Racau #3

by - Januari 28, 2017

Broken bottles in the hotel lobby
Seems to me like I'm just scared of never feeling it again
I know it's crazy to believe in silly things
But it's not that easy

I remember it now, it takes me back to when it all first started
But I've only got myself to blame for it, and I accept it now
It's time to let it go, go out and start again
But it's not that easy

But I've got high hopes, it takes me back to when we started
High hopes, when you let it go, go out and start again
High hopes, when it all comes to an end
But the world keeps spinning around

And in my dreams, I meet the ghosts of all the people who have come and gone
Memories, they seem to show up so quick but they leave you far too soon
Naïve I was just staring at the barrel of a gun
And I do believe that (Kodaline - high hopes)
Ini racauan ke-3 gue. Masih tentang yang sama. Mungkin rasanya bosan. Tapi berhubung blog ini bertumbuh bersama gue sejak tahun 2009, gue hanya ingin jujur dengan diri gue sendiri. Isi blog ini juga udah berisi hal-hal yang sangat gue senangi sampai hal yang gue hindari. Salah satunya ini : menutup sebuah cerita. Walaupun ini racauan yang ke-3, tapi gue punya harapan besar setelah menumpahkan semuanya: gue cukupkan di sini, semoga racau 3 menjadi akhir tentang cerita yang selalu membuat gue senang saat mengingatnya. Cerita ini, mungkin sudah saatnya diganti.

Menjadi bagian dari perjalanan seseorang ternyata....begitu membahagiakan
Walaupun hanya sebagai yang menemani, tapi pemaknaan-pemaknaan ini pada akhirnya gue temui dalam perjalanannya.

===

Hal ini baru gue sadari ketika gue memiliki deep sharing bersama salah satu teman terbaik gue di kuliah ketika kita duduk di kereta selama perjalanan dari stasiun UI - stasiun Bogor,

"Gue ga nyangka Reg, gue bisa bertahan sejauh ini. Gue baru sadar aja gue ternyata nemenin dia udah jauh banget. Dari bareng-bareng di Rosil, terus dia maju Ketua IMS, dia jadi BPH, dia jadi Ketua Cartala, dia ke Jerman, sampe dia akhirnya lolos KJI ternyata ada gue di sana, Reg"

Kemudian di tengah-tengah cerita temen gue, ada yang membuat gue tertegun. Gue teringat banyak hal. Gue  seperti diajak mundur ke belakang, ada memori yang memaksa untuk keluar, berharap dapat dikenang.
Melihat seseorang bertransformasi, menjalani akselerasi diri, mengalami pahit-manis, menemui banyak tanda tanya, menghapus batas, dan melawan takut, membuat gue sadar bahwa seseorang telah berubah sebegitunya. Seseorang yang pertama kali gue kenal seperti kecebong, penuh kepolosan, dan diajarkan caranya berenang, telah berubah menjadi katak besar yang mengajarkan bagaimana caranya melompat.
Sosoknya telah berubah menjadi magnet di antara paku, taman di tengah kota, ataupun perpustakaan di tengah kampus. Perubahan itu mengantarkan dia menjadi bagian terpenting, menjadi seseorang yang kehadirannya dibutuhkan. Pribadinya kini telah mampu mengajarkan banyak hal, menjadi tempat untuk bertanya, menjadi aktor utama dalam sebuah drama, menjadi sebaik-baiknya pemberi manfaat. Hanya saja gue tidak menyangka, perubahan ini begitu cepat.

Gue yang mengikuti langkah perubahannya bisa jadi belum berbuat banyak. Senyum saat lelah, kata-kata semangat di kala hari terasa berat, candaan ketika situasi tak menyenangkan, menjadi teman berbagi tanya, keluh, dan kesah : terdengar bukan hal besar dalam jangka waktu yang cukup singkat, namun menyisakkan banyak hal bagi gue.

