A Letter from The Past

by - Juli 20, 2014


Pagi hari sekali, ketika gue bangun untuk sahur, gue mendapat kiriman e-mail dari salah satu sahabat gue. Bagian awal e-mail itu berisikan ucapan selamat karena tepat di hari itu gue 19 tahun. Time flies so fast. 19 tahun sudah berlalu, dan tahun depan gue menginjak kepala dua. Selamat datang, masa dewasa.


Ada yang menarik di bagian akhir e-mailnya. Ternyata dia mencatumkan foto sebuah tulisan yang gue pernah berikan untuk dia 3 tahun yang lalu


Surat yang gue bikin di tahun 2011
Kurang lebih isi suratnya begini,


Dear Debby!
Dor! Apa kabar? Rasanya sudah cukup lama tak bersua. Gimana sekolah (well, gue nulisnya sekolah, bukan kuliah) di FKUI? Betah ga? hoho. Di sana pasti bau obat ya deb? hehe, gue ga betah kayaknya kalau lama-lama di sana. Btw, ambil spesialis apa? kapan sidang? Oia, jangan lupa udang gue pas wisuda, oke?
Di ITB adem banget deb, banyak pohon gedenya. Udah gitu di sini banyak kuliner yang enaaak banget! kapan-kapan gue traktir deh makan si sini. Oia, bulan depan gue mau ke Aceh buat nguji alat pendeteksi gempa yang Insya Allah 75% bener, dan mau mengamati perubahan relief bumi akibat tanggal 26 Desember 2011 lalu (oke ini maksudnya 26 Des 2004, waktu kejadian tsunami). Do'ain gue ya deb haha. Oia, segini dulu aja ya kabar dari gue, nanti gue kabari gue (yang ini jelas-jelas typo)

hug and kiss
R - dari orang tenang yang membicarakan petang (pada saat itu gue terinspirasi dari lagu Gie)
Ketika gue menulis surat ini 3 tahun lalu, gue memposisikan diri gue datang dari masa depan, datang dengan beralmamater ganesha untuk menanyakan kabar salah satu sahabat gue yang sedang berkuliah di FK UI.

But, dream is just a dream. Baik gue maupun Debby saat ini tidak seperti yang gue tuliskan seperti surat di atas. Inilah kita sekarang. Gue di Teknik Lingkungan UI, dan Debby di FKG UI. See? Tiga tahun yang lalu gue mempunyai sebuah mimpi, sebuah perencanaan tentang ingin menjadi apa nantinya, dengan memiliki keyakinan tinggi bahwa masa depan seperti apa yang pernah dituliskan. Manusia boleh berencana, tapi kuasa Tuhan di atas segalanya.

Surat tersebut merefleksikan betul bahwa dalam kurun waktu tiga tahun, segalanya bisa diubah. Segala perubahan yang terjadi, dinamika yang terjadi, semuanya menjadikan kita pribadi yang tak sempat kita bayangkan akan seperti apa nantinya. Mungkin beberapa keheranan kita, pertanyaan besar kita, tak perlu kita cari jawabannya saat ini juga. Mungkin kita perlu membiarkan waktu berjalan, memunculkan jawabannya perlahan-lahan yang ternyata tidak seperti yang kita harapkan, dan pada akhirnya waktu yang membuat kita bisa berdamai dengan kenyataan, dengan kondisi dimana akhirnya kita bisa mengerti kenapa Dia mengirimkan kita kesini, seberapa dibutuhkannya kita di sini, sampai pada akhirnya, kita lah yang merasa sebersyukur itu untuk ada di sini.

Lucu memang menerka-nerka bagaimana kita dalam beberapa tahun mendatang. Selamat menikmati masa kini. Masih ada banyak jawaban yang harus kita jemput di ujung sana. Masih banyak hari yang bisa kita pelajari maknanya. Semoga pemahaman itu segera datang, untuk siapa pun yang sedang mencari arti mengapa kita di sini.



You May Also Like

0 komentar