Lika-liku Commuter Line

by - Juli 03, 2014

Gue mau cerita sedikit tentang seminggu ke belakang. Dikarenakan gue mengambil SP (Semester Pendek) dan kondisinya sekarang sedang bulan puasa, gue memutuskan untuk pulang pergi Bogor-Depok naik commuter line.

Siapa sih yang ga tau penuh-sesak-sempitnya commuter line saat rush hour? sebut saja pagi hari dari jam 6-8, dan sore hari 16-19, waktu dimana orang-orang dari Bogor dan Depok berangkat kerja, atau anak-anak ada yang sekolah, atau mahasiswa pada kuliah. Banyak cerita yang gue alami selama setahun ini naik commuter line. Kalau masalah telat, atau penuh banget sampe kesikut terus diketekin atau ga hadap-hadapan dalam jarak kurang dari 20 cm sambil kegencet susah napas gara-gara penumpang yang naik dorongnya pake punggung sih udah bukan hal aneh. 

Jadi, pernah suatu saat gue naik kereta dan kereta tersebut sedang berhenti di stasiun depok baru. Setelah selesai menurunkan dan mengangkut penumpang ternyata pintu salah satu gerbong gak bisa ketutup penuh (1/4 bagiannya kebuka) dan posisinya tepat depan gue. Alhasil selama satu stasiun gue berpegang kuat ke tiang dan untungnya keretanya jalan pelan-pelan.

Pernah juga ada mba-mba tiba-tiba jatuh ke pundak ibu-ibu, dan ternyata doi pingsan di kereta waktu kereta lagi penuh-penuhnya. Gue tebak sih mba-mba ini baru sekali naik commuter line pas rush hour dan ga tau kondisi lapangannya kayak gimana. Karena kejadian pingsan itu, sepanjang perjalanan sirine bahaya bunyi terus daaan kita harus mindahin mba-mba tersebut supaya duduk, tapi dengan kondisi kereta yang gaya tarik menarik antar penumpangnya sangat kuat, alhasil susah banget buat bawa mba-mbanya duduk.

Gue sendiri pernah kena marah mba-mba.
Jadi ketika di perjalanan gue kedorong keras dari arah belakang gue. Nah karena gue penasaran ada apa di belakang otomatis gue nengok dong. Terus pas gue nengok ada mba-mba berbadan tinggi besar melotot ke arah gue, seakan-akan gue kesel sama doi gara-gara udah dorong gue, padahal maksud gue cuma pengen tau aja barangkali ada suatu kejadian. Melihat muka mba-mbanya serem, gue nengok balik... dan tiba-tiba ada yang bisik-bisik di telinga gue, "ngapain kamu nengok-nengok", gue ga bisa ngomong apa-apa kecuali nelen ludah dan sedikit demi sedikit menggeser posisi gue menjauhi mba-mba itu.

Masih banyak banget kejadian yang pasti.
Dari mulai copet yang diteriakin, mas-mas yang selama satu stasiun ga sadar kalau doi lagi ada di gerbong wanita, anak kecil yang jatuh di antara kereta dan peron, sampe kejadian ada nenek-nenek yang asik duduk di lantai padahal kereta lagi penuh-penuhnya. Gue sendiri ga tega, ga tega karena takut ketendang, dan ga tega karena takut ga kuat berdiri neneknya sepnajnga perjalanan.

Tapi di balik hiruk pikuknya kereta, situasi tersebut mengajarkan gue banyak hal.
Gue belajar keteguhan, kesabaran, dan semangat dari perjuangan mereka-mereka yang bertaruh nasib demi menghidupi keluarganya. Bertahun-tahun, setiap harinya, berdesak-desakan, berdiri sepanjang perjalanan padahal waktu sudah malam. Siapa yang tak ingin duduk sih? siapa juga yang dalam kondisi tidak lelah? siapa yang sedang tak khawatir dengan kondisi anak-anaknya di rumah yang belum makan?
Sepanjang 8 atau 10 gerbong, tiap-tiap orang punya kepentingannya sendiri, entah sedang genting atau tidak, entah sedang buru-buru atau tidak, apapun itu, kondisi emosinya berbeda-beda, dan masih banyak orang-orang yang mendahulukan kepentingan orang lain. Padahal banyak yang sedang kurang tidur karena harus bangun sebelum subuh, berdiri ketika berangkat dan pulang selama di kereta, dan baru tiba di rumah ketika azan isya.
Banyak yang seperti ini.
Tapi mereka menjalani dengan tekun setiap harinya.
Ketika kereta terlambat dan terjadi penumpukan penumpang, kebanyakan orang hanya bisa mengeluh, karena tidak tahu lagi harus berbuat apa, karena terlalu banyak yang menggantungkan hidupnya dalam sebuah kereta. 

Pada akhirnya, saya lama-lama bisa berdamai juga dengan kondisinya.
Salam anker!

You May Also Like

2 komentar