2016

by - Januari 01, 2017

Tulisan ini dibuat untuk merapihkan kenangan, untuk mencoba mengulas balik tentang apa-apa yang pernah dirasakan dan didapatkan. Hingga akhirnya kita mampu berkaca dan menyelipkan rasa syukur bahwa segala pahit-manis yang melanda punya arti yang besar bagi diri kita, si pembuat cerita.
Terlalu banyak.
Satu dari sekian banyak yang ada adalah akhirnya gue bisa kembali bercerita lagi. Tapi bagaimana pun juga, 2016 menjadi tahun peralihan gue di banyak hal. Ketika tahun 2015 gue penuh dengan naik turun karena IMS membuatnya seperti itu, 2016 penuh dengan naik turun karena...ada banyak hal baru yang gue termukan di sini.
Ya, jadi gue dulu punya kebiasaan. Setiap menjelang pergantian tahun, gue mencoba menuliskan apa yang telah gue jalani selama setahun ke belakang, kayak gini,

http://regia-pursof.blogspot.co.id/2012/12/2012.html -->; tahun 2012
http://regia-pursof.blogspot.co.id/2010/12/tahun-mimpi.html -->; tahun 2010
Waktu tidak akan menghapus apa yang lalu, tapi dia akan membantu kita untuk terus bertumbuh dan dewasa dalam memahami
Post-Power Syndrome ternyata beneran ada
Dedicator
Awal tahun 2016 gue rasanya kosong. Momen ketika hp lo yang tadinya penuh sama chat dari orang-orang dan mendadak ga serame biasanya.
Puncak Pertama!
Walaupun pernah ke Papandayan, tapi sayangnya ga sampe puncak. Dilanjut ke Munara, tapi lebih pantes disebut bukit dibanding gunung. Terus tiba-tiba semesta mempertemukan gue dengan orang baru dan gue diajak ke sini.
Gue di Puncak Syarif Merbabu yang penuh kabut
Gue menghadap puncak Merapi tapi kehalangan awan
Setiap kali pertama dalam hidup selalu menjadi bagian yang membekas. Semoga Januari mendatang diperkenankan untuk menikmati (kembali) Merbabu dengan lautan awan cerahnya.
Someone I Relied
Mungkin foto di bawah bisa menjelaskan,
dari tumblernya truegrey. makasih ya mbak
Bukan siapa-siapa tapi bisa jadi satu dari sekian orang-orang yang gue sebut significant others. Salah satu yang ikut mewarnai dari merah ceria sampai biru sendu. Makasih karena sudah meng-influence hal baru dan hal baik...
Ya, bahkan mulai dari obrolan-obrolan jarak jauh pas gue awal KP.
Maaf ya suka ngomel-ngomel ga jelas.
Dua Ribu Enam Belas! Siap!
Bidang Evaluasi. Walaupun gue masih bingung kenapa temen-temen gue percaya untuk gue mengemban amanah ini.. Dan gue sekarang sadar kalau itu cara mereka untuk tetep bikin gue "ada" dan bikin gue (mau ga mau) mikir, belajar, dan ikut memahami walaupun gue selalu ngerasa otak gue ga pernah nyampe diajak ngomongin hal-hal kayak gitu.
Katanya sesi bidang gue adalah sesi yang paling banyak dihindari, dari mulai orang-orangnya sampai suasananya. Tapi bisa jadi di sisi lain, sesi ini yang selalu membekas, yang masih diingat tanpa kita berniat untuk mengingat.
