Catatan Perjalanan : Merbabu yang Ke-2

by - Februari 03, 2017

"Bagiku, petunjuk alam itu adalah bahwa tak ada yang tak mungkin dalam perjalanan. Sesungguhnya, tak ada kebetulan yang benar - benar kebetulan. Setiap pertemuan dan perpisahan itu sudah ada yang mengatur, sudah menjadi guratan nasib. Hubungan anak dan ibunya adalah perjodohan. Hubungan suami dengan istri, hubungan antara anjing dengan tuannya, semua adalah produk perjodohan" -Agustinus Wibowo dalam Titik Nol
Hai! Ya akhirnya kali ini postingan gue kembali normal. Setelah dari kemarin kerjaan gue adalah meracau, kali ini gue mau cerita sekaligus sedikit berbagi (ceilah) tentang cerita pendakian gue ke Gunung Merbabu.

Berhubung sekarang gue lagi libur semester, gue memutuskan untuk mengiyakan ajakan naik gunung temen-temen peer gue sewaktu SMP. Selain gue emang lagi kangen banget naik gunung, gue juga sadar kalau liburan semester kali ini akan gue habiskan di lab, alhasil gue kabur sejenak dari rutinitas lab dan memutuskan pergi ke Gunung Merbabu.

Sejujurnya pendakian gue ke Merbabu kali ini adalah yang kedua kalinya. Pendakian pertama gue lakukan Februari 2016 via Wekas dan turun Wekas (cerita pendakiannya juga ada di post gue yang sebelumnya), sedangkan pendakian kali ini gue dan teman-teman memutuskan untuk melalui jalur Suwanting yang katanya (katanya loh ya) relatif singkat tapi punya pemandangan yang tetep juara.

and here's my story....

9 Januari 2017
Jadi kita semua sepakat janjian di Stasiun Pasar Senen jam 11. Oia gue kenalin dulu siapa aja squad Merbabu gue kali ini
Nbe-Fikri-Gue-Site-Nanda (dari kiri ke kanan)
Jadi kondisinya gini, Nbe Site Fikri berangkat dari stasiun Bogor, gue naik dari stasiun UI tapi alhamdulillahnya gue tetep satu gerbong sama mereka, dan Nanda nyusul ke stasiun karena harus ke kampus buat ngurus wisuda. Ini foto diambil dengan kondisi terburu-buru karena Nanda dateng amat sangat mepet dengan jam keberangkatan kereta, sekitar 8 menit sebelum kereta berangkat dan kita masih harus melalui pengecekan dan bodohnya kita salah loket, tapi untungnya mba-mbanya sangat kooperatif ngasih jalan pintas ke kita untuk pindah loket dan pengecekan tiket kita ga disertai pengecekan KTP karena mba-mbanya takut kita ketinggalan. Setelah 5 tiket di-scan kita ber-5 lari lewat underpass turun tangga terus naik lagi dengan bawa carrier. Rasanya kayak dipaksa pemanasan duluan tapi alamdulillah kita ber-5 berhasil masuk ke kereta dan tepat setelah kita duduk keretanya berangkat. Ceritanya mirip sama 5 cm, waktu Ian (yang berbadan paling besar diantara geng mereka) telat dan bikin yang lainnya khawatir dan bikin lari-larian karena nyaris ketinggalan kereta. Tapi yaudahlah, niat untung menyamakan kita dengan pemain 5 cm gue cukupkan ketika gue bingung harus memerankan Raline atau Pevita. Kandas sudah niat itu.

Di kereta, gue duduk bersebalahan dengan Fikri dan depan gue adalah Nbe dengan ibu-ibu yang mau pulang kampung dan cukup banyak mengajak kami ngobrol, apalagi waktu tau kalau Fikri kuliah di kedokteran, she was amazed and curious, ngomong kalau doter hidup enak dan segala macem, padahal sebelumnya pas di Uber dari Manggarai menuju Pasar Senen melewati RSCM, Fikri cerita gimana dia kuliah, gimana ekspektasi orang-orang terhadap dokter, gimana pandangan orang-orang yang kalau jadi dokter mah hidup terjamin dan bahagia, padahal di balik itu semua ada banyak jerih payah, ada hal-hal kultural yang ga semua orang tau, gimana beban kuliah, gimana ketemu dokter senior, sampai lama-lama biasa aja ngeliat orang berdarah-darah dan makin biasa lagi denger kabar duka. Belum lagi kuliah lama, harus mengabdi dulu, terus kalau kuliah buat spesialis ga makan biaya dikit, yaaa intinya perjalanannya ga mudah, ga kayak yang banyak (ga banyak juga sih, cukup banyak) orang liat secara kasat mata. Oia Site sama Nanda duduk di bangku sebrang kita bertiga.



