Racau #2

by - Januari 13, 2017

"Kebahagiaan harus selalu dicari ke dalam, bukan ke luar. Terbang ke atas tidak akan pernah membuat kita sampai karena langit tak pernah punya ujung untuk digapai. Tapi berenang ke dalam, akan selalu membahagiakan. Karena saat hati kita berhasil menyentuh dasarnya, kita akan tahu: kita sudah punya semuanya" - Academicus 
Create your own happiness. Itu kata-kata yang lagi gue pake akhir-akhir ini. Ada banyak banget hal yang pengen gue lakuin, salah satunya adalah kembali melakukan hal yang 6 bulan kemarin sering gue lakukan. Tapi lagi-lagi kondisi sekarang udah beda dan hal ini yang gue selalu katakan sama diri gue sendiri, "Ayolah gue...ayolah gue. Jangan manja".
Gue coba membuka percakapan berkualitas dengan orang-orang. Tentang life goals mereka, tentang what they are gonna do with their life, tentang pandangan cewe-ke-cowo atau sebaliknya, karena gue merasa sedang pada titik krisis referensi dan sebutuh itu tau perspektif orang lain, berharap gue dapet banyak insight dan gue tau apa yang harus gue lakuin nanti.
Nyatanya ga semua percakapan-percakapan itu mengantar gue ke titik terang. I mean, gue dapet banyak saran, masukan, pendapat, another point of view, tapi ada hal lain juga yang gue dapatkan, yaitu penyesalan atas apa yang baru gue lakukan dan ternyata cukup membuat gue mengutuki diri gue sendiri "bodoh banget gue kenapa bisa ngelakuin itu" dan iya semuanya ga bisa dikembaliin. Here I am now, sedang menyesali keputusan yang gue anggap terburu-buru dan penuh dengan asumsi.
Gue saat ini sedang berusaha membayar rasa penyesalan tapi lagi-lagi gue ga tau perlukah rasa menyesal ini ditebus, haruskan gue benar-benar menyesali, atau jangan-jangan ketergesaan gue saat itu adalah yang terbaik. No one knows. Mungkin nanti setelah serangkaian sebab-akibat ini berjalan, gue bisa tau baik-tidaknya keputusan itu.
Gue coba "berenang ke dalam" menyelami diri gue lagi kalau you have nothing to worry about, bahwa bumi masih berputar, bahwa matahari masih terbit dari timur dan tenggelam di barat, bahwa semua masih baik-baik aja. Walaupun memang ga sepenuhnya baik-baik aja, tapi diri ini butuh sugesti bahwa semuanya memang sedang baik-baik saja.
Perjalanan menyelami diri gue lakukan saat gue duduk lama di kereta Pasar Senen-Lempuyungan, melakukan pendakian gunung dan akhirnya bisa melihat luasnya langit dan menyadari betapa kecilnya rumah-rumah itu, betapa banyaknya manusia yang berlalu lalang, dan betapa banyaknya kesempatan yang masih akan kita temui ke depannya. Untuk semua hal yang direncanakan, maupun yang datang dengan tiba-tiba...


kita tetap masih punya semuanya. Dengan status kepemilikan penuh maupun sebagian, dengan peran yang bermacam-macam, dengan wujud yang beraneka ragam, maupun dengan kondisi yang tak lagi sama. 

You May Also Like

0 komentar