(masih) takut

by - Oktober 23, 2016

Sudah sejauh ini..

.
.
Memasuki tahun ke-4 ternyata begitu berat. Walaupun setiap tahun selalu punya cerita beratnya masing-masing. Tahun pertama yang berat dengan beradaptasi dan memantaskan diri menjadi sebenar-benarnya mahasiswa. Tahun kedua yang berat dengan persiapan memegang amanah dan setengah perjalanan pertama mengemban amanah yang begitu berharga. Tahun ketiga yang berat dengan menutup kepengurusan dan memastikan apa yang dilepas benar-benar dilanjutkan dengan baik....dan Tahun keempat, here I am now, memantaskan diri dalam mengemban gelar Sarjana Teknik sembari perlahan sadar bahwa yang gue genggam saat ini sangat takut untuk gue lepas nantinya....meski sebenarnya gue dan mereka, orang - orang yang saat ini berlalu - lalang di hidup gue tidak benar - benar berpisah, tapi ketakutan ini seakan ingin memenangkan.

Tingkat 4 (InshaAllah yang menjadi tingkatan terkahir di kuliah),
selain beban akademis yang semakin berat, petuah dosen akan kesiapan kerja yang selalu membuat atmosfer kelas menjadi berbeda, pertanyaan kapan sidang yang semakin beruntun, jadi orang yang harus mencontohkan yang baik karena punya 3 adik angkatan yang harus sama - sama dibimbing, dan kenangan masa kuliah yang semakin menumpuk membuat semuanya jadi ga mudah. Bersiap pindah membuat orang mau tidak mau berbenah dengan semua barang - barang yang ada di ruangan, entah lukisan di pojok ruangan, bunga plastik di ruang tamu, tumpukan gelas dari acara - acara seminar, rak buku yang berdebu, atau bahkan kertas usang berisi ucapan, yang di setiap benda punya cerita dan mengantar kita ke dimensi lain, ke hari dimana obrolan masih terngiang, paras orang-orang masih melekat, dan di memori tersebut masih jelas bagaimana riuhnya suasana, atau kehangatan setelah bercerita, candaan karena memperebutkan hal yang tidak penting, sampai detail warna baju yang dikenakan, semuanya adalah memori yang gue ingat karena memang disengajakan untuk diingat selalu, sampai tak jarang air mata menetes bagai memohon untuk dikembalikan walaupun gue paham benar permintaan itu sangatlah bodoh.


Mungkin memang pemikiran skeptis gue akan apa yang di depan gue terlalu berbaya. Disaat semua orang mempersiapkan yang terbaik untuk masa depan,
gue?



malah takut untuk melangkah.
dan ketakutan ini sejatinya bukan kali pertama seorang Regia takut dengan apa yang ada di depan walaupun pada akhirnya selalu lebih mensyukuri apa yang ada di depan.
Semoga semua kekhawatiran mengantar gue untuk mempersiapkan dengan jauh lebih baik,
karena hal - hal tersebut memang pantas untuk diperjuangkan dengan diri terbaik kita




jangan payah, gi
ayolah

blog ini tumbuh dan berkembang bersama gue dan seluruh kisah absurd gue. Cerita pertama waktu SMP yang jatoh di jalan gara-gara takut masuk kelas, perjuangan dapetin SMP yang gue mau, perjuangan dapet SMA yang gue mau, perjuangan masuk PTN yang gue mau, perjuangan gue mau GUIM dan IMS, dan semua cerita yang ternyata akhirnya bikin gue sadar kalau Allah Mahabaik karena banyak dari yang gue inginkan Ia kabulkan.

akhir-akhir ini,
sujud jadi lebih khidmat
tetesan air mata dikala berdoa jadi lebih nikmat


mungkin gue lagi lupa bersyukur
karena dari sana selalu terselip jalan yang tidak pernah disadari sebelumnya
dan di detik gue menuliskan ini, ternyata gue masih punya semuanya yang gue sebut berharga

You May Also Like

0 komentar