Di perjalanan sebetulnya gue dan yang lain cukup khawatir karena cuaca di luar hujan dan takut kalau pendakian besok juga diguyur hujan. Ya namanya juga mendaki di musim hujan, harus siap sedia aja.

Stasiun Kutoarjo
Setelah sekitar 7,5 jam di kereta, akhirnya kita sampai juga. Pertama kali sampai sini gue bingung, ini stasiunnya kok sederhana ya, dan sepi juga gitu. Sampai akhirnya kita bertanya-tanya Kutoarjo tuh nama apa ya? Kota? Kabupaten? Kecamatan? Apa ya?
Sesampainya di sini, karena kita bawa carrier segede alaihim gambreng, langsung deh kita ditanya-tanya pake Bahasa Jawa yang please...gue ga ngerti masnya ngomong apa, tapi beruntungnya kita punya Koli! Oia Koli itu juga masuk squad pendakian Merbabu, tapi karena dia kuliahnya di UNS, dia berangkatnya dari Solo langsung ke Kutoarjo. Oia balik lagi, banyak banget orang yang nanyain kita mau naik gunung apa, ke basecamp yang mana, nawarin tumpangan mobil dari pick up, taxi, sampai xenia, bahkan kita dikejar-kejar pas kita bilang mau diksusi, diliatin sama orang-orang sini sambil ditungguin diskusi Well, sejujurnya ga enak banget. Tapi ya itu yang selalu gue rasakan ketika jadi pelancong ke kota lain, apalagi dengan logat beda, masih muda, bawa gembolan/tas gede, tampang celingukan, terus ditanya "dari mana?" terus di jawab dari "Bogor/Depok/jakarta" yang bagi mereka nun-jauh di sana, gue merasa seperti sasaran empuk untuk ditawari berbagai moda transportasi dengan harga yang kadang bikin gue "hah? mahal banget!!!"
Setelah sejam mondar-mandir sana-sini dengan ngeles bilang mau cari makan, kita memutuskan untuk mengiyakan tawaran mas-mas pertama dateng, yaitu dengan mobil Xenia kami ber-6 bayar Rp 500.000,- dari Stasiun Kutoarjo sampai ke depan basecamp Suwanting yang jalannya aja udah nanjak.

Di Stasiun Kutoarjo, abis solat, lengkap!
Setelah semua carrier diiket di atas mobil dan ditutup fly sheet karena malem itu cuaca mendung, kita memutuskan untuk makan malem dulu di tempat yang khas dari kota ini. Akhirnya kita dibawa ke alun-alun Purworejo sambil makan ayam bakar karena harganya murah, tapi untuk suasananya tetep dapet kok. Selesai makan, kita lanjutin perjalanan yang katanya menghabiskan waktu kurang lebih 2-3 jam untuk sampai ke basecamp Suwanting yang ada di antara Magelang dan Boyolali.
Beruntungnya, kita dapet supir yang dia emang udah biasa banget bawa orang-orang naik gunung, apalagi gunung Merbabu. Beliau cerita kenapa akhirnya dia memutuskan untuk menyewakan mobilnya dan mau nganter jauh-jauh orang, beliau juga cerita kalau udah keliling kota karena pernah kerja di Jakarta, kemudian pindah kesana kemari, sampai-sampai beliau bilang "yaa mau gimana lagi toh mas, jalanan udah jadi kehidupan saya". Dulu, beliau adalah orang yang penakut, takut sama banyak hal, apalagi sama hantu-hantu gitu, kemudian nenek/ibunya (gue lupa) bilang, "kalau kamu jadi pemberani, kamu harus hidup di jalan", dan akhirnya beliau memutuskan untuk jadi supir dan menyewakan mobilnya. Padahal beliau udah punya anak dan istri tapi jadi sering ditinggal karena  ya balik lagi "yaa namanya juga usaha mas, mba, harus mau ngelakuin apa aja. Tapi bener  memang yang ibu/nenek (maaf gue masih lupa) bilang, saya jadi berani karena saya hidup di jalan. Jalanan udah ngajarin saya banyak hal. Wah cerita-cerita soal hantu juga udah ga aneh mas. Tapi ya saya makin biasa aja karena udah sering ngalamin kayak gitu". Gue yang tadinya setengah sadar jadi seger lagi demi mendengar cerita masnya. Jalan cerita manusia memang selalu unik, ada aja pembelajaran yang terselip di dalamnya

