Jadi, gimana?

by - Oktober 15, 2013

Hai.
Gue kembali menyapa, kali ini dari Bogor yang sejuknya gue rindukan saat di Depok. Oia selamat berlibur panjang dan selamat Hari Raya Idul Adha, semoga kita semua bisa mengambil manfaat dan menjadi insan yang lebih baik lagi dari sebelumnya (aamiin).

Di liburan panjang kali ini gue bersyukur karena ada kegiatan positif dari kampus gue dan gue bisa silaturahmi ke rumah nenek gue, tapi di sisi lain temen-temen SMA gue sedang gencar-gencarnya reunian dan sedihnya gue ga bisa ada di tengah sana.

Jadi, apa kabar?
Banyak temen-temen SMA gue yang menanyakan keberadaan gue, yang katanya gue hilang dari peredaran, yang katanya gue keliatan lagi sibuk banget. Well, kalau dirangkum secara keseluruhan kabar gue baik, alhamdulillah. Secara fisik, gue lagi sehat wal'afiat, dan secara batin...gue lagi ngerasa damai. Mungkin karena besok hari raya..ya walaupun terbayang-bayang UTS dan acara malam keakraban. As long as gue masih di Bogor dan gue belum tiba di Depok aktivitas gue belum bisa seproduktif di kosan.

Gimana di UI ?

 
Luar biasa! Gue sedikit demi sedikit belajar dari orang-orang berpengaruh di sana. Linimasa twitter gue mulai dibanjiri tweet-tweet dari perspektif masing-masing fakultas sesuai dengan bidang yang digelutinya. Gue bisa tau kabar negeri gue saat ini dari orang-orang yang menaruh kepedulian tinggi terhadap kemajuan bangsa ini. Ya, gue nyebutnya "orang-orang yang menaruh kepedulian tinggi" karena ga mudah berargumen atas situasi yang ada dan menaruh atensi tinggi terhadap perkembangan informasi yang sedang terjadi.




  Pada saat OKK juga pertama kalinya gue meneriakkan

"HIDUP MAHASISWA
HIDUP RAKYAT INDONESIA"
Ketika gue bertanya mengapa harus mengepal tangan dan berorasi seperti itu, sebuah tulisan menjawabnya
 “Saya sekolah di UI, rakyat yang membiayai, yang mensubsidi. Maka, saya harus berjuang untuk rakyat”
-Alm. Yap Yun Hap, Teknik Elektro UI ’96 (meninggal dalam Tragedi Semanggi II)-
Tapi memang ada banyak hal yang gue pelajari ketika gue menghadapi masa-masa kutek-balairung tiap hari jalan kaki. Di sana, gue dikenalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang ternyata bukan ditunjukkan kepada mahasiswa semata, tapi seluruh jajaran civitas akademikanya. Gue juga diberi tau tentang Fungsi Mahasiswa yang ternyata sebegitu besar pengaruh pergerakannya terhadap kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pejabat negeri kita ini. Selebihnya gue dikenalkan tentang sistem akademis dan UKM yang ada di UI. Unfortunately, gue ga bisa ikut UKM tingkat univ, mengingat jadwal teknik yang katanya cukup berbeda dengan fakultas lain, di sisi lain gue sendiri masing ngeraba-raba sama dinamika di sini. So, gue memutuskan untuk tidak ikut dulu di semester ini.

Gimana di Teknik?



"Kami mahasiswa teknik UI
Semangat gembira jiwa kami
Belajar dan berkarya menuju satu cita
Maju kita maju
Hidup teknik UI hidup teknik UI
Fakult as satuteknik yang kucintai
Hidup teknik UI hidup teknik UI
Fakultas teknik yang kucintai"
Dua bait di atas merupakan satu-satunya lagu yang mampu membuat mahasiswa yang tadinya sibuk menikmati santapannya, sibuk mengerjakan tugas-tugasnya, sibuk bersenda gurau dengan sahabat-sahabatnya membuat mereka seketika berdiri sembari mengepalkan tangan ke atas dan ikut menyanyikannya bersama-sama. Mars teknik dan magnetnya yang begitu kuat menjadi identitas kami: Mahasiswa teknik UI.

