Perubahan Itu Sakit...

by - Juli 24, 2016

Suatu siang di kantin yang penuh banyak cerita, kantin yang pernah jadi tempat gue kehilangan Samsung Galaxy Tab, berkenalan dengan banyak orang, ngerjain tugas, rapat, janjian sama banyak orang, ga sengaja nangis karena pusing banget, bete karena berbagai macam hal,

gue ga sengaja ketemu temen SMA yang alhamdulillah masih menjadi temen obrolan panjang di kuliah,
"Mi, gimana ini, kabar terbaru katanya M*DK cuma 3 hari?"
"Ah biasanya aja reg"
"Biasa aja gimana mi?"
"Ya..gue sih ga aneh dengan perubahan ini. Memang udah pernah gue perkirakan kalau yang kayak gini pasti terjadi. Cuman yang gue kaget ternyata kejadiannya di tahun kita aja. Tapi ya gimana pun juga emang harus berubah sih reg. Perubahan tuh sakit, walaupun sebetulnya niatnya baik. Lu inget ga masa-masa dulu orang demo masalah commuter line, yang pembenahan pedagang stasiun terus demo sana sini, penumpang kereta yang duduk di atap kereta dan bilang kalau yang kayak gini udah enak dan pas, zaman-zamannya kereta lagi mau diubah isinya penolakan-penolakan doang. Tapi coba lu liat sekarang deh, semua orang nyaman naik commuter line sampai-sampai penumpangnya banyak gitu. Sekarang ada ga yang protes dengan konsep commuter line dan stasiun yang baru? ga ada kan? Ya sama aja kayak kita sekarang. Gue coba jalanin aja dengan adanya perubahan M*DK yang cuma sebentar punya niat baik yang bakal nganterin kita ke masa yang baik juga"
.
Gue diem sebentar. Nyerna kata-katanya
.
"Terus kita sekarang harus gimana mi?" Gue nanya memang sengaja bodoh biar gue bisa dipahamkan hal yang baik
"Percaya aja reg. Open minded. Buka pikiran lu dan yakin aja kalau hal ini juga baik. Kalau kita ga terbuka pikirannya, ya ujung-ujungnya sama aja kayak anak SMA yang kesel karena MOS-nya diambil alih sama guru. Tapi karena gue udah duga ini bakal kejadian, gue emang udah konsepin beda, karena emang udah waktunya ganti reg. Ga bisa lagi pake cara dulu."
Obrolan siang itu ditutup dengan keharusan kita untuk Salat Zuhur.
.
.
.
Di hari yang sama, gue masih mencoba untuk nyerna kata-kata temen gue barusan.
Tentang perubahan yang seringkali menyisakkan sakit dan ditolak habis-habisan, namun ketika semua sudah berubah, orang-orang menarik kembali kata-kata mereka dan segala umpatan yang pernah diberikan.
Kadang ketika mau berubah harus dibanjiri dulu dengan rentetan pertanyaan dan diguyur segala keraguan akan keberhasilan, dan seringkali bikin kita ngerasa "rasanya mau mundur aja"dan ujung-ujungnya perubahan yang ada tidak banyak dan menjadi tidak terasa. 
Bahkan...hal baik pun harus berubah
untuk jadi lebih baik
kemudian lebih baik
dan lebih baik lagi.

Jadi, coba sapa dulu perubahannya.
Barangkali kabar baik yang datang.
Kalau bukan?
Ya asikin aja, tinggal ambil hikmahnya :)

Depok, 24 Juli 2016 
Sakitnya di awal aja kok, percaya deh :)


nb : ternyata setelah dipikir-pikir kantek sukses jadi saksi bisu segala rasa yang pernah ada selama kuliah.

You May Also Like

0 komentar