Berpindah

by - Januari 10, 2014

Dengan momentum pergantian tahun 2014, gue ingin benar-benar banyak memulai hal baru. Tahun 2013 sudah cukup memberi makna pada gue tentang pahit yang sukses bikin lu ga pengen inget lagi rasanya sampai manis yang lama-lama bisa bikin diabetes.

Gue berulang kali diingatkan untuk cepat move on. Ketika memasuki semester akhir di SMA dimana temen-temen lo ngegas sekenceng-kencengnya untuk belajar, gue ga bisa melakukan itu dengan baik. Gue masih asik dengan segala pergerakan yang ada, masih tertarik untuk memberikan solusi dari sebuah kekosongan. Sebut saja SPL, Oase, Buku Tahunan, dan doa bersama. Gue amat bersyukur pernah menjadi bagian dari pergerakan yang ada, sampai akhirnya move on gue untuk fokus belajar SBMPTN baru dimulai setelah UN. Ga ada istilah basi ketika kepindahan lo amat telat dari hal-hal yang membantu memudahkan banyak orang.

Gua yakin setiap peserta SNMPTN berharap besar untuk diterima di jalur undangan, untuk dapat merasakan perasaan selega-leganya, setenang-tenangnya. Tapi ternyata gue dapat kesempatan untuk merasakan sebuah penolakan dan disaat yang bersamaan lu harus cepat-cepat move on dari kesedihan lo. Alhamdulillah, penolakan membuat gue kenal dengan orang-orang baru, penolakan membuat gue punya kenangan tentang perjuangan optimal yang berujung manis, yang manisnya bisa gue nikmati sampai sekarang.

Perpindahan status ternyata bukanlah proses yang sederhana. Mengenal teman-teman baru yang beragam suku dan bermacam-macam latar belakang membuat gue sadar kalau gue baru menghadapi kehidupan yang sebenarnya. Gue datang sebagai setting-an anak SMANSA dengan budayanya yang kental. Gue sebut kental karena sudah berlangsung dari tahun ke tahun dan menjadi mayoritas anak-anak di sana. Gue menjalani hari dengan prinsip-prinsip kebaikan yang gue pelajari ketika di sekolah. Bagi gue, kebaikan itu mutlak, tidak berubah dimana pun kita berada, ada aturannya, namun sayangnya gue gak cukup kuat untuk membawanya terus secara utuh. Sampai akhirnya gue sempat merasa di titik terjauh dengan Tuhan, gue merasakan rindu yang mendalam dengan mentoring, gue kangen mendengar kata-kata semangat dari potongan ayat-ayat Al-Qur'an, dan alhamdulillah Allah menyelamatkan futur gue dengan gue memulai mentoring, gue masuk Rosil (semacam DKM tingkat departemen) dan penjagaannya dengan  pemanfaatan teknologi sebaik mungkin melalui group liqo, group Rosil yang tak henti-hentinya mengingatkan kebaikan.

Gak berhenti sampai situ, naik turun iman, akademis, semangat, sangat terasa ketika gue sendirian di kosan sambil mentap dinding. Kosong, gak ada yang menemani. Heningnya menusuk ketika gue sadar kalau gue cuma sendirian dan ga ada orang yang gue kenal di kosan gue. Temen-temen gue bilang kalau gue cenderung lebih pendiem dibanding SMA dan itu benar. Sesekali pikiran gue kosong cuma menatap ke depan sampai gue dapat pengalaman kena hipnotis. Menanggapi kejadian itu membuat gue merasa konyol dan polos. 

Jarak benar-benar mempengaruhi kedekatan gue dan sahabat-sahabat gue di SMA. Gue jarang bisa ngobrol sama mereka walaupun kita satu almamater, gue kangen berdiskusi dengan frekuensi sama, gue rindu dimengerti tanpa harus meminta, mereka hanya cukup melihat wajah gue dan mereka mengerti kondisi gue. Ah, kuliah itu memang tentang teman. Orang tua tinggal di kota berbeda, junior tak punya, senior baru di tahap perkenalan.

Dikelilingi calon insinyur membuat gue harus bisa berpikir sistematis, mampu menganalisis dan juga solutif, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Lagi, gue belajar dari teman seangkatan, dari senior, dari teman-teman departemen lain, dari teman-teman fakultas lain. Walaupun cuma ngobrol kecil dan singkat yang intensif, gue tumbuh menjadi orang yang senang berdiskusi, belajar dari orang lain, belajar peduli sama apa yang ada di depan mata dan mengkritisinya bersama.

Posting tentang rangkuman satu tahun kali ini memang berbeda. Gue tidak menceritakan apa yang telah gue lewati setiap bulannya. Berbarengan dengan perpindahan gue menjadi anak kuliahan, gue belajar untuk menyampaikan proses secara ringkas namun berisi. Belum pandai memang, tapi proses belajar ini baru gue mulai. 

Di tahun 2014, bersama teman-teman DTS 2013, IMS 2014, TIS 2014, Rosil 2014, grup mentoring "salsabila", dan kepanitiaan serta kajian yang bisa gue ambil pelajaran dari prosesnya. Tak lupa keluarga yang tanpa gue minta pasti mendoakan dalam sujudnya, serta nama Tuhan di setiap langkah.

Bismillahirrahmanirrahim.
Rabb, aku ingin pindah
menjadi pribadi yang lebih berkualitas dimata-Mu
Allahumma Aamiin

You May Also Like

0 komentar