Basecamp Suwanting
Akhirnya kita ber-6 sampai juga di basecamp Suwanting, kalau ga salah jam 12an dan suasananya sepi banget. Di pos ga ada yang jaga, liat rumah-rumah yang lain juga sepi kayak lagi ga ada pendaki yang istirahat di sana, warganya juga ga ada. Gue akhirnya memutuskan untuk jalan ke beberapa rumah penduduk dan untungnya ketemu sama ibu-ibu yang lagi beresin warung, setelah ngobrol singkat akhirnya kami dianter ke basecamp yang cukup besar, letaknya di sebelah pos, mungkin ini semacam basecamp utama. Tapi setelah di buka pintunya juga sepi, ga ada orang sama sekali tapi ada makanan banyak banget. Selidik punya selidik, ternyata ba'da Isya itu desa suwanting baru aja ngadain acara maulid nabi dan setelah beres-beres acara warganya kelelahan dan langsung istirahat, makanya suasananya sepi.




Sampai di basecamp, kita langsung bersih-bersih, packing ulang nyiapin pendakian besok dan istirahat walaupun beberapa temen gue masih ada yang ngobrol sampai pagi karena mereka ga bisa tidur. Ahiya, padahal masih di kaki gunung nih ya, tapi dinginnya udah kebangetan, gue pun yang tidur kebangun berkali-kali karena ngerasa kedinginan.

Selasa, 10 Januari 2017
Pagi yang membahagiakan waktu gue tau kalau cuaca pagi itu cerah, warga sekitar juga mengabarkan kalau cuaca akhir-akhir ini lagi baik, ga ada badai, dan kalaupun hujan hanya sebentar dan tidak besar. Setelah beli makan nasi-ayam-sambel-sayur yang cuma Rp 9.000,- yampun-ini-murah-banget, gue dan lainnya bersiap-siap. Setelah Fikri ngurus perizinan, kita semua pemanasan singkat dan langsung melakukan perjalanan. Kami memulai pendakian sekitar pukul 08.00

Gaya dulu part 1

Gaya dulu part 2

cuaca Suwanting pagi hari
Pendakian Menuju Pos 1
Jalur pendakian menuju pos 1 jalanan berbatu di kawasan penduduk, kemudian masuk ke kebun sayuran. Trek awal cukup menanjak sedikit namun masih mudah. Tapi untuk gue yang harus bawa badan dan carrier, sebetulnya tetep aja melelahkan. 15 menit pertama pendakian selalu paling melelahkan karena diri gue masih beradaptasi dengan lingkungan. Karena treknya juga bukan tanah, ga tau kenapa gue selalu gampang cape kalau nemu trek gini, tapi gue tetep jalan aja sedikit-sedikit, kalau cape diem bentar beberapa detik ambil napas, terus jalan lagi, ketika temen-temen gue kayak Nbe Koli Site lagi lari-larian, gue dan Nanda yang paling gampang capek dan Fikri yang paling sabar nungguin kita. Setelah melewati kebun penduduk, kita mulai memasuki hutan pinus dan urutan jalan pun ganti jadi Fikri-Gue-Koli-Nanda-Nbe-Site


Berhubung cuaca panas, gue pake topi rimba. Udah gitu karena pas kita nanjak jarak kita dengan pendaki lainnya berjauhan, kita nyalain lagu yang terhubung ke speaker Nanda lewat bluetooh. Pendakian ini begitu....kekinian.

Pos 1!
Istirahat bentar di pos 1
yey checkpoint!

Hutan Pinus Pos 1
Oia, gue lupa pos 1 ini namanya apa, tapi tanda-tanda udah mulai deket sama pos 1 ditandai dengan hutan pinus ini

Menuju Pos 2
Perjalanan menuju Pos 2 adalah drama bagian 1. Karena ternyata untuk menuju pos 2 kita harus melewati 4 lembah terlebih dahulu yang jaraknya cukup berjauhan

1: Lembah Gosong
Lembah pertamaa
Setelah beristirahat yang juga cuma sejenak karena jalan masih panjang dan gue juga memutuskan tidak mau duduk lama-lama karena kalau udah duduk lama biasanya stamina gue malah jadi turun, kita melanjutkan perjalanan. Treknya belum terlalu menanjak, hidup masih baik-baik saja di sini. Di Lembah Gosong, Fikri ngasih tongkat yang dia ambil dari ranting pohon itu ke gue, ceritanya pengganti Tracking Pole yang malah gue tinggal di kosan.