Di teknik itu wow sekali.
Warnanya banyak banget, ada 8 warna dari 8 departemen dan masing-masing departemen punya cara sendiri dalam menyampaikan nilai-nilai yang harus dimiliki oleh mahasiswa teknik. Gue sendiri sebagai maba dapet cerita yang berbeda ketika ngobrol sama temen-temen di kelas yang isinya beda-beda departemen. Menarik emang untuk gue coba raba budaya yang ada di sana, atau gue sok tahu mencari tahu budaya mana yang lebih baik. Walaupun pada akhirnya gue selalu berakhir pada kesimpulan kalau semuanya emang gak bisa dibandingin. Akan tetapi, memang gak ada yang lebih baik dan lebih indah dari sebuah keseimbangan.

Gimana di Departemen Teknik Sipil?
Super! So far, gue ngerasa baik-baik aja. Masa adaptasi memang ga bisa gitu aja, untuk bisa menyeimbangkan dinamika yang ada memang ga bisa diem aja. Gue sendiri harus aktif untuk ga bosen-bosen TW-TW (Tukar Wawasan) sama senior tentang kehidupan di sini, proses perkuliahan, tugas-tugasnya, organisasi sama UKM yang ada di sini. Modal untuk tahu banyak hal adalah sebatas bertanya dan punya rasa ingin tahu, karena dari modal itu (yang kata senior-senior gue) bisa bikin kita survive untuk ada di sini.

Kegiatan gue kemarin-kemarin emang gak begitu lowong. Kadang ada kumpul, ada pengenalan dari minat dan bakat, pkm, sampai pelatihan managerial. Di hari Sabtu juga cukup sering ada acara yang memang semuanya seneng-seneng. Gue menikmati momen bareng-bareng, ketawa-ketawa, mengenal lagi temen-temen dan angkatan gue. Gue sendiri mengusahakan untuk meningkatkan kualitas obrolan dengan senior yang ga jarang makan banyak waktu di kantek karena dipenuhi pertanyaan kenapa dan gimana. Gue masih menjalani hari-hari gue sebagai maba yang masih harus banyak belajar, banyak bertanya, banyak mendapat perhatian karena masih dalam masa bimbingan, banyak dibenarkan dan dituntun bagaimana cara yang seharusnya, termasuk belajar untuk menerima semua hal yang ada di sini.

Jadi.....
Kata "maha" pada mahasiswa itulah yang membuatnya berbeda. Sampai saat ini proses pembinaan itu masih berlanjut dan dalam menjalankan prosesnya gue udah ga bisa lagi nerima gitu aja, atau menjalani prosesnya karena memang seperti itu mekanismenya. Buat apa berlelah-lelah pada proses yang kita sendiri gak tahu tujuan dan manfaat ke depannya? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini yang justru seringkali menghasilkan output yang berbeda, semangat yang berbeda. Ketika kita udah tahu jawabannya, maka menjalankannya akan disertai keikhlasan dan keyakinan akan esensi yang ada. Gue sendiri bukan orang yang bener-bener udah berhasil dapet jawabannya. But at least, gue udah tau harus nanya apa.

Dulu, gue menganggap kalau SMANSA itu heterogen, tapi setelah gue keluar dari sana, gue melihat lebih luas lagi, gue mendengar teman-teman gue dari sekolah yang berbeda, SMANSA itu masih homogen. Tingkat kesulitan untuk menggerakan masa yang besar masih terbilang mudah, lingkungannya juga lebih kondusif dan terjaga. Pada akhirnya, gue dan semuanya harus mulai menentukan peran untuk menjadi yang seperti apa. Tapi ada satu pelajaran dari SMA yang masih gue bawa ke sini, menjadi pribadi yang "membaur tapi tak melebur".

Dan terakhir tentang tahapan : tahu --> kenali --> peduli --> cintai
Ternyata proses penanamannya sampai akhirnya bisa terinternalisasi dalam tiap-tiap individu butuh waktu panjang dan butuh respon positif. Gue sendiri baru tau kalau efek dari kepedulian itu besar dan sangat berpengaruh.

"Lawannya peduli itu bukan marah, tapi diam atau cuek" -Kabid Kemahasiswaan IMS 2013-
Satu hal lagi yang gue syukuri, alumni SMANSA di sini bukan orang-orang biasa. Ketua dan Sekretaris Ikatan Mahasiswa Sipil adalah orang yang sudah gue kenal saat SMA, jadi ga ada alasan untuk ga belajar banyak di sini.

Salam semangat dan seimbang!

You May Also Like

0 komentar