Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung

by - Agustus 03, 2014


Mungkin kamu pernah merencanakan sesuatu, entah untuk jangka pendek, atau pun jangka panjang. Segala aspek dipertimbangkan, tentang baik buruknya, tentang solusinya, sampai akhirnya semua dirasa baik-baik saja. Hingga akhirnya kamu siap untuk terjun, menantang dunia tentang apa yang ingin kamu capai, meski panas  matahari, meski hujan turun lagi, kamu siap berjalan sampai ke tujuan.

Setelah perjalanan dimulai, kamu menemukan kondisi yang tidak pernah kamu tau, tidak pernah kamu bayangkan, kondisi yang tak bisa kamu kendalikan. Kita tidak mengenal jalanan yang akan kita lalui, segala perbekalan yang ada hanya untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri. Terlalu banyak hal tidak terduga yang menghadapkanmu pada situasi yang kamu anggap tak ada pilihan lain, kecuali dengan berdamai dengan keadaan. Toh kalau pun kita tahu, kita tidak bisa berbuat banyak. Ini bukan harta maupun tahta, karena dia hanya ingin kita mengikuti adat yang ada di sana. Adat yang tak pernah kamu jalani sebelumnya, adat yang ingin kamu hindari tapi kamu tak bisa lari. Toh kalau pun lari, kamu harus mengubah arah tujuanmu. Adat yang sedikit demi sedikit mengikis prinsipmu yang sudah kamu bangun bertahun-tahun lamanya.

Sampai akhirnya, perlahan demi perlahan waktu telah mengubah kamu sesuai ketetapan langit. Sedang kamu tidak bisa berbuat banyak, seakan-akan memasrahkan semuanya sembari memungut serpihan-serpihan prinsip yang masih tersisa dan menjaganya sekuat yang kamu bisa usahakan. Kamu merasa hilang arah. Kalau kamu sedang melakukan perjalanan laut, maka saat ini kamu seperti di tengah-tengah samudera luas, tanpa nakhoda, tanpa siapa pun yang menemani, terombang-ambing oleh ombak dan angin laut yang kencang, tanpa alat komunikasi, tidak tahu mana utara maupun selatan. Ya, sehilang itu rasanya.

Adalah kamu, yang merasa tidak ada kekuatan lain yang bisa membantumu selain Dia. Adalah kamu pula, yang seringkali menggunakan kekuatan Dia sebagai jalan terakhir, padahal kamu tahu bahwa kamu salah, layaknya manusia lainnya. Maka yang satu-satunya kamu lakukan saat ini adalah terus berdoa sembari mencari arah, mencari pertolongan. Mungkin nanti langit akan membaik, memberikan konstelasi bintang untuk menunjukmu ke arah utara, atau malah memperburukmu dengan mengirim awan cumulu nimbus lalu menghujanimu sampai kamu sakit. Ketetapan langit selalu menjadi misteri.

Yang mereka bilang tentang ungkapan itu mungkin memang benar. "Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung". Di mana kamu berada, maka kamu harus mengikuti adat istiadat dan peraturan yang berlaku. Entah adat itu akan mengubahmu atau tidak, tapi sudah menjadi tugasmu untuk terus menjaga prinsip baik yang sudah kamu bangun lamanya. Semoga saja kamu bisa.

You May Also Like

0 komentar