyebarkannya kepada orang lain"
Kutipan kalimat ini menggambarkan bagaimana ide tertanam dari informasi yang diperoleh menjadi kebenaran yang ia yakini dengan pasti.


"Kau tahu, Thomas, jarak antara akhir yang baik dan akhir yang buruk dari semua cerita ini hanya dipisahkan oleh sesuatu yang kecil saja, yaitu kepedulian. Opamu memilih peduli, maka dengan seluruh kesusahan, dengan keterbatasan yang dia miliki, dia tetap memutuskan menolongku yang sakit parah di kapal nelayan itu, meskipun itu bisa menyulitkan bahkan membahayakan dirinya sendiri"
"Begitu juga hidup ini, Thomas. Kepedulian kita hari ini akan memberikan perbedaan berarti pada masa depan. Kecil saja, sepertinya sepele, tapi bisa besar dampaknya pada masa mendatang."
"Selalulah menjadi seperti opamu, Nak. Selalulah menjadi anak muda yang peduli, memilih jalan suci penuh kemuliaan. Kau akan menjalani kehidupan ini penuh dengan kehormatan. Kehormatan seorang petarung."
Pesan akhir yang selalu menyentuh dari serangkaian peristiwa yang sukses membuat saya deg-degan saat membacanya.

Komentar saya tentang buku ini : it's a very nice book!
Walaupun tidak terkupas sampai ke akar bagimana mafia itu dapat berkolaborasi dan bagimana prosesnya. Walaupun saya sendiri mempertanyakan apakah tokoh Thomas benar-benar ada di dunia ini, seorang konsultan politik yang mendekati sempurna kepribadiannya..
Saya sangat suka buku ini. Sebagi buku fiksi, buku ini seolah nyata karena saya dapat dengan mudah mengaitkan cerita tersebut dengan apa yang ada di negeri saya. Sebagai orang awam, buku ini berhasil mengenalkan saya pada intrik politik, mafia hukum, isi akal bulus mereka yang kotor dan penuh dengan kelicikan, juga pengenalan pola ring mafia-mafia tersebut dari lingkaran dalam sampai yang terluar.
Serta pesan bahwa di tengah abu-abunya dunia, masih ada orang-orang di luar sana yang berdiri tegak dengan kejujuran, kepedulian, semangat menegakan keadilan, dan segala prinsip yang dia bawa semenjak amanah itu diembannya.
This book is highly recommended!

Rate : 4/5 

You May Also Like

0 komentar