Life Must Go On

by - Maret 31, 2017

Tapi ternyata kehidupan terjadi. Life happens.
I learned. I met people. I changed.
Then, I moved on.
Apa hal yang sama menyenangkannya selain menjalani hidup?
Yap. Mendengar cerita dari orang lain tentang bagaimana dia menjalani hidup.

Manusia memang serupa dengan toko buku. Segala cerita dari pahit rasa obat sampe manis yang bisa bikin diabetes ada. Dari cerita paling kapok buat didenger sampai cerita yang pingin diulang - ulang terus bawaanya juga ada. Apapun cerita itu, ya halamannya ga boleh ada yang hilang. Sebuah cerita harus terus berlanjut, dikehendaki ataupun tidak. Persis seperti proses persiapan perpindahan fase yang akan gue alami tidak lama lagi.



Seperti yang selalu gue khawatirkan dan sering gue ceritakan, masa akhir kuliah jadi salah satu masa yang berat buat gue. Gue lagi sering mengelak dari kenyataan, seperti ketika kakak gue bilang ga kerasa kalau gue udah dewasa tapi gue selalu bilang kalau gue tetep merasa masih anak - anak, atau juga saat orang tua gue udah mulai ngobrolin hal yang lebih jauh ke depan tapi gue masih terlalu menikmati gue yang saat ini, termasuk diri gue yang merasa bahwa kuliah sangat menyenangkan dan gue gak mau cepat - cepat lulus padahal ya gue harus lulus tepat waktu gimanapun juga. Segala rasa takut, rasa ingin menghindar, rasa ingin mengelak, ternyata muncul karena 1 hal : gue belum mempersiapkan banyak hal untuk apa yang akan gue jalani ke depan



Growing up is painful, but we can't stay small forever
Salah satu obrolan mahal yang gue dapatkan hari ini disponsori oleh sosok kakak yang hangat dan inspiratif dan gue amat bersyukur bisa menjadi salah satu orang yang pernah melihat kakak ini berproses dari SMP. Teh Arin, nama akrabnya, mengajarkan gue banyak hal - seperti yang biasanya dia lakukan juga, bahwa sepenting itu Gi istikharah dalam memutuskan sesuatu, dan kita, sebagai perempuan harus juga menyiapkan segala hal yang akan kita jalani di masa yang akan mendatang meskipun kita ga pernah tau apa yang akan datang ke kita.

Oke gue detailkan.
Obrolan ini muncul karena teteh gue yang satu ini akan menghadapi fase lainnya dalam waktu dekat ini, sebuah perpindahan besar dalam hidup, perpindahan bhakti dari anak ke ayah menjadi dari istri ke suami.
Iya, fase besar, langkah besar, untuk usia yang mungkin cukup dini.
Namun kedewasaan dia memang besar sehingga keputusan untuk siap menjalani proses yang lebih besar menjadi tidak sebesar kelihatannya, dalam artian, Allah banyak memudahkan prosesnya, aamiin.

Yang menarik adalah, ketika sebuah rencana hidup disusun, target - target ditentukan, namun kesempatan yang direncanakan akan datang nanti nyatanya datang di saat ini, 
we learn how to pivot
Seiring dengan terkabulnya doa - doa, ada banyak kemudahan jalan yang ditunjukkan, meski bukan menjadi target awal kita, meski pada awalnya bukan hal yang kita kehendaki, seperti menikah lebih cepat dari yang direncanakan.

Tapi ternyata jalan itu datang tidak secara tiba - tiba, jalan itu datang karena Dia merasa bahwa hambanya memang telah siap dan sanggup karena ternyata dia memang sudah mempersiapkan dari jauh - jauh hari. Kalau kata petuah yang orang banyak bilang 'memperbaiki diri dulu aja dari sekarang' atau 'dipersiapkan dulu aja dirinya dari sekarang' ternyata itu benar adanya. 'Disaat itu, Gi, aku akhirnya mutusin untuk nyiapin diri dan belajar banyak kayak nyetir mobil, ngerajut, mulai baca-baca buku perempuan dan parenting, rajin ke salon, hal - hal kayak gitu yang pada akhirnya ternyata mendewasakan aku dan disaat yang sama juga orang tua aku merestui.'
dengan niat baik, dan cara yang baik,
semua pintu tiba - tiba terbuka lebar,
it showed me, when you want something, the whole universe conspires to make it happen

Kadang mikir, kapan ya terakhir kali mempersiapkan hal yang akan dijalani ke depan? Mungkin sering terjadi obrolan-obrolan tentang bagaimana kita di masa depan.
Tapi, apa sudah melakukannya? benar-benar mempersiapkannya?
Tetap, kita menyiapkan diri, dan Dia akan menyiapkan kita.

Jadi misalnya menikah bukan masalah cepat atau lambat, tapi masalah siap atau tidak. Sama seperti bersekolah S2, bukan hanya perlu langsung atau tidak, tapi juga apakah kita benar-benar sudah siap belajar lagi, ngerjain tugas lagi, baca puluhan jurnal dan buku setebel bantal  lagi, atau belum.

Jadi kalau ga mau ngerasa takut,  dianggap sudah siap, ya buat persiapan dari sekarang. Kedengerannya sederhana ya? Iya sederhana, tapi seringkali luput.
Kadang juga rasanya malu, diumur segini udah bisa ngapain aja ya?

dan...
setiap menghadapi pilihan, jangan lupa untuk selalu menghambalah, isikharah-lah, kalau kita ingin pintu terbuka lebar,
karena hati, semudah itu untuk dibolak - balik.

Pada akhirnya,
cerita harus terus berlanjut, dan hidup - suka tidak suka, mau tidak mau, siap tidak siap - akan tetap berjalan
'cause the show must go on

Jadi,
sudah siap dengan pertunjukan setelah ini?

You May Also Like

0 komentar