Hampir

by - Juni 18, 2017

Racauan singkat seoang Regia, calon wisudawan UI 2017 setelah akhirnya berhasil melawan dirinya menjalani masa-masa skripsi.


"Sebaik-baiknya skiripsi adalah skripsi yang selesai"

20 Ramadhan 1438 H / 15 Juni 2017
Depok, pukul 09.00 pagi
Cuaca yang cukup untuk sebuah pagi dalam menyambut gue -yang sehabis ketawa ketiwi sahur terakhir di kutek dan secara mendadak sakit gue kambuh tapi syukurlah tidak berlangsung lama-untuk memasuki ruang sidang di kala kampus masih sepi dari lalu lalang manusia.

Ruang A113 Departemen Teknik Sipil, pukul 10.00 pagi
"ya silakan setelah ini Regia bisa menunggu di luar untuk pengumuman kelulusan"
.
Gue keluar dengan cukup lega. Apalagi ditambah komentar Ayu, notulen dadakan di hari itu yang juga bilang,
"Tadi santai banget kok, Reg. Apa ya lo ga keliatan tegang. Tadi agak kehambat sedikit pas pertanyaan Prof yang agak susah, tapi setelah itu lancar lagi. Pas Bu Cindy juga lo santai-santai aja"
Iya, ada senyum mengembang saat itu. "Sedikit lagi, Gi. Sedikit lagi"
Eco, sobi gue dalam menemani mengerjakan skripsi dari malem sampai pagi lagi menunggu gilirannya setelah gue.
.
"Regia ayo masuk"
"Eh? Iya, Bu"
"Jadi setelah tadi didiskusikan bersama dosen penguji dan dosen pembimbing, Regia dinyatakan lulus skripsi dengan beberapa revisi yang harus dikumpul tanggal 19 Juni. Jadi jangan dulu pulang kampung ya"
Suasana cair dengan menebak gue asalnya dari mana. Kata Bogor membuat sedikit tawa karena kampung gue di Bogor dianggap tidak jadi hambatan
"Nah karena sudah dinyatakan lulus, silakan tanda tangan di kertas ini ya. Selamat dulu sinii"
kemudian gue dengan Bu Andari, Prof Djoko,dan Bu Cindy berjabat tangan.
Ah, selesai juga....
Ada sebuah napas panjang yang baru saja dihembuskan
Beberapa detik yang lalu, sidang skripsi gue telah menjadi sejarah. Segala ketakutan, kekhawatiran, telah berlalu.
Selamat memenangkan diri sendiri, Gi.

Gue, pukul 10.15 pagi

Kemudian ucapan selamat acap kali terlantun. Seluruh ungkapan rasa bahagia, haru, lega, dan syukur mengepung. Dari senyum paling bahagia, hingga bekas tetesan air mata terekam di hari itu. Ada memori yang tanpa berniat untuk diingat secara tiba-tiba muncul ke permukaan, gue seperti berjalan mundur...melewati lorong waktu, mengingat kembali percakapan-percakapan, wajah, tempat, suasana, termasuk apa yang gue rasakan di hari itu. Juni 2016 - Juni 2017 sukses menjadi klimaks cerita gue di masa perkuliahan, menjadikan setahun ini terasa amat singkat dan tidak bisa gue deskripsikan segala gejolak yang terjadi di masa-masa itu.
Berakhirnya skripsi sukses membuat orang-orang berceloteh tentang waktu, membuat gue - yang ya ampun mudah banget berurai air mata - merasa bercampur antara haru dan sendu.
"Akhirnya selesai juga ya, Reg. Selamat ya"
"Ya ampun gak kerasa ya udah selesai aja"
"Ternyata 4 tahun itu singkat yaa :')"
"Gaes makasih banyak yaa selama ini :')"
"Kayaknya baru kemaren ya.."
"Yahh kak kok lo lulus, sih"
dan ucapan-ucapan selamat lainnya
sampai ucapan "Reg walaupun udah lulus, tetep kritisin IMS ya" ada di hari itu.
Dari yang tatap muka,
sampai percakapan pada dunia maya.
Dari ucapan yang tidak diduga,
sampai ucapan yang setelah ditunggu-tunggu akhirnya datang juga.
"Thanks loh Reg. Sedih rasanya lau udah lulus. Tapi ya mau gimana, masa kagak lulus lulus"
"Haha syiaal" Gue mencoba menanggapi dengan bercanda, mencoba tidak sedih dalam membacanya
"Tapi bener loh itu, ga bercanda hehe. Siapa anjir yang bakal gue curhatin lagi tentang segala hal"
Ada guratan senyum yang terbentuk... ini cukup :')

Mengungkit apa yang telah terjadi tidak akan membuat waktu mundur walau hanya sedetik, tapi setidaknya hal tersebut membuat kita sadar bahwa semuanya serba sementara, serba akan berlalu. Seperti commuter line yang sibuk dengan kedatangan dan kepergian, membawa orang lama dan mengantar orang baru. Dan kita, yang sedang menunggu kereta, adalah orang yang siap untuk membersamai segala yang datang dan pergi, entah itu orang maupun kesempatan. Kita hanya perlu menikmati pemandangan di luar kereta ataupun aktivitas di dalam kereta selama di perjalanan. Kita hanya perlu menjadikan semuanya tidak sia-sia. Sebab ketika semuanya telah menjadi kenangan, kita hanya perlu mengenangnya meski hanya sesaat, karena kenangan mampu membuat seseorang berbahagia kedua kalinya..

Gue cukup bersyukur mendapat giliran sidang di akhir karena dengan begitu gue punya alasan untuk tetap ke kampus. Mencoba hadir di hari bahagianya teman-teman. Mencoba mengawali percakapan dari orang-orang yang selama ini hanya bertegur sapa. Mencoba mengisi sisa waktu dengan memenuhi janji diri sendiri.
Terima kasih kepada makhluk-makhluk yang selalu berpacu dengan waktu. Teruntuk adik, kakak, dan teman-teman yang tanpa sadar telah menjadi motivasi dan inspirasi untuk gue menutup semuanya dengan baik.

Selamat menikmati bergulirnya waktu.
Dari Regia, yang hampir jadi alumni UI.

Music->*scroll* Forget Jakarta -> Play
...
And I put all my heart to get to where you are Maybe it's time to move away I forget Jakarta And all the empty promises will fall This time, I'm gone to where this journey ends
...




Next post : Skripsi Lyfe

You May Also Like

0 komentar