#SkripsiLyfe

by - Juli 15, 2017

"Mas, Affogato-nya 1 ya"
"Espressonya single shot atau double shot?"
"Double aja"
"Oke, ditunggu aja ya, Mba"

"Akhirnya,
tiba juga masa 'Mata kuliah Spesial : Skripsi' di-klik juga di SIAK"


Januari 2017
itu kata-kata yang terlintas di awal tahun ini. Mungkin kata skripsi bisa aja hanya sekedar skripsi, "ooh skripsi", "yaelah skripsi", atau meme-meme yang isinya bercandaan atau kekocakan tentang orang-orang yang sedang menghadapi skripsi. Ketika gue belum menghadapi #SkripsiLyfe gue pun merasa bahwa kata-kata itu kayaknya berlebihan, masa sih skripsi sebegitunya, emang kalau skripsian gimana sih,
sampai akhirnya gue ada di titik itu,
dan benar, ketika proses skripsi berjalan, dia meninggalkan banyak arti ketika serangkaian prosesnya benar-benar dinikmati.

 ===

"Saya tuh mau kalian nge-lab langsung bukan cuma ngasih sampel/ nunggu orang lain ngukur itu biar kalian paham dan mengalami langsung prosesnya. Gimana suka-dukanya pas ngelab, gimana rasanya pas tau datanya ternyata tidak sesuai hipotesis, gimana cara kalian menanggapi masalah...ya naik-turun itu biasa, tapi kalian akan belajar banyak"- Bu Andari, pembimbing skripsi sekaligus ibu selama di kampus
Gue mencoba menjalani skripsi tidak hanya sebagai syarat untuk lulus, tapi juga untuk gue belajar dan berkenalan dengan dunia penelitian dan perkembangan ilmu pengetahuan, sehingga prosesnya pun menjadi tidak mudah. Peran pembimbing yang punya semangat tinggi untuk ngasih topik yang saat ini sedang dikembangkan oleh para researcher di beberapa negara dan punya semangat untuk mandiri secara finansial membuat gue dan kelompok bimbingan jadi kerja extra.
Gue yang se-gak biasa-itu baca jurnal jadi harus membiasakan diri baca belasan bahkan puluhan jurnal utama yang erat kaitannya dengan topik. Belum lagi jurnal-jurnal lainnya yang harus dibaca untuk mendukung penelitian gue yang seringkali lintas ilmu dan belum pernah dipelajari selama gue mengenyam kuliah. Proses membiasakan diri untuk suka baca jurnal, menanamkan rasa ingin tahu yang tinggi sehigga bikin kita kritis dan ga cepet puas sama hal-hal yang kita dapet, mengasah sense of engineering dalam mendesain sesuatu dan memecahkan masalah, mentransformasikan gagasan menjadi aplikatif.. itu semua benar-benar gue rasakan selama skripsi. Sebetulnya selama kuliah juga dosen ngajarin itu, tapi ketika menghadapi skripsi itu semua kayak lagi di puncak klimaksnya. Kerasanya pake banget.
Juga,
gue yang biasanya mager ikut hal-hal yang berbau penelitian jadi dilarang mager karena gue baru paham ternyata impact-nya besar. Masa-masa skripsi membuat gue lebih menghargai gagasan, hasil penelitian orang-orang, sebuah teori, ide, dan semacamnya karena untuk mendapatkan sebuah keresahan dan kesimpulan ternyata ga mudah.

"Perjalanan dibimbing dengan saya tidak akan mudah, tapi saya bisa pastikan kalian dapat sesuatu"
Ini kata-kata yang beliau lontarkan di masa-masa awal seminar. Dibimbing sama dosen yang bener-bener semangat bahkan semangatnya seringkali ngalahin mahasiswa bimbingannya dan kalau lagi baik bisa kayak ibu sendiri sukses bikin gue dan temen-temen punya ketakutan kalau-kalau kami mengecewakan karena tuntutannya semakin besar walaupun proses pembelajarannya benar-benar banyak.
Selamat ulang tahun, Bu
Gue inget banget pernah dimrahin karena minim progres dan beliau mulai mempertanyakan apakah gue dan temen-temen benar-benar ingin lulus 4 tahun, atau ketika sampel akhir kita buang karena udah diuji padahal harusnya disisakan untuk cadangan kalau-kalau datanya bermasalah, atau kalau ambil keputusan tanpa berkonsultasi. Walaupun gue dimarahin, tapi yang gue dapatkan bukan marah, tapi semacam bentuk perhatian beliau biar gue sama yang lain ga ngulangin hal yang sama, dan marahnya sesuai...dalam artian emang pada saat itu kita pantes dimarahin. Ya salah sendiri suka pada kocak.
Peran dosbing juga ternyata besar banget dalam membuka peluang-peluang yang muncul ke depannya. Gue jadi tau gimana bikin proposal PKM, terus gagal, terus jadi tau mana-mana aja yang suka bikin PKM dan kenapa mereka dapet. Terus beliau sedih, terus gue sama yang lain bingung ini uang kita apa kabar karena buat nyusun reaktor aja mahal bgt pake thermologger dan thermokopel 3 buah buat jadi sensor suhu terus juga pake sensor timbangan ya kalau diitung-itung semuanya buat reaktor doang mendekati 20 juta, belum ngelab dan perintilan-perintilannya. Merinding disko kadang kalau inget pas masa-masa gagal PKM. Sampai akhirnya datang kesempatan baru, yaitu PITTA (Publikasi Internasiomal Terindeks Tugas Akhir) yang merupakan dana hibah. Diajukanlah 2 proposal untuk 7 orang. Selang sebulan kemudian, pengumumannya keluar daan syukur alhamdulillah 2 proposal yang diajukan lolos. Dari yang awalnya bingung gimana buat bayar reaktor sampai akhirnya mau ngelab ga usah mikirin biayanya. Di penghujung masa kuliah , ketika salah satu life accomplishment gue belum terceklis yaitu untuk ikut internasional conference, Allah dengan segala kebaikan-Nya mememberikan penutup yang benar-benar indah.

