Polemik Ujian Nasional 2013

by - April 20, 2013

Dunia pendidikan sedang menjadi sorotan utama masyarakat Indonesia, mengingat peran UN yang sangat krusial yaitu 60% sebagai penentu kelulusan siswa. UN 2013? Ujian Nasional atau Ujian Nuh? Begitu kata masyarakat Indonesia mengenai pelaksanaan Ujian Nasional kali ini.  UN 2013, hadir dengan mekanisme baru demi menjujunjung tinggi kejujuran, namun pelaksanaannya ternyata diluar perkiraan. Ada apa sebenarnya? Dan apa yang saya lihat dan saya rasakan dari kacamata saya sebagai seorang peserta?

Di tahun ajaran 2012/2013 pemerintah telah menetapkan suatu sistem baru di dunia pendidikan. Berawal dari perubahan mekanisme penerimaan mahasiswa baru dengan beberapa perubahan, diantaranya yaitu setiap siswa memperoleh kesempatan yang sama untuk mendaftarkan dirinya ke PTN yang telah disebar dari Sabang sampai Merauke, yang juga dikenal dengan jalur SNMPTN (dahulu SNMPTN Undangan), sedangkan pelaksanaan tes tertulis yang bernama SNMPTN tulis (dahulu) berganti nama menjadi SBMPTN yang diselenggarakan oleh dewan rektor yang diikuti 62 PTN se-Indonesia.
Kemudian, perubahan baru ditunjukkan pada pelaksanaan Ujian Nasional, hal-hal tersebut diantaranya ;

20 Jenis paket soal
Berbeda jauh dari tahun sebelumnya yang hanya menyediakan 5 jenis paket untuk Ujian Nasional, tahun ini pemerintah memberanikan diri untuk menguji pelajar SMA dengan 20 jenis soal yang berbeda. Kenyataannya? Ya, benar-benar tersedia 20 paket yang berbeda. Bukan hanya pengacakan pada nomer soal yang biasanya sama dengan SKL, tapi soalnya pun berbeda, namun dengan tingkat kesulitan yang sama.

Barcode
Barcode disini berperan sebagai pengganti kode soal. Biasanya, pada lembar soal tertera paket soal yang ditulis dengan angka/huruf/keduanya, namun kali ini tidak. Siswa tidak mengetahui paket soal yang didapatkan. Dengan barcode pula, soal dan jawaban menjadi suatu kesatuan, tiap-tiap LJUN (Lembar Jawab Ujian Nasional) telah memiliki pasangan soal lain yang mempunyai barcode yang sama dengan barcode yang tertera pada LJUN.  Sehingga pelaksanaan pengerjaan Ujian Nasional menjadi ;

  • Pengawas membagikan soal kepada peserta
  • Peserta memeriksa satu persatu soal untuk memastikan soal tersebut telah lengkap/tidak, karena jika terjadi kesalahan maka soal beserta LJUN tersebut harus diganti
  • Apabila tidak terjadi kecacatan pada soal, peserta menuliskan nama dan nomer urut peserta pada kotak yang telah tersedia di lembar soal
  • Setelah mengisi data pada lembar soal, peserta merobek LJUN yang menyatu dengan soal
  • Peserta mulai mengisi data dan mengisi jawaban pada LJUN
Segala bentuk perubahan ini dimaksudkan agar peserta ujian mampu mengerjakan dengan jujur, tanpa menyontek, tanpa bertanya kepada temannya, juga menghindari kebocoran soal UN yang marak terjadi pada ujian-ujian yang sebelumnya. Sebuah tujuan yang baik demi terwujudnya kejujuran yang diharapkan dapat dimulai dari bangku sekolah, karena kejujuran merupakan perkara jangka panjang, perihal moral suatu generasi yang kelak akan memimpin negeri ini. Niat ini saya lihat dari apa yang ada pada LJUN, dimana setiap peserta wajib menyalin ulang :
"saya mengerjakan ujian dengan jujur"
serta di bagian belakang LJUN terdapat tulisan :
  "Berdoalah sebelum mengerjakan ujian. Kerjakanlah dengan jujur. Karena kejujuran adalah sebagian dari iman"
Namun sangat disayangkan tujuan ini tidak mendapat respon positif dari seluruh peserta ujian, dan malah menyudutkan kembali pemerintah sebagai institusi yang juga masih jauh dari kejujuran. Sehingga, pelaksanaan ujian dengan 20 paket dan barcode menjadi momok yang sangat ditakuti bagi sebagian siswa yang merasa tidak siap dengan hal tersebut.
Namun sayangnya, mekanisme baru dengan tujuan baik itu tidak diikuti oleh eksekusi yang baik pula. Banyak yang berpendapat bahwa Ujian Nasional kali ini a adalah UN terburuk sepanjang sejarah, UN 2013 amburadul, dan yang lebih mengejutkannya lagi, banyak testimoni yang tertuju pada M. Nuh sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Saya sendiri merasakan begitu banyaknya ke-tidak-kondusifan dan ketidaknyamanan dari pelaksanaan ujian kali ini.

