Padamu, ku berhutang satu senyuman

by - Januari 13, 2014

Kesendirian itu tak jarang membunuhmu. Tatapan kosong menghadap dinding. Keheningan siang sering membuatmu memilih untuk sejenak memejamkan mata. Atau kesunyian malam yang menjadikanmu kian kosong. Aku tau kau tak pernah senang

Atap sore kala itu sibuk mengalirkan hujan ke bumi. Tanah sudah siap menyambut dengan suka cita. Alam bergembira. Namun kamu tidak. Pandanganmu hanya pada jendela yang melambungkan ingatanmu pada rumah. Kamu ingin pulang. Hatimu meluap. Aku tahu kau sangat rindu

Hari kelam. Mendung. Penuh kabut. Sendu. Tak ada kegembiraan. Dirimu kian terkikis oleh kesedihan. Tak ada semangat untuk sekedar menyapa dunia. Kau sibuk dengan duniamu. Dimensi yang tak pernah aku tahu seperti apa rupanya.

Langkahmu kian cepat. Mungkin kamu takut karena hari semakin gelap. Kamu gelisah seperti berpacu dengan waktu. Bunyi petir kala itu seperti menggertakmu. Matamu menantang langit dan jatuh tepat pada seseorang di ujung jalan. Ya itu aku yang memperhatikanmu sejak tadi. Aku tersenyum melihat tingkahmu yang unik. Pikiranmu yang sibuk mengartikan setiap detail kehidupan tetap mengabaikanku. Kau berlalu tanpa menolehku. Berdiri menunggu hujan, lalu pergi meninggalkan pesan.
.
.
.
"Aku melihatnya. Padamu, aku berhutang satu senyuman"
Lalu dunia tak lagi sama. Kesedihan dan kerinduan telah kau obati hanya dengan satu senyuman


Dan bagiku, itu cukup.

You May Also Like

0 komentar