Cerita SBMPTN (1)

by - Juli 12, 2013

Ternyata perjuangan saya berujung di tahun ini, di tempat yang telah lama saya idam-idamkan, di ranah yang saya inginkan...

***

Sedikit flashback ke masa-masa sebelum UN...

Saya paham betul bahwa sistem UN tahun ini berbeda dan salahnya saya yaitu tidak mengiringi perubahan yang ada. Kalau boleh saya jujur, persiapan UN saya saat itu jauh dari total. Seadanya. Ya, sekenanya aja saya belajar. Di sekolah, di tempat les, di rumah, saya memang ngerjain soal, tapi eksplorasi saya untuk mengenal lebih dalam tidak ada . Alhasil saya belum mendapatkan semua konsep secara total.
 

Saya juga ingat bagaimana rentetan kelas 12 masih jadi hal yang tidak bisa saya istirahatkan sebagaimana teman-teman kelas 12 lainnya, bahkan di H-7 UN saya masih sibuk menggeluti hal lain ketimbang les. Ini bukan bentuk penyesalan. Apa ya, saya nyebutnya memang pilihan, pilihan saya untuk berusaha membuat sesuatu yang saya anggap baik, pilihan yang saya yakin pasti dibalas suatu hari nanti. Oleh Dia.

UN selesai, saya memasuki masa intensif SBMPTN. Masa-masa intensif sukses memutar balik orientasi dan kegiatan saya menjadi pembelajar yang sesungguhnya. Jujur, baru kali ini saya merasa sebenar-benarnya belajar, mengerjakan soal, mengerjakan try out. Lagi-lagi ini bukan salah apa-apa, sayanya saja yang tidak sepenuhnya berhasil membagi fokus. Saya dan teman-teman berharap besar untuk bisa lolos dalam SBMPTN, walaupun kami sebenarnya berharap untuk diterima di jalur SNMPTN. Sejujurnya.

Pengumuman SNMPTN tepat dua hari sebelum perpisahan. Ah siapa yang berharap tidak diterima sih? Tapi kalaupun diterima, buat saya poinnya bukan karena perpisahan adalah momen dimana semua orang tua murid tau kalau lo udah jadi bagian dari UI atau ITB, atau lainnya...bukan, bukan itu. Jauh dari itu. Diterima SNMPTN sama dengan diistirahatkan, baik secara fisik maupun mental. Gak perlu tiap hari bulak-balik les sampai malem, ga perlu panik dan dihantui ketakutan akan kegagalan setiap harinya. Perasaan saya pada waktu itu benar-benar berkata... 

 "Rabb, Regia mau istirahat..."

***

"Gi...gimana? diterima?"
Ah sms semacam ini menjamur banget setelah pengumuman. Saya masih ingat waktu itu pengumuman jam 16.00 dan saya baru tiba di rumah jam 17.00, jadi selama satu jam di jalan itu pikiran udah kalang-kabut. Timeline udah penuh sama ucapan "Yeee" dan "Yaah". Sedang saya masih ga jelas nasibnya gimana.

Ya, saya gagal di jalur SNMPTN. Layar laptop saya bilang "Maaf, anda belum diterima". Perasaan secara objektif udah saya tulis semuanya di post "Sebuah Penundaan" sambil saya menghibur diri. Ga bisa saya pungkiri, penolakan itu rasanya......memang sakit kok, bahkan untuk beberapa hari setelah pengumuman saya masih mempertanyakan banyak hal, kenapa kenapa dan kenapa. Dan pada akhirnya kita memang cuma bisa nerima dan mengikhlaskan, ikhlas yang berbuat sesuatu bukan diam begitu saja.

Saya inget guru Fisika saya di NF pernah berkata:
"Sekarang ini yang kita harapkan sebenarnya bukan hanya hasil yang baik, tapi juga pemahaman yang baik untuk hasil yang akan kita dapetin besok. Pemahaman yang bisa bikin kita yakin bahwa memang ada jalan lain yang lebih baik selain ini."
Kekuatan yang sangat terasa adalah tidak adanya tetesan air mata di hari itu. 