Terlambatnya distribusi soal UN
Entah apa yang sebenarnya terjadi di tubuh kementrian pendidikan sampai-sampai soal-soal yang akan diujiankan tidak tiba tepat pada waktunya. Pihak kemendikbud mempermasalahkan percetakan yang lambat dalam pengerjaannya. Di lain pihak, percetakan mempermasalahkan pemerintah yang hanya memberikan waktu yang singkat kepada percetakan untuk mencetak 20 paket soal.

Salah kirim?
Permasalahan ini terjadi pada UN tahun ini. Soal ujian yang ditunjukan untuk salah satu provinsi di Sulawesi ternyata nyasar ke Provinsi Nusa Tenggara. Tentunya hal ini mengakibatkan terlambatnya pelaksanaan ujian dari waktu yang telah ditentukan.

UN tidak dilaksanakan secara serempak
Katanya Ujian Nasional, tapi mengapa tidak serempak?- Hal ini telah menjadi protes berbagai orang di Indonesia. Tidak serempaknya UN ini dikarenakan terlambatnya distribusi UN, khususnya di 11 provinsi yang baru akan melaksanakan UNpada tanggal 19 April, mundur 4 hari dari jadwal yang telah ditentukan. Lebih menyedihkannya lagi yaitu ada daerah yang baru akan melaksanakan UN pada Hari Senin, berbarengan dengan UN SMP.


LJUN yang tidak memadai
Kualitas LJUN tahun ini menurun drastis dari tahu sebelumnya. Saya sendiri sebagai peserta merasa tidak nyaman dengan LJUN yang akan menentukan kelulusan saya dan juga teman-teman saya. Kertas yang akan digunakan untuk ujian, terlebih akan di-scan seharusnya memilik standar tertentu agar jawaban dapat terbaca di komputer. Kertas LJUN tahun ini terlalu tipis, sangat sensitif, dan juga tidak bersih. Bisa dibayangkan ketika kita menghapus buletan, jika tidak dihapus secara perlahan, huruf pada jawaban akan terhapus karena terlalu tipisnya kertas. Selain itu, banyak bercak pudar pada LJUN, sehingga LJUN tidak putih bersih sebagaimana semestinya. Salah satu media mengabarkan apabila LJUN tidak terbaca dengan scanner, maka jawaban akan diperiksa secara manual. Entah berapa banyak LJUN yang akan diperiksa manual sedangkan pengumuman UN dilakukan pada tanggal 24/25 Mei, dan di beberapa sekolah masih belum melaksanakan UN karena terlalu banyak terjadi kesalahan teknis.

Banyaknya cacat pada soal
Ternyata kesalahan bukan hanya terjadi secara teknis, tapi juga terjadi soal ujian itu sendiri. Seperti banyaknya soal yang tertukar; Hal ini terjadi di Sumut, pada hari pertama ujian yang seharusnya mata pelajaran yang diujiankan adalah Bahasa Indonesia, tapi peserta mendapatkan soal Bahasa Inggris. Selain itu, ada pula dalam satu soal terdapat 2 lembar LJUN. Hal lainnya juga yaitu adanya bercak hitam pada garis-garis barcode yang dikhawatirkan dapat mengganggu proses scanning. Kejadian-kejadian tersebut terjadi pada teman-teman di ruangan saya ujian, sehingga mereka menggantikan soal yang telah mereka dapat dengan soal cadangan lainnya.

Siswa SLB, apa kabar?
Saya gagal mengerti bagaimana bisa lupa menyiapkan soal ujian braille untuk teman-teman yang bersekolah di SLB. Ini sungguh merugikan mereka yang telah mempersiapkan ujian dari jauh-jauh hari tapi tidak difasilitasi dengan optimal. Ujian untuk peserta SLB akhirnya dibantu oleh pihak dari dinas pendidikan dengan cara membacakan satu persatu soal, namun ketika menghadapi soal yang disertai gambar, mereka diharuskan membayangkan sendiri bagimana maksud soal tersebut. Situasi ini masih dapat dikatakan cukup beruntung, karena SLB lainnya ada yang tidak melaksanakan ujian karena tidak disediakannya soal untuk siswa di sekolah tersebut.

Soal UN yang di-fotocopy
Artikel ini saya kutip dari kompas.com edisi Sabtu, 20 April 2013

Jakarta, Kompas - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh menegaskan, daerah-daerah yang kekurangan naskah soal ujian nasional dibolehkan memfotokopinya. Syaratnya, pengawasan ketat polisi, dinas pendidikan, dan perguruan tinggi.

Oleh karena difotokopi, jawaban siswa tidak dibubuhkan pada lembar jawaban, tetapi pada naskah soal. Panitia yang akan memindahkan jawaban siswa dari naskah soal ke lembar jawaban asli atau langsung ke komputer.

