Bertemu, cerita baru, kembali direnggangkan

by - Februari 01, 2014

Selalu ada hal menarik yang bisa kita pelajari dari masing-masing individu.
Bagi gue, libur panjang semester ganjil kali ini adalah momen yang pas untuk belajar dari pengalaman orang-orang sekitar. Acara pengenalan kampus yang dilaksanakan di sekolah berhasil mengumpulkan kembali bagian-bagian suatu kesatuan dari perantauannya dengan warna jas almamater yang semakin beragam warnanya semakin membuat gue tertarik untuk mengenal lingkungannya.

Sejauh ini, gue amat bersyukur masih diberi kesempatan oleh-Nya untuk kembali bertemu mereka-yang-selalu-gue-tunggu-kepulangannya. Jarak memang selalu berhasil menumbuhkan rindu. Suatu pertemuan yang gue buka dengan respon yang beragam, entah merangkul, entah berteriak singkat karena kaget, entah seperti biasa-biasa saja namun hati amat tersenyum, atau mungkin sekedar tegur sapa. Apapun itu, suatu pertemuan yang "mahal" patut mendapat apresiasi.

Seperti mahasiswa baru lainnya, hal pertama yang diutarakan ketika bersua adalah "bagaimana kuliahnya ?". Suatu pertanyaan umum tapi memang mampu memancing tidak hanya obrolan ringan tapi ada hal yang bisa kita ambil dari ceritanya. Gue sendiri mendapati jawaban beragam tentang bagaimana mereka menghadapi masa-masa awal kuliah dengan culture-shock khususnya temen-temen gue yang merantau karena ada perbedaan kebiasaan, perbedaan pola pikir, dan segala macam perbedaan yang membuat mereka harus mencari kawan se-frekuensi.
Jawaban lain yang gue dapatkan juga mengenai akademis, ada temen-temen yang jadwal kuliahnya amat-padat, ada pula yang mendapati satu hari kosong tanpa kuliah, tanya-menanya soal IP pertama, atau bagaimana dosen mengajar. Segala hal rasanya diceritakan dan secara otomatis mereka membandingkan, dan dari sana lah ada suatu pemahaman yang didapatkan, gue mengenal keunggulan dan kelemahan dari asal tempat teman-teman gue berkuliah.
Kita masih terus bertanya, terus menunggu kepulangan teman-teman lainnya, terus bersenda gurau dengan nostalgia masa lalu. Kita ternyata memang butuh kenangan, entah pahit atau manis, entah yang sekarang ingat namun besoknya lupa. Kita butuh kenangan yang selalu meninggalkan kesan, yang berhasil merangkai kembali jiwa-jiwa yang terberai oleh jarak.

Satu hari rasanya bukanlah waktu yang cukup untuk "pulang". Gue gak tau kenapa bertemu teman SMA, atau datang ke acara SMANSA masih dikatakan "pulang". Mungkin untuk mahasiswa tingkat I seperti kami, masa-masa SMA masih terlalu melekat dalam ingatan. Tapi apapun itu, pulang memang selalu membahagiakan, melepas rindu seperti meninggalkan beban, dan tertawa bersama seperti minum obat dari suatu penyakit. Gue merasa "penuh" dan kembali hidup.
Waktu yang singkat membuat banyak orang begitu memanfaatkan setiap pertemuannya. Pada akhirnya, masih banyak hal yang harus dihadapi setelah pulang. Masih banyak hal yang harus diselesaikan setelah pulang. Satu persatunya kembali direnggangkan. hanya direnggangkan oleh jarak, bukan dipisahkan oleh jarak. Kita semua akhirnya kembali menghadapi dunia, menikmati kesibukan, melawan malam, mengetik berbaris-baris halaman, berkumpul dan memecahkan masalah, duduk di kelas, kita semua kembali kepada pola-pola itu.
.
.
.
dan ternyata pola-pola itu adalah kepulangan lainnya yang harus dijemput dengan semangat dan senyuman.

You May Also Like

0 komentar