***

Tamparan keras sukses bikin saya buka mata. Tiga minggu menjelang SBMPTN masih banyak soal-soal yang belum saya kerjakan, TO nilainya gitu-gitu aja, ranking juga seputaran situ aja. But Thanks God, saya dikelilingi orang-orang yang memang mengajak saya berjuang dan berlari. Pengajar-pengajar yang....ah tanpa beliau beliau ini saya cuma bubuk rangginang. Masa-masa intensif berhasil mengkategorikan orang-orang spesial di masa-masa perjuangan saya.

"Jadi apa yang bisa kita lakukan di H-7 SBMPTN? Coba buka-buka lagi soal TO-nya dan kerjakan ulang. Saya yakin kok, kalau yang  memang belajar dengan sungguh-sunggu Insya Allah dapet. Karena tugas kita sebenarnya adalah memantaskan diri dengan apa yang kita inginkan. Apakah kita sudah cukup pantas dengan mimpi kita? Dan yang tahu jawabannya...cuma kalian"
Rasanya nyelekit banget dengernya.

***

"Gak tau kenapa saya khawatir sama Regia"
Kalimat yang sejujurnya pengen dibuang jauh-jauh pas tau kalau hari itu adalah H-4 SBMPTN dan guru lo bilang langsung kalimat itu ke lo.

Post tentang mimpi saya udah banyak banget, menyuarakan mimpi agar ia semakin terngiang di telinga, menyuarakan mimpi sampai ia menjadi bahan bakar semangat buat saya, menyuarakan mimpi dengan harap semoga memang ada orang yang meng-amin-kan doa saya. Beberapa post tentang mimpi saya diantaranya ada di sini dan di sini

***
Duh panjang juga jadinya postnya....


Poinnya adalah: saya amat bersyukur
8 Juli kemarin rasanya seperti "saya hidup lagi".
Memang saya diterima di pilihan ke-2 : Teknik Lingkungan UI, tapi itu benar-benar jauh dari cukup. Saya masih ingat H+1 SBMPTN saya nangis ke guru biologi saya di NF karena ngerasa gak lancar ngerjainnya dan dapet kode soal kemampuan saintek 333 yang jujur buat saya itu susah bgt ketimbang kode soal lain yang saya lihat. Saya juga ingat saya pernah mimpi kalau saya ga lolos SBMPTN, dan ternyata Puput (maba FKUI doi) juga mimpi saya ga lolos SBMPTN di H-1 pengumuman. Dan lagi sesampainya saya di NF saya dipeluk oleh salah satu guru saya karena khawatir kalau saya gak lolos SBMPTN

Benar kata orang kalau hikmah memang baru kita bisa rasakan setelah kita menjalani serangkaian prosesnya. Saya pernah ditolak dan diterima di jurusan yang sama. Saya juga merasa kalau masa-masa perjuangan seperti ini tidak bisa kalau kita cuma berusaha, kuasa-Nya jauh melebihi apapun. Dan ya, mendekatkan diri pada-Nya memang selalu jadi jalan yang tepat. Saya merasa ada beberapa perbaikan pada diri saya, beberapa pembiasaan yang coba saya amalkan, ternyata berbuah manis di kemudian hari. Saya juga bersyukur mendapat kesempatan untuk menjadi pejuang tulis, saya benar-benar belajar banyak dari sekeliling saya, saya diberi cerita yang benar-benar indah, dan yang terpenting saya bersyukur telah memenangkan mimpi saya.

Lagi-lagi pemberian terindah untuk 18 saya Ya Rabb,

Departemen Teknik Sipil 2013
Selamat membadai bersama!

  

Next post : orang-orang dibalik cerita SBMPTN

You May Also Like

1 komentar