Dua ; Sempurna

by - Februari 11, 2014

satu
.
.
.
dua
.
.
tiga
.
empat
lima
enam
tujuh
del.....
luh....
semakin cepat
bahkan hitungannya pun tak terkejar


Hujan semakin deras. Tetesannya tak lagi mudah dalam hitungan jari. Semuanya menjadi semakin banyak.
Basah.
Dingin.
Airnya meresap.
Aku ingin pulang.
Meski harus kebasahan. Meski dinginnya menusuk tulang. Meski badan gemetar tak tertahan. Meski keriput menyelimuti tubuh.
Aku ingin pulang.
Lari dari segala drama yang tiba-tiba datang menghujam sehat. Lari dari siklus. Lari dari rutinitas alam. Lari dari ketetapan rencana langit.
Aku ingin berlindung di bawah payung
Menepi dengan sepi.
Meneduh tanpa gaduh.
Tak seorang diri. Karena aku takut. Karena bayangan bukanlah kawan. Karena berkawan selalu membuat nyaman.
Jadi, bolehkah aku ditemani?
Menghadapi segala rintik yang datang menyerang. Menganggap tetes yang hinggap adalah harap. Menjadikan semuanya baik-baik saja.
Jadi, bolehkah aku ditemani?
Mungkin sedikit obrolan akan menjadi menyenangkan. Mungkin sedikit tawa membuat hujan seakan tiada.
Jadi, bolehkah aku ditemani? 
Karena dua bukan sekedar angka
Karena dua menghadirkan sempurna.


Hujan mengalir bersama doa
Dalam senyap, penuh harap
Bermuara pada kehendak Tuhan
Kelak menjadikan semua pinta menjadi nyata

You May Also Like

0 komentar