Makasih banyak banget sudah mengajarkan gue banyak hal baru yang sering gue hindari karena kalau disuruh milih kelembagaan atau kemahasiswaan gue pasti milih kelembagaan padahal keduanya ga bisa dipisahkan. Semoga tetap semangat jadi orang yang gemes kalau ngeliat sesuatu yang salah, yang pusing kalau ada sesuatu yang tidak pada tempatnya, yang "besok ngobrol sama gue ya" tiap hal yang ini gak boleh kayak gini terus.
Orang-orang keren in one frame
Paling bisa emang untuk bikin gue kembali belajar sebenar-benarnya ikhlas.
Mereka Bukan Sekedar Adik
"Reg mau jadi kakak asuh lagi ga?"
"Engga deh, sekali aja cukup. Biar yang lain aja"
Kemudian MADK dicemplungin di bidang eval, dan..
"Reg yakin ga mau jadi kakak asuh?"
"Eh..gue pikir-pikir dulu deh. Gue izin sama Kato Pale Ditta dulu ya"
...dan beginilah gue saat ini.
Gue mencoba bukan jadi kakak, tapi jadi teman karena mungkin gue ga sepantes itu untuk ngajarin banyak hal. Yang gue yakin kita bisa saling bercerita banyak hal, saling bertukar pendapat dari hal penting sampe hal yang ga penting sekaligus karena gue percaya mereka semua bukan sekedar kertas polos yang ga paham apa-apa dan bisa bahkan jadi tempat "tumpah" ketika sang kakak lagi bermasalah.
Mengenal Rifia yang gue banyak belajar dari adek gue yang satu ini karena dia setangguh itu -yang bisa jadi gue mungkin ga kuat kalau jadi dia-
Memahami Adil yang unik -satu dari ribuan orang yang dianugerahi kelucuan di atas rata-rata tanpa berniat utuk melucu tapi diam-diam menyimpan penuh perhatian dan jalan hidup yang ga mudah-
Mengerti Kato yang jangan pernah judge anak ini dari luar aja karena dia punya bakat besar, pemikiran luas, dan cara sendiri untuk memandang sesuatu.
Me-nggeleng-gelengkan kepala karena Yudha, Ditta dan Pale ternyata mengikuti jejak gue jadi BPH IMS. Selamat menyibukkan diri di tempat yang pernah menempa gue segitunya 2 tahun yang lalu ya Yud, Dit, Le. Semoga gue masih bisa bantu kalian.
"Mikroba, be Nice Please"
Reaktor yang masih terus disempurnakan
Memantau bakteri 1x24 jam
Diskusi-diskusi liburan menjalang tahun baru saat manusia di FT bisa dihitung jari
Setelah gue jadi anak kantek, kemudian beralih jadi anak gazeb, akhir-akhir ini dan seterusnya hingga skripsi gue selesai, laboratorium lingkungan bakalan jadi tempat gue banyak menghabiskan waktu sembari menikmati masa-masa bahwa penelitian ternyata bisa seseru itu. Semakin besar semester yang diambil, semakin gue menikmati mata kuliah lingkungan yang walaupun kadang bikin kayak mau mati pelan-pelan tapi ternyata se-seru dan se-mulia itu ilmunya...dan bikin gue menyesal kenapa gue ga belajar serius dari dulu.
Dewantara ini-pun Bersayap
Ini apa? for more information go to page http://sayapdewantara.org/
Kalau setelah IMS gue udah ga ada rapat-rapat...sebetulnya salah besar. Masih ada yang bikin gue telat pulang ke Bogor atau balik ke Depok lebih cepet karena masih ada rapat-rapat. Gimana pun juga, hal-hal yang kayak gini yang bikin gue ga berada di zona nyaman, bikin gue mikir keras, bikin gue ga boleh mager-mageran gi, plis.
Dapur Program
Soket-Fai-Gue-Dea-Ummu-Ujep (dari kiri ke kanan)

