Sebungkus Cerita dari Semangkuk Indomie

by - Januari 25, 2017

"Kadang kau pikir, lebih mudah mencintai semua orang daripada melupakan satu orang. Jika ada seseorang terlanjur menyentuh inti janungmu, mereka yang datang kemudian hanya menemukan kemungkinan-kemungkinan" -Aan Mansyur

Mereka yang sulit membuka dirinya, akan juga sulit menutup masa lalunya. Tidak seperti gali lubang tutup lubang. Tidak semudah memasak air panas. Tidak sesederhana menghapus tulisan pada secarik kertas. Tidak secepat menghabiskan semangkuk indomie goreng dengan telur dan sawi pada atasnya. Rasa bukan mie instan, maupun ayam renyah pada restoran cepat saji. Semuanya berproses. Rasa seperti tumbuhan, semakin kau beri pupuk, semakin ia bertumbuh dan bersemi. Semuanya butuh waktu, entah cepat ataupun lambat. Tapi aku memilih lambat. Sesekali melawan waktu tak ada salahnya.

Ribuan kata yang tertulis telah menjelma menjadi imaji. Kau ada tapi tak ada. Kau nyata tapi tak bisa ku raba. Kau hadir namun tak tampak. Kau lenyap namun berjejak. Kau sekumpulan aksara pada cerita. Kau irama dalam nada. Kau untaian benang pada kemeja. Kau, bagian terpenting dari setiap momen yang tercipta. Kau, satu dari sekian kemungkinan.

Namun sayangnya baju tak bisa dipakai setiap hari, matahari tak bisa bersinar sepanjang pagi, roti tak bisa dibiarkan karena akan menjadi rumah bagi jamur dan bakteri. Ternyata aku, kau, kita, memutuskan untuk saling pergi. Berbalik arah, melawan kebiasaan, dan menerima keadaan, juga tidak seperti makan indomie yang habis dilahap dalam hitungan menit. Aku berpacu dalam waktu. Tapi tak usah tanya juaranya. Aku tetap menuju garis akhir meski tentu saja aku kalah telak.

Kalau kau tak ingin kembali, biarkan aku beraklimatisasi. Menikmati dingin, merasakan terpaan angin, agar aku kuat. Tennag saja, perjalanan  bersama kau bukan seperti indomie yang kenikmatannya terasa hanya sekejap. Kau, satu dari sekian yang berarti. Kau, telah mengukir banyak arti. Disini.


You May Also Like

1 komentar