Bola, merah, dan kekalahan yang biasa

by - Januari 13, 2014

Seperti yang sudah aku kira. Malam ini kau habiskan dengan berjaga di depan kotak yang aku tak tahu berapa inchi ukurannya. Meski tengah malam, meski menjelang subuh, bukanlah masalah untukmu jika warna merah itu yang akan beradu di lapangan. Kau selalu siap siaga tanpa mengantuk selama satu permainan penuh. Kau benar-benar semangat. Matamu berbinar.

Meski permainan bola bukan hal yang asing bagiku, tapi terjaga sepanjang malam demi bola bundar adalah hal yang bukan aku senangi. Mempertontonkan dua puluh dua pemain memperebutkannya kesana kemari terkadang membosankan. Belum lagi kalau tak ada gol  sepanjang pertandingan, aku pasti sudah tertidur, tak peduli berapa skor akhirnya.

Setiap ku tanya bagaimana, kau jawab kalah sembari tertawa, atau kau tertawa dengan muka bersedih. Bagiku itu lucu. Berapa kalipun kekalahan itu datang, pendukung sejati tetap berada di belakang untuk mendukung dan menyaksikan. Sesekalinya menang, kau tidur dengan tenang. Berulang kali. Sampai aku mulai hafal bagaimana akhirnya.

Aku bertanya bukan karena senang dengan bola, senang warna merah, atau memberimu semangat karena kekalahan tim yang kamu unggulkan. Aku bertanya karena senang melihatmu menjelaskan. Kamu tampak hidup. Penuh semangat. Kamu yang sebenarnya dengan senang atau sedih.

Semenjak itu, berdiskusi tentang bola dan merah telah menjadi kebiasaanku, atau caraku untuk sekedar bisa mengobrol denganmu. Mencari tahu jadwal pertandingan. Melihat timeline. Informasi bisa ku dapat dari mana saja
Termasuk darimu
.
.
.
Tentang bola
Merah
dan kekalahan yang biasa

Dan aku memlih untuk mendengar semuanya

utuh darimu

You May Also Like

1 komentar