Sementara

by - Agustus 07, 2016

Sementara teduhlah hatikuTidak lagi jauhBelum saatnya kau jatuhSementara ingat lagi mimpiJuga janji janjiJangan kau ingkari lagi
Percayalah hati lebih dari iniPernah kita laluiJangan henti disini
Sementara lupakanlah rinduSadarlah hatiku hanya ada kau dan akuDan sementara akan kukarang ceritaTentang mimpi jadi nyataUntuk asa kita ber dua
Percayalah hati lebih dari iniPernah kita laluiTakkan lagi kita mesti jauh melangkahNikmatilah laraJangan henti disini
(Float - Sementara)
Jadi kebetulan gue lagi sesuka itu sama lagu ini, sama liriknya apalagi. Udah gitu, baru-baru ini gue baca tulisan di harian Kompas edisi 30 Juli 2016 di halaman 25 karya Kristi "Mbak Ipoet" Poerwandari  yang berjudul "This Too, Shall Pass..". Intro dari artikelnya seperti ini,

Bila ditelusuri, pepatah ini lahir dari kaum sufi Persia abad pertengahan, yang kemudian diadopsi dalam pidato kenegaraan Abraham Lincoln pada tahun 1859. ”This too, shall pass” sering dinasihatkan oleh orang yang menyayangi kita saat kita mengeluh karena berada dalam masalah berat. Tetapi, sesungguhnya, ”This too, shall pass”, ”yang ini pun, akan berlalu”, mengandung pesan yang jauh lebih dalam, dan akan sangat membantu menguatkan kesejahteraan psikologis kita, bila dapat diingat kapan pun, saat sedih ataupun saat senang.

Manusia memiliki kapasitas sangat unik, dalam hal dapat secara mental menjelajahi hidup tanpa terbatasi oleh waktu. Kita dapat bertransendensi melampaui ”sekarang” dan ”hari ini” dengan membayangkan masa lalu dan masa depan. Mengenang masa lalu seolah masih hidup di masa sekarang, membayangkan yang belum terjadi seolah itu sudah dan sedang terjadi. Dan, itu dapat kita manfaatkan untuk memaksimalkan kesehatan mental kita dan mendewasakan diri. 

Gue kayak tertampar setelah membaca tulisan Mbak Ipoet (padahal gue gak kenal juga). Di tengah kebingungan, keresahan, dan ketakutan akan masa mendatang yang gue rasakan hari ini. Ketika orang lain memandang ke depan dengan penuh optimisme dan semangat, gue malah menemukan ketakutan akan ketidaksiapan diri gue karena mungkin saat ini gue sedang berada pada titik aman, titik yang..tidak baik, tidak juga buruk, tapi cukup. Bertumbuh secara umur seperti menyisakkan beban moral yang amat berat. Tapi untungnya gue selalu punya semangat untuk berkembang yang membuat gue bilang sama diri gue sendiri life must go on, cuy.

'Yang ini pun akan berlalu' setidaknya memberikan rasa aman bahwa kondisi yang dirasa ga enak, bingung, ngegantung, ga jelas, nyesek, akan menemukan titik temunya, meski entah kapan. Termasuk rasa senang yang bikin hati nyess, momen di mana bikin senyum-senyum, atau hati deg-degan saking bahagianya, juga ternyata akan berlalu. Kita tidak akan berlama-lama di titik nadir dan zenith. Karena ternyata bukan rasa seneng banget yang kita butuhkan, atau kesedihan yang teramat mendalam yang kita hindari, tapi perasaan cukup untuk membuat kita tetap bersyukur dan tidak terpuruk.

Mengingat bahwa people always come and go, dengan rentang waktu yang berbeda-beda, mereka yang disekeliling kita juga sama sementaranya. Pada akhirnya menjadi tugas kita sendiri untuk bisa mengobati rasa sakit, untuk create our own happiness, dan jangan terlalu depend on orang lain. Karena ya balik lagi, semuanya sementara.


Termasuk langit senja, yang keindahanya hanya bisa dinikmati beberapa menit,
sebelum akhirnya langit kembali gelap kembali menidurkan dunia.

This too, shall pass. Tenang dan rendah hatilah manusia yang menghayatinya.


Bogor, 7 Agustus 2016.

You May Also Like

0 komentar