(Bukan) Psikosomatis

by - Mei 28, 2017

"Jangan bertanya, sudah sembuh?
Tidak ada orang yang benar - benar sehat
Aku hanya lebih sakit darimu" 
- Aan Mansyur


Memasuki fase akhir kuliah, yang ada di pikiran gue saat itu adalah I have to deal with skripsi things or lab things. But I was wrong. 
The truth is.. I have to deal with myself
Kayak foto di bawah



Gue masih punya 3 foto lainnya yang kayak gini. Artinya, gue punya 4 cerita untuk sekedar merasa baik gue harus masuk IGD dulu dalam waktu 5 bulan terakhir.
Despite the fact that doctors still couldn't tell me why I need to go to IGD everytime I feel the pain, gue juga berharap gue bukan psikosomatis. Apalagi setelah ada obrolan,
Dokter : "Ini hasil USG ga ada apa-apa. Hasil rontgennya juga baik-baik aja"
Gue : "Jadi saya sakit apa dok?"
Dokter : "Abis ini kita coba metode lain ya. Kamu kuliah? Kuliah dimana?"
Gue : "Di Depok, dok"
Dokter : "Dimana? UI?"
Gue : "Iya dok hehe"
Dokter : "Sama, saya juga spesialisnya di UI. Semester berapa?"
Gue : "Delapan, dok"
Dokter : "Oo lagi skripsian dong ya?"
Gue : "Iya hehe"
Dokter : "Ooo jangan-jangan stress skripsi kali tuh"
Gue cuma bisa ketawa miris

Sedangkan, psikosomatis adalah....
Psiko artinya pikiran, soma artinya tubuh. Jadi psikosomatis artinya adalah penyakit yang timbul dikarenakan oleh kondisi mental atau emosi seseorang. Penyakit ini juga disebut penyakit akibat stress.

Gue melihat irisan kata, walaupun dalam hati gue menolak.
Toh sakit itu wajar. Anggap aja jadi penggugur dosa. Anggap aja lagi dikasih jeda.

"Dua nikmat, kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang" (HR. Al-Bukhari) 

Saatnya berjoged dulu~

You May Also Like

0 komentar