Menaruh Jeda

by - Maret 09, 2014

Kamu tak sadar kalau kau telah lama duduk di sini. Melingkar bersama teman-teman seperjuangan yang lainnya. Merencanakan banyak hal. Memperdebatkan hal yang tidak kamu tahu apa akhirnya. Mengharapkan ide-ide itu muncul di hadapanmu saat ini juga.
 

Kamu tak sadar kalau kamu telah berjalan ke sana kemari. Memenuhi agenda ini dan itu. Menebus janji orang-orang yang namanya terpampang di mana-mana. Langkahmu tak pernah lelah, sampai-sampai sol sepatumu kian aus tergesek oleh kerasnya aspal.
 

Kamu tak sadar kalau jari-jarimu terus menari tanpa henti di sepanjang hari ini. Mengetik ribuan kata untuk orang penting sampai dia yang kamu sayangi. Menelepon si A sampai Z. Sampai-sampai tulisan di keypadmu kian menghilang tersapu oleh gerakan jari.

Lalu, siapa yang sadar untuk berhenti ? Menikmati aroma kopi hangat dan sepotong roti di sudut jalan ini tanpa kebisingan, tanpa kesibukan, tanpa siapa pun yang ingin mengganggumu.
 

Lalu, siapa yang sadar untuk sejenak beristirahat? Merelaksasi otot-otomu yang tegang setelah kau pakai seharian. Memberi ruang pada waktu tanpa pernah mengikatmu. Membiarkan hari berlalu tanpa pernah kau merencanakannya. Memasrahkan semuanya pada ketetapan langit yang tak pernah kamu tahu apa jadinya.

Lalu, siapa yang sadar untuk menaruh jeda? Sebab kata tampa jeda adalah percuma. Jeda yang tak banyak dan tak sulit, hanya lima kali setiap harinya. Melepas seluruh beban yang melekat di pundakmu pada sujud. Memohon tanpa terbebani dalam kedua tangan. Mengikhlaskan diri. Hanya aku, dan Tuhan.

You May Also Like

0 komentar