”Ini darurat dalam situasi kritis, harus ada solusinya. Selama kerahasiaan bisa dijaga. Kalau sudah darurat begini, mau diapakan,” ujar Mohammad Nuh, di Jakarta, Kamis (18/4).
Di sejumlah daerah, pada UN Kamis kemarin, tak sedikit soal difotokopi. Akibatnya, UN dimulai terlambat beberapa jam.

”Banyak sekolah melaporkan kekurangan naskah UN, saya bilang fotokopi. Ini darurat, tetapi prosedur kementerian mengatasi kekurangan naskah,” kata Kepala Dinas Pendidikan Sulawesi Utara Star Wowor.

Menurut Arnold Poli dari Aliansi Guru Indonesia Sulawesi Utara (AGIS), setidaknya 50 sekolah kekurangan naskah ujian. Persoalan sama terjadi di Gorontalo.

Di Jakarta, Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti mengatakan, ada kekhawatiran di kalangan siswa terhadap hasil ujiannya, apakah dapat terkoreksi dengan baik dan benar.

”Di naskah dan lembar jawab ada sistem barcode. Muncul ketakutan, apakah kerja siswa itu bisa dipindai baik,” kata Retno. Sementara itu, Uyu Wahyudin, Ketua Pelaksanaan dan Pengawasan UN Jawa Barat dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), mengatakan, di Jabar juga ada naskah soal UN yang difotokopi.
 ”Tim pemindaian dari perguruan tinggi harus memindahkan ke LJUN standar. Ini memakan waktu lama,” kata dia.
Cukup membahas carut-marutnya UN 2013. Lantas bagaimana peserta UN menghadapi UN 2013 kali ini?

Saya sungguh merasakan atmosfer yang berbeda dari UN kali ini. Setelah mengetahui sistem 20 paket dan barcode, sejujurnya saya merasa bersemangat untuk menyambut UN tahun ini, karena saya sendiri sangat menginginkan terwujudnya UN yang bersih. Sangat disayangkan semangat saya ini ternyata tidak tersalurkan secara sempurna mengingat bahwa ada banyak sekali masalah pada UN tahun ini. Seusai UN hari pertama, peserta bukan langsung mempersiapkan UN untuk hari selanjutnya, melainkan mengeluhkan dan kecewa terhadap pelaksanaan UN. Bisa kalian bayangkan, siswa SMA yang sedang ujian dihadapkan pada berita negatif tentang UN, padahal UN tersebut belum juga selesai. Fokus peserta pun menjadi terbagi, karena berita-berita UN juga diketahui oleh orang tua peserta yang ikut khawatir sekaligus prihatin. Para pakar juga memprediksi akan banyaknya hasil yang tidak maksimal dengan pelaksanaan UN yang seperti ini.

Belum selesai kekhawatiran peserta mengenai UN, ternyata meskipun pelaksanaan UN mengadapi banyak masalah, hasil daripada Ujian Nasional tetap dijadikan ketentuan siswa untuk mendapatkan PTN. Berita ini saya dapatkan dari akun resmi twitter Kemendikbud. Tapi sejauh ini tidak ada yang tahu bagaimana peranan UN pada SNMPTN, bisa jadi hanya kelulusan saja atau nilai pun ikut berpengaruh pada peniliaian SNMPTN. 

Dengan pelaksanaan yang seperti ini, saya pribadi berharap adanya tindak lanjut dari masalah-masalah di atas. Peserta sudah berupaya untuk tetap melaksanakan UN walaupun menghadapi berbagai permasalahan, karena belajar dan mengikuti ujian adalah tugas utama kami sebagai peserta. Namun setelah mengakhiri ujian, semua peserta ikut khawatir. Diterapkannya mekanisme baru pada angkatan sekarang, membuat para peserta merasa sebagai bahan percobaan, percobaan yang kurang berhasil. Sedang UN adalah bagian penting dari siswa yang membutuhkan hasil yang baik pula.

Sebagai respon dari pelaksanaan UN tahun ini, banyak yang beranggapan bagaimana jika;
UN 2014 ditiadakan?
Saya pribadi mendukung agar pelaksanaan Ujian Nasional tetap ada. UN menjadi standardisasi pelajar se-Indonesia, yang akan mengantarkan pada kesimpulan apakah seluruh pelajar di Indonesia telah mendapat pendidikan secara adil atau tidak, sekolah mana saja yang perlu mendapat perhatian khusus, bagaimana tenaga pengajar di Indonesia, dan lain sebagainya. UN juga akan memacu siswa untuk berusaha sebaik mungkin agar menjadi pelajar yang berwawasan terlebih sebagai penentu kelulusan. Meski di negara maju tidak ada pelaksanaan UN karena sistem pendidikan yang diterapkan pun berbeda dari yang ada di Indonesia, saya mendukung untuk terus diadakannya UN, dengan catatan selalu ada perbaikan dan evaluasi secara menyeluruh dan konsisten dari setiap pelaksanaan UN di setiap sendi-sendi pendidikan sehingga pendidikan di Indonesia dapat lebih baik lagi.

Merdeka!

You May Also Like

0 komentar