30 menit

by - Oktober 29, 2013

Gue benar-benar sedang dalam keadaan banyak mempertanyakan kenapa ini dan itu terhadap suatu budaya. Bahkan, gue pun tidak segan-segan untuk menghubungkan apa yang gue hadapi sekarang dengan masa SMA gue yang sebegitu indah lingkungannya lalu meng-compare keduanya.
Mungkin terkesan sangat jahat dan gue sendiri sadar kalau sebenarnya keduanya memang gak bisa dibandingin.

Sampai pada akhirnya kemarin malem gue makan di tempat yang dekat dengan kosan kakak gue, teh Annisa Dwi Astuti, dan gue bercerita singkat di sana. 30 menit untuk menyimpulkan apa yang gue sedang rasakan saat ini, dan di 30 menit itu juga gue dapet banyak turning point yang memang gue yakini bahwa hal-hal tersebut bisa menjadi solusi untuk gue menentukan sikap ke depannya. Setidaknya dalam waktu dekat ini.

SMANSA itu terlampau indah sampai-sampai kita lupa kalau dunia yang sebenarnya tidak semudah itu untuk dihadapi, tidak semudah itu untuk kita bentuk sesuai dengan apa yang kita inginkan, tidak semudah itu kita jalani karena dinamikanya yang sangat banyak dan tak jarang menguras hati.

Makasih kak untuk menyadarkan Regia kalau gue sudah hidup di dunia yang sebenarnya, dunia yang "inilah Indonesia, Gi". Terima kasih sudah membuka pikiran kalau ternyata ilmu-ilmu yang dulu, yang kita sama-sama yakini begitu luar biasa inputnya, tidak boleh menjadi penghalang gue untuk adaptasi secara menyeluruh dengan nilai-nilai baru yang gue hadapi saat ini.

Rabbi, kuatkan hati ini untuk tetap meyakini bahwa segala kebaikan hanya datang dari-Mu, istiqomahkan hamba untuk tetap berada di jalan-Mu...

You May Also Like

0 komentar