2 : Lembah Cemoro
Lembah kedua : Lembah Cemoro
View Kota mulai keliatan di sini
Semakin lama, treknya semakin menanjak. Tapi yaudah semangat aja. Kalau cape ya duduk bentar, minum, makan coki-coki atau makan madu juga boleh

Ngaso bentar
Gue lagi makan coki-coki malah nuduk
kalau udah kuat, yowes dilanjut perjalanannya, sambil Site nyalain lagu, sambil Fikri cerita, sambil liat pendaki yang juga istirahat

3: Lembah Ngrijan
Anaknya gunung banget

Itu yang digantung di carrier Site bukan terminal, tapi speaker

jalan masih panjang bung...tapi perut mulai keroncongan

istirahat sambil disuguhi pemandangan cantik
yak mangat Nan!

4 : Lembah Mitoh
Gue lepas carrier
di lembah ini kebetulan ada pos air, jadi kita ngisi perbekalan minum kita lagi. Fikri juga mulai banjur kepala karena cuaca makin panas, jarak tempuh rasanya udah jauh banget juga tapi kita belum juga nyampe. Sesuai dengan peta, harusnya lembah ini menjadi lembah terakhir sebelum pos 3. Di antara lembah yang lain, kita istirahat paling lama di sini, sekitar 30 menit dan ngeliat trek kalau pos 2 masih di atas gue ngerasa.....kenapa masih jauh banget..kenapa...kenapa ga sampe-sampe.

dan tenyata bener...treknya makin menyeramkan. Tanjakan curam, pijakan kaki yang ga begitu jelas, belum lagi kalau liat yang kanan dan kiri yang ada cuma jurang




Di bagian trek ini, pendaki yang berpapasan juga punya pertanyaan yang sama, kok ga sampe-sampe pos 2 ya?
Sampai akhirnya Fikri yang beraa paling depan teriak "Wei, udah pos 2 ini. Ayo semangat! Dikit lagi sampe. Kita istirahat di sini"

Pos 2!
Finally, jam sekitar jam 13.00 kita sampe di sini. Di pos ini akhirnya kita solat, makan, lurusin kaki, dan beberapa dari kita memutuskan untuk tidur sebentar





Pos 2 menuju Pos 3
Di sini bagian yang paling banyak drama. Setiap pendaki yang lewat terus kita tanya,"mas berapa lama sampai pos 3 dari sini?" pertanyaan mereka ada yang jawab 2 jam, ada yang 3 jam. Terus pas ditanya treknya ga senanjak trek 2. Jadi dengan informasi itulah gue dan yang lain menemukan optimisme kalau kita masih kuat dan bisa sampe puncak.
Tapi sayangnya yang terjadi ga kayak gitu.
Kita memutuskan mulai jalan lagi pukul 15.30. Istirahat yang cukup lama karena ada yang tidur, dan harus beres-beres dulu, alhasil menuju pos 3 dalam kondisi yang sangat sore.
Trek awal dari Pos 2 menuju Pos 3 hanya sedikit menanjak hingga lama-lama ketika vegetasinya semakin berbeda, treknya semakin menanjak, bahkan ada 3 tanjakan yang karena jalannya tanah licin disediakan tali untuk membantu nanjak. Gue mulai cemas karena cuaca makin gelap dan gue pribadi ga pernah melakukan pendakian gelap. Belum lagi ditambah lelah yang makin kerasa, udara yang makin dingin....gue yang semakin bertanya, "gue bisa ga ya?"

Semakin gelap, persiapan headlamp bung
Waktu lagi cape-capenya nemu tanjakan yang ga beres-beres dan bikin mikir lewat jalan yang mana yang enak dan nafas yang makin terengah-engah, ternyata ketika gue dan temen-temen membalikan badan, kita dikasih pemandangan yang kayak gini

Sunset di Suwanting
Di tengah pesimisnya bisa dapet sunrise besok pagi, Tuhan masih baik dengan memberi sunset yang mengiringi perjalanan.
Di trek ini juga karena treknya sangat menanjak dan semakin gelap, kita jarang-jarang foto di sini

masih berusaha
Kabut mulai menutupi
Di trek ini, jujur, gue banyak sekali mengeluh. Mengeluh karena tidak sampai-sampai, kemudian disaat teriak juga ga ada pendaki lain yang merespon. Koli udah mulai mengumpat karena bingung ini setelah ini harusnya udah sampai tapi nyatanya belum juga sampai. Gue juga sempet jatuh, yang lain juga banyak yang terpeleset. Kecepatan berjalan juga semakin lambat karena malam hari penerangan hanya bergantung pada headlamp. Dingin makin nusuk, kaki makin capek, diterpa angin kencang berkali-kali karena semakin tinggi semakin sedikit jumlah pohon tinggi, badan semakin pegel, tapi kita ga boleh berhenti. "Paksain yaaa, harusnya pos 3 bentar lagi".
Setelah melewati jalan yang memutar untuk menghindari tanjakan terjal yang mepet sama jurang, Fikri dan Site memutuskan jalan duluan, tujuannya untuk mastiin jalan dan langsung mendirikan tenda biar gue dan 3 temen gue yang lain setibanya di pos 3 tidak usah menunggu lama untuk bisa beristirahat.

