semua (masih) baik-baik saja

by - Oktober 06, 2014

Sekarang ini, hari-hari terkesan sulit untuk dilalui, atau mungkin kenyataan di lapangan memang seberat itu untuk dijalani. Tahun-tahun memasuki kepala dua dan tingkat dua penuh dengan tantangan; sudah seberapa dewasakah kita? dan apakah hidup sudah dihidupi sebagaimana mestinya?


Seringkali dari kita hanya mengutuki keadaan, hanya mengeluhkan rutinitas, hanya meratapi tugas tanpa mengerjakan, karena memulai memang bisa sebegitu memberatkan. Sering pula tubuh ini menolak, hati pun ikut melemah, dan fisik ikut tumbang, karena hati dan semangat tidak lagi menopang, Padahal, kalau di dalamnya kuat, tidak menutup kemungkinan bahwa diri juga ikut menguat. "Tahu batasan diri, tapi tidak membatasi diri", begitu kata senior bilang.

Segala kelelahan, segala penat yang melanda, hanyalah perkara biasa. Segala rentetan peristiwa yang menenggelamkanmu di titik nadir, adalah sepersekian dari ujian yang ada. Naik turunnya dinamika, sejatinya hanyalah bagian sederhana dari segala sandiwara. Semakin banyak masalah yang kamu hadapi, semakin banyak pula pemahaman yang kamu dapati. Hidup ini adil kok. Bagi mereka yang mau mencoba melihat lebih dalam tentang arti dibalik segala peristiwa.

Kamu boleh marah, kamu boleh menangis. Emosi itu terserah padamu. Tapi, mengapa tak pilih saja untuk berbahagia? Bahagia selalu sederhana. Cukup mensyaratkan hal kecil untuk berbahagia, cukup turunkan parameter yang ada. Maka, kau bisa berbagia saat ini juga.

Tapi memang tidak bisa dipungkiri, amunisi terbaik muncul dari jiwa yang baik, muncul dari optimisme, muncul dari balasan dari kebaikan kita terdahulu. Mereka semua datang, memberi energi positif, memancarkan semangat, mengguratkan senyum keikhlasan, memberi keyakinan, bahwa semua akan baik-baik saja. Satu hal lagi, peningkatan kualitas diri itu penting. Hubungan kita secara vertikal amat berpengaruh terhadap hubungan kita secara horizontal. Ingat itu.

Memasuki semester baru, menjadi bagian dari sebuah keluarga besar, menjadi irisan dari berbagai lingkaran, rasanya begitu menyenangkan. Tapi mungkin tidak semenyenangkan tampaknya. Amanah ini, kewajiban-kewajiban ini, bukan untuk dilihat saja, bukan untuk diketahui saja, Ia butuh kesungguhan hati dari pemiliknya. Bahkan, saking beratnya beban yang dipikul, semakin besar juga reaksi yang diperlukan. Reaksi itu dari mana? Dari kita meminta doa di akhir sujud, "Tuhan, jika kau tak bisa ringankan beban ini, maka kuatkan pundak ini". Bisa sesederhana itu sebetulnya. Keharusan kita memang meminta. Karena kita semua lemah, maka dari itu kuatlah dengan Yang Mahakuat.

Alhamdulillah..
Sampai saat ini, saya (masih) bisa yakin, bahwa semua akan baik-baik saja :)

You May Also Like

2 komentar