#Dedikatif

by - Maret 10, 2016

Bismillahirrahmaanirrahiim.
Sebuah kalimat pembuka yang baik untuk menulis sebuah rangkuman perjalanan setahun yang ga boleh terlewat begitu saja. Sebuah analogi sederhana bagaikan perjalanan kapal raksasa. Semoga saya tetap bisa memaknainya dengan jujur dan apa adanya.
—————————————————————————————————————-
Tepat setahun yang lalu, saya akhirnya memilih untuk ada dimana setelah galau sana-sini, konsultasi sana-sini. Dengan bermodal mengamati dan tw-tw seadanya (pada saat itu), saya dengan sok berani menerima tawaran Ketua terpilih pada saat itu. Namanya Humayri Sidqi, biasa dipanggil Umay yang baru aja menang dari Sulton yang cuma beda 6 suara. Gak disangka, pilihan ini membawa saya melewati samudera yang tak pernah saya alami sebelumya. Bersama kapal besar, dengan tujuan yang besar pula.Satu tahun kemarin akhrnya saya menceburkan diri ke dalam masalah. Tapi semenjak setahun kemarin juga hari-hari saya penuh dengan cerita.
Kapal Besar itu Bernama IMS
Saya menggambarkan setahun perjalanan ini seperti saya sedang mengarungi lautan luas dengan kapal besar. Besar banget bahkan, karena isinya 193 orang. Nahkodanya mungkin kelelahan jika harus mengarungi seorang diri, beruntungnya dia punya 22 orang lainnya yang siap susah bareng, nangis bareng, bikin salah bareng, bingung bareng, sampai bangkitpun bareng-bareng.
Perjalanan awal kami sangat sulit kawan. Kami kira lautnya yang benar-benar susah ditaklukan, tapi ternyata kami yang se-kosong itu untuk membawa kapal ini mencapai tujuan, Hari-hari kami sibuk dengan mendapat ujian dan perbaikan, kemudian masih salah, lalu diperbaiki lagi, lalu masih tetep ada yang salah. Kami sibuk berkutat di hal yang sama. Kami ternyata sepolos itu. Kami banyak menganggap remeh bahwa semuanya tak akan sesulit ini.
Masalahnya lagi ternyata tim ini bermasalah. Masa-masa dimana kami sibuk mengurusi segelintir orang dan seakan-akan membuat kapal besar ini berjalan dengan auto-pilot. Semuanya sibuk mengurusi diri sendiri dan tim yang kami anggap bermasalah. Lagi-lagi kami berbuat salah. Sampai muncul perasaan yakin bahwa kesalahan merupakan hal absolut yang udah menempel dan ya, kami ga tau gimana caranya memperbaikinya. Muncul sebuah kepasrahan.
Badai Besar itu Datang
Semua permasalahan ini membuat semuanya berantakan. Chaos terjadi sana-sini. Kapal ini berjalanan tidak sesuai arah dan tujuan, dan malah mengantarkan kami pada badai besar. Badainya benar-benar besar. Saya ketakutan. Banyak dari kami yang ketakutan. Saya selemah itu untuk akhirnya cuma bisa menangis. Dan kami pun banyak yang menangis. Saya kesal. Dan banyak juga dari kami yang kesal. Tapi bukan kesal dengan badainya. Badai tak salah. Lagi-lagi kami yang salah.
Semuanya jatuh bangun. Semua ditampar badai. Semuanya basah, kesakitan. Tapi tetap, saya, kami, harus saling menguatkan, saling membangkitkan. Badainya seram sekali kawan, saya takut. Badainya tidak sekali kawan, tapi berkali-kali. Saya takut. Semuanya takut.
Badai yang Menguatkan
Setelah terhempas kesana kemari, terluka sana sini, kami sadar bahwa kami tetap harus berdiri. Semua sakit harus disimpan, harus dikesampingkan. Badai kemarin seperti mengajarkan saya banyak hal. Badai kemarin sore memberi saya ruang untuk merefleksi. Badai yang berisi rangkaian hujan besar, angin topan, ombak besar, petir dan gemuruhnya, membisikkan saya sebuah pemaknaan,