Pos 3 : Dampo Awang
Setelah 4,5 jam perjalanan, yang bahkan orang lain bilang 3 jam, akhirnya pukul 20.00 kita sampe juga di POS 3. Fikri dan Site langsung membuat tenda karena cuaca semakin dingin. Sekitar pukul 22.30, setelah semua sudah ganti baju, sudah rapih-rapih, kita semua langsung tidur, kecuali Site yang makan dulu. Saking kecapeannya.

11 Januari 2017
Pagi harinya setelah diskusi, kita semua memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan ke Puncak demi mengejar kereta di Stasiun Lempuyungan jam 18.00. Karena pendakian kemarin berlangsung selama 12 jam dari jam 8 pagi sampai 8 malam dan itu hanya samapai pos 3, Fikri mengestimasi waktu kita turun kurang lebih 6 jam, belum lagi kita masih harus packing dan foto-foto. Jadi perjalanan gue dan temen-temen cukup sampai di pos 3, tapi karena udah tinggi (sekitar 2800-2900 mpdl), yha beda 300an meter dengan puncak, view di sini juga udah bagus banget. Bisa liat awan di bawah kaki, bisa liat Merapi dikelilingin awan, bisa liat Sindoro Sumbing dari kejauhan, ini pun tetep bikin perjalanan ke Merbabu antara yang pertama dna kedua tetep beda. 




Setelah kita ngobrol-ngobrol dengan penghuni tenda sebelah, ternyata cuaca di puncak kabarnya berkabut. Entah kenapa rasanya meredam keinginan gue karena masih penasaran dengan sabana merbabu, puncak suwanting, dan terutama puncak kenteng songo. Ini merbabu gue yang ke-2, tapi lagi-lagi gue masih belum kesampean untuk menyentuh puncak tertingginya. "Tujuan dari pendakian bukanlah puncak, melainkan pulang dengan selamat", ya bermodal dari kata-kata itu gue mencukupkan diri gue untuk tetap mensyukuri perjalanan ini menjadi momen berharga untuk cerita pendakian gue. 

Well guys, gue punya banyak makasih sama kalian







Sebuah perjalanan selalu mengajarkan gue banyak hal, terkhusus perjalanan yang tidak pernah mudah. Iya naik gunung salah satunya. Walaupun rasanya capek banget dan ga murah, tapi pasti ada aja orang yang selau ketagihan saat naik gunung. Bagi gue, alam selalu lebih jujur ketimbang manusia, dan alam selalu bisa memberi makna dari setiap langkah kaki : rasa syukur, bahwa manusia memang seharusnya menghamba setelah melihat betapa sempurna-tanpa-cacat ciptaan-Nya.
Gue juga selalu percaya, kalau selama perjalanan pendakian, sifat asli setiap orangnya bisa terlihat di sini ketika dihadapkan masalah, kesusahan, kesenangan, siapakah yang bersabar, siapakah yang lebih dahulu mengulurkan tangan, siapa saja yang pantang menyerah, siapa saja yang banyak berkeluh kesah...perjalanan ini seperti cermin yang menunjukkan siapa diri kita.
"Perjalanan adalah belajar melihat dunia luar, juga untuk melihat ke dalam diri. Pulang memang adalah jalan yang harus dijalani semua pejalan. Dari titik nol kita berangkat, kepada titik nol kita kembali. Tiada kisah cinta yang tak berbubuh noktah, tiada pesta yang tanpa bubar, tiada pertemuan tanpa perpisahan, tiada perjalanan yang tanpa pulang" (Agustinus Wibowo dalam Titik Nol)
Terima kasih sudah membantu gue menyelami diri selama perjalanan. Maaf merepotkan selama perjalanan....


dan terima kasih yang kedua kalinya untuk Merbabu karena sudah menggembleng gue se-gitunya untuk tetap percaya bahwa diri kita, nyatanya, mampu melampaui batas.

nb : btw temen gue juga ikut bercerita tentang perjalanannya, lengkap dengan tips naik gunung untuk pemula, please kindly visit Nadia's blog . Thanks! :)

You May Also Like

0 komentar