Adalah gue yang belajar banyak dari perjalanan orang lain. Ikhlas dan sabar menjadi kata-kata yang harus gue repetisi di setiap saatnya. Gue ternyata tidak sesabar itu untuk menerima serta merta perubahan kondisi yang terjadi, gue juga tidak berhasil untuk tidak mengeluh sekalipun padahal gue paham bagaimana medannya, gue minta maaf untuk tidak bisa sekuat itu. Gue merasa tidak ada apa-apanya dibanding perjuangan temen gue untuk lebih melapangkan dadanya di situasi yang bisa jadi lebih terpuruk dari yang gue alami, dengan urai air mata, dengan berulang kali mengelus dada, dengan segala upaya untuk terus menerus mengerti, "Karena gue ga mungkin minta dia berubah, berarti harus gue yang berubah, Reg". Tapi percayalah, pernah jadi bagian perjuangan dari perjalanan dia benar-benar membuat diri gue seneng.

Melihat bagaimana hari-hari berlalu saat ini, rasanya semuanya sudah kembali normal, seperti obrolan, sikap, suasana, dan dia yang sangat menikmati dunianya. Dan gue....akan menyusul untuk siap mengukir cerita lainnya. 
"Dan janjiku, bukanlah janji matahari. Yang mampu terbenam untuk kembali terbit lagi." Gue nulis komen di bawah ini di salah salu postingan blog @deayel , secara gak sadar menyuarakan apa yang mungkin selama ini gue butuh dengar.
Aku juga banyak merenung, De. Tentang kata-kata "people come and go". Tapi, hidup adalah lingkaran besar tentang yang datang dan yang pergi. Kejadian perubahan, kedatangan, dan kepergian akan selalu berlari memutari lingkaran besar hidup itu untuk keberlangsungan hidup itu sendiri. Seperti bandara, gak akan beroperasi kalau gak ada kedatangan dan keberangkatan. Mati. Karena mungkin esensinya hidup ya... Memahami setiap yang datang dan yang pergi, entah itu orang atau pun kesempatan atau waktu.

Dan apakah benar bahwa ungkapan "the best will stay"? Mungkin benar. Tapi, sungguh, aku bakal lebih percaya ungkapan ini, "the best will come and go" sama seperti yang lainnya. Karena kembali lagi, hidup adalah lingkaran besar tentang yang datang dan yang pergi. But we will get used to this, karena hidup akan terus berjalan tanpa jeda, tidak ada lengan jam yang istirahat sedetik dan sedikitpun.
Dan meskipun "sometimes we grow apart" atau mengutip kata-kata dari manga favorit aku (bleach), "Along this world, we won’t stop moving forward. Not even if we become separated from one another." hati akan selalu menyimpan mereka (yang datang dan pergi) yang berarti. (Dikutip dari caption di salah satu post instagram @njriyani , orang yang selalu bisa merangkai kata dengan begitu ciamiknya)
Satu lagi, semakin dewasa, rasanya semakin takut untuk berjanji, karena kita tahu bahwa janji ga pernah main-main, bahwa bisa jadi kita tidak punya waktu untuk memenuhi janji kita sampai akhirnya dia bukan lagi jadi orang yang harus dipenuhi janjinya. Namun janji, tetaplah janji, tak pernah semurah itu.
Termasuk post ini. Gue ga bisa janji ini benar-benar yang terakhir. Ga ada yang tau. Namun setidaknya gue paham bahwa cerita pasti punya akhir, seneng atau sedih, ya cerita punya akhir. Gue berusaha menutupnya di racau ke #3, mencoba membuka mata lagi, menyambut semester 8 gue dengan semangat baru, dengan mimpi-mimpi baru, dengan langkah baru.....



...sembari melihat lurus ke depan. Jalan ini bisa jadi masih panjang, kemungkinan masih terbuka lebar, dan dunia masih sibuk menyambut hari yang silih berganti.

You May Also Like

0 komentar