“Membawa kapal besar itu tidak mudah. Yang harus kamu lakukan banyak. Yang harus kamu kerjain banyak. Yang kamu harus pikirin banyak. Mengurusi perahu ini sedianya harus setiap saat. Yang menyalahkan kamu juga akan banyak. Lelah? lelah banget. Pusing? pusing banget. Dan orang-orang belum tentu mau bilang makasih sama kamu. Orang-orang, belum tentu akan apresiasi sama apa yang udah kamu lakuin. Walaupun kamu bilang kamu sudah berusaha maksimal. Walaupun kamu bilang kamu udah megorbankan banyak hal. Modal jalanin semuanya cuma keikhlasan untuk tidak bergerak seadanya, tapi segalanya.Gimana caranya biar ikhlas? Tempatin hati kamu di sini. Kayak quotes orang-orang bilang. Love what you do. That’s the key”
Bahkan badai-badai ini, entah besar atau kecil, adalah hal yang akan menemnai kami selama perjalanan. Menjadi pengingat ketika lupa. Menjadi penegur ketika salah.
Luruskan Niat. Awan Cerah Akan Segera Datang
Setelah perlawan-perlawanan kemarin yang melelahkan, kami sekarang berusaha meluruskan niat. Meniatakan bahwa hal baik memang harus diperjuangkan. Meniatkan bahwa membantu banyak orang itu menyenangkan. Meniatkan bahwa kalau lelah, harus tetap tersenyum, apapun kondisinya.
Hari itu, seperti kami lahir baru. Kami kembali membawa perahu ini kepada tujuan kami, kami menyiapkan diri jikalau badai akan datang lagi, kami menimati hari di tengah lautan lepas dan hembusan angin yang menenangkan diri.
Awan-awan cerah itu sudah berjanji. Dia memang datang. Cuaca yang selalu dirindukan oleh semua pelaut yang berlayar. Awan cerah itu mencerahkan lautan, mencerahkan semua yang naik di kapal ini. Tapi bukan berarti badai tak mungkin menghampiri, tapi kami yang berubah untuk menjadi lebih kuat untuk mengontrol diri dan juga emosi.
Persiapkan Diri, Dermaga Sudah Siap Dihampiri
Kapal besar ini akhirnya tiba. Kapal besar ini akhirnya tiba di tujuan. Dengan kabin yang agak sedikit rusak, dengan layar yang sudah usang, dengan penyok di samping akibat terhempas karang, dengan sedikit banjir di bagian dek kapal, dengan segala kekurangan yang ada, dan maish banyak peristiwa pahit manis selama perjalanan. Ya, kapal ini akhirnya mendarat juga setelah setahun melaut. Setalah terombang-ambing di samudera yang rasanya tak berujung. Dermaga ini, menjadi tempat terakhir persinggahan, walaupun hutang perbikan kapal masih tetap ada, walaupun hutang memeprsiapkan nahkoda-nahkoda selanjutnya tetap harus ada, kapal ini mendarat dengan tenang.
—————————————————————————————————————-
Bisa jadi, perjalanan kemarin merupakan perjalanan yang paling ditakuti sekaligus dicintai. Saya menemukan sebuah pembelajaran keikhlasan di sini. Bahwa untuk bisa ikhlas yang katanya tak usah diucap menyisakkan banyak rasa di dalamnya. Saya menemukan orang-orang dengan perngorbanan yang tak terkira walau tak sedikit yang memandang dengan sebelah mata. 
Bagi saya, terima kasih tak cukup.
Bagi saya, maaf tak terhitung
Semua cerita ini, semua orang-orang ini tidak lebih dari orang-orang yang berarti



Untuk Ikatan Mahasiswa Sipil 2015, terima kasih uatas dedikasinya, terima kasih atas segalanya.
Depok, 29112015
Ditulis 15 hari setelah Hearing LPJ terakhir
Dan selesai ditemani dnegan hujan di Minggu pagi
Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah

You May Also Like

0 komentar