Sadewa abis tim building di KRB cuy

Sadewa di IP Fest-Fostering partnership for Sustainable Development Goals
Mid-Night Attack
Masuk Rumah Sakit terus diinfus jam 23.30, keluar rumah sakit jam 06.30, berangkat ke kampus untuk ujian jam 08.30.
Seberarti itu teman-teman angkatan dari mulai dateng ke kosan, nemenin di kosan, beliin teh anget, ngerokin, nganterin ke RS tengah malem, nemenin di RS, sampe ngebayarin dulu biaya rumah sakit, nanyain ujian gue dan maksa gue untuk pulang.
"Ya terserah kamu, kan kamu Engineer-nya"
Ga kebayang aja kalau ternyata suasana kelas di tingkat akhir itu punya atmosfer beda. Kalau dosen lagi ngajar terus beliau nanya ptapi kita balesnya lama dan jawabannya meleeset dari harapan beliau tiba-tiba kalimat ini muncul "Udah mau lulus kok kayak gini" atau "Mau jadi sarjana kok masih aja bingung" atau cerita-cerita nakutin kayak "Kalau kalian tidak berusaha keras dari sekarang, maka tepat satu langkah kalian menginjakkan kaki keluar dari balairung, saat itu juga kalian akan menjadi pengangguran". Gila. Rasanya mistis.
Ga jarang juga diskusi-diskusi kelas udah berubah menjadi, "kalau kalian menjadi seorang konsultan dan kalian mendapati kasus seperti ini, maka apa yang akan kalian lakukan" terus seisi kelas berdiskusi, menghasilkan berbagai jawaban, memberikan berbagai pertimbangan tapi kita semua ga ada yang yakin sama jawaban kita dan satu anak nyeletuk "kalau kayak gini boleh ga bu?" dosen tersebut cuma menjawab "ya terserah kalian, kan kalian engineer-nya". Mungkin kata-kata yang sederhana tapi maknanya sedalam samudera *lebay*. Artinya, kedewasaan dalam memilih, dalam mempertimbangkan, dalam menjwab ada di diri setiap orang. Ga ada jawaban salah. Semuanya tergantung. Tergantung kita, engineer-nya.
Gemash goes to Holcim
pertama kali belajar composting langsung di lapangan
kalau kata Dany, kirain TL nanem pohon, taunya nanem pipa
What's Next?
Ini pertanyaan yang mulai menghantui gue 3 bulan terakhir : Setelah ini, terus apa?
Kalau dulu setelah SMP ya pilihannya SMA, setelah SMA ya pilihannya mau kuliah PTN atau PTS? Tapi setelah kuliah...pilihan terbuka begitu lebar. Antara mau nerusin semangat belajar S2 karena (sebetulnya) seseneng itu sama topik penelitian dan punya keinginan sekolah di luar negeri, atau mau langsung kerja aja punya penghasilan sendiri dan ngurangin beban orang tua, atau mau lanjut program insinyur yang baru-baru ini dibuka, atau mau coba buka usaha dan bikin karya, atau...iya terlalu banyak atau setelah ini. Mungkin masa SMA dulu gue seberusaha itu untuk masuk ITB atau minimal UI dan itu yang membuat gue harus meraih itu di saat itu juga. Tapi sekarang...iya gue punya banget mimpi untuk sekolah di luar negeri, tapi haruskah tepat setelah gue lulus S1? dan semua pilihan ini mengantarkan gue pada kesimpulan kalau gue belum sepaham itu sama diri gue sendiri. Kalau kerja emang udah kepikiran dimana? kalau kuliah S2 emang mau ngambil jurusan apa? kalau ngambil profesi keinsinyuran....emang gue mau beneran mau jadi insinyur? Ketika semuanya udah ga bisa let it flow aja lah, atau gimana nanti..tapi ya nanti gimana.
Gue sedang rindu-rindunya punya deep conversation, dan kebetulan gue akhirnya mendapatkan ini dengan makhluk yang sudah gue kenal semenjak umur 4 tahun. Di tengah perjalanan menuju Bogor dengan batre HP sekarat, gue berasa dapet kuliah umum,
"lo udah ada rencana kerja, ndi?"
"sejujurnya gue basically orangnya suka belajar...gue gatau kenapa gue 3,5 kalau bukan karena beberapa hal dan memang syaratnya udah terpenuhi-terpenuhi aja. Hasrat masih pengen belajar tuh gue masih seneng...dan sejujurnya kalau amin gue lulus, gue takut sih mempertanggungjawabkan sebagai SH. Tapi kalau dipiki-pikir gue abis lulus mau S2 juga ga gitu-gitu banget. Ga tau deh gi, apalagi lapak kerja hukum bingung dah mau ke arah mana saking luasnya."
terus muncul notif low battery lagi dan gue panik ini si Indi pasti masih ngetik panjang lebar
"Se-gajelas-gajelasnya hidup gue, yang paling jelas itu sih, idup bikin orang tua seneng. Dengan tujuan itu dulu yang jelas. Gue juga jadi ga egois dan ambisius sama diri sendiri..misal kayak gue pengen kerja terlalu idealis tapi ga bikin orang tua seneng sih kayaknya jadi ga penting kalau cuman memuaskan hasrat diri"
"Hm...gue terakhir kali bikin seneng orang tua kapan ya?"
"Iyah kapan coba nanya sama diri sendiri. Terkahir kali ga mikirin diri sendiri. Makin anehlah udah gede gini. Ga tau deh pokoknya kalaupun gue kehilangan arah, gue lempeng seenggaknya mau bikin orang tua seneng"
Ga jarang mungkin pertanyan ini muncul "sebetulnya gue kayak gini ngapain sih? buat apa?" dan temen gue cuma berpesan "Goodluck yah Gi, banyak nyenengin diri dan nyenengin orang yang pantes buat dibikin seneng aja" saking mungkin dia terlalu sering melihat gue "berantakan" karena beberapa hal, bermodal percaya bahwa semuanya ga ada yang sia-sia padahal gue selalu bisa milih untuk "iya kita ga boleh dzolim sama orang lain tapi plis jangan juga dzolim sama diri sendiri".


Akhirnya malem itu, mungkin gue tau apa yang harus gue kejar, walaupun dengan cara entah gue S2, entah gue kerja dan lainnya, tapi tujuan gue satu : bikin orang tua seneng, selagi gue punya waktu.


---


Terima kasih kepada makhluk-makhluk Tuhan yang paling sempurna ciptannya karena telah membersamai selama tahun 2016, for the joys and tears, the ups and downs, the black and white-and sometimes grey.
“You wrote down all these things to say goodbye to, but so many of them are good things. Why not just say goodbye to the bad things? Say goodbye to all the times you felt lost, to all the times it was a ‘no’ instead of a ‘yes,’ to all the scrapes as and bruises, to all the heartache. Say goodbye to everything you really want to do for the last time, but don’t go have the last Scotch with Barney — have the first Scotch toasting Barney’s new life because that’s a good thing, and the good things will always be here waiting for you.” - Lily
Mungkin resolusi gue untuk 2017 cuma butuh satu: gue ga boleh takut sama apa yang ada di depan gue.
Selamat bikin cerita baru! :)


To me,
2016 was a year anything can happen

You May Also Like

0 komentar