Semester akhir yang dipenuhi hari-hari di laboratorium ternyata ga se-membosankan dan minim cerita yang gue duga, justru lab jadi saksi bisu setiap kerut dahi, peluh keringat, senyum yang mengembang, hingga tawa lepas ada di sini. Masa-masa ketika pemandangan lantai 4 menjadi kegiatan mengangkut puluhan bahkan ratusan kilogram sampah organik yang diangkut dari lantai 1 ke lantai 4 (ini perjuangan banget) untuk dimasukkan ke dalam reaktor, atau berliter-liter air limbah yang bau banget di angkut pakai dirigen ke lab, ada juga yang bawa separangkat HVAS dan compressor serta puluhan cawan yang siap diapakai untuk ngambil sampel ditenteng ke sana kemari. Belum lagi protes dan keluhan anak sipil maupun adik tingkat yang lewat lantai 4 bilang "ih kok bau sih" terus gue yang lain cuma bisa ketawa miris.
Kadang ada juga peristiwa dimarahin pembimbing karena jarang asistensi, dicari-cari pembimbing karena ga pernah keliatan, ngumpet-ngumpet di lantai 4 karena belum ngumpulin progress sampai cerita dipeluk dosen karena reaktornya berjalan sesuai rencana juga ada di sini.
Hal-hal dramatis yang terjadi di lab karena ada yang nge-furnace karbon yang abis direndam asam sampe-sampe bikin orang-orang lab megap-megap dan langsung lari ke luar karena terpapar baunya, berebut sama temen sendiri dalam minjem alat untuk ngukur parameter, sampai yang ga sengaja mecahin alat lab pas lagi nyuci karena pusing banget juga ada.

Periwtiwa Pecahnya Nessler
Rutinitas datang jam 8 supaya ga keduluan yang lain untuk pake alat sampai laboran pulang lebih dulu karena udah jam 4 sedangkan kita masih ngotak-ngatik data dan bantuin temen yang lain skripsian juga gue dan teman-teman alami. Rasa panik dan khawatir kalau-kalau datanya bermasalah, uji parameter yang ga sesuai teori, dan ketakutan kalau ga bisa menyelesaikan keseluruhan skripsi hingga bab penutup menjadi warna-warni di perjalanan skripsi. Dan di sini determinasi teman-teman seangkatan untuk mencapai target yang sudah mereka tetapkan benar-benar terlihat, menjadi teman-berjuang-bersama untuk bisa lulus 4 tahun ternyata begitu menyenangkan.

Masa skripsi juga mengenalkan gue pada banyak orang. Obrolan-obroalan bareng laboran di kampus ga hanya tentang kegiatan ngelab aja, bahkan udah cerita yang sifatnya pribadi. Gue dan teman-teman juga menjadi punya akses untuk bisa buka ruangan-ruangan lab walaupun Mba Licka maupun Mba Pipit udah pada pulang. Skripsi sampah ini juga menjadi jalan bagi gue untuk membuka percakapan dengan para OB/petugas kebersihan di FT maupun di Departemen. Dari yang awalnya nyapa kecil sampe dibantu ditemenin ke lab lantai 4 walaupun Hari Minggu. Dipinjemin komputer sama Bang Jali. Dibolehin minjem kunci seharian sama Bang Hamid. Dipinjemin gerobak sampah sama Bang Jack sekaligus ngerasain rasanya jadi Bang Jack yang tiap hari bawa gerobak sampah ngelilingin FT (fyi, bawa gerobak sampah ternyata ga gampang, apalagi kalau mau muter dan kalau di jalan turunan). Dibantu ngebersihin sisa air lindi sama Mas Bambang. Dan mas-mas petugas kebersihan lainnya di FT yang selalu kasihan setiap gue nyari sampah dan mungut sampah,

"Mas, hari ini ada rumput yang lagi di potong ga?"
"Ada Neng, buat apa?"
"Saya butuh rumput hijau mas untuk skripsi hehe"
"Ooh ke EC aja neng, ada banyak itu"
kemudian di EC gue menemukan tumpukan rumput dan rasanya sebahagia itu.
Setiap izin,
"Mas boleh minta sampahnya ga?"
"Ya boleh aja neng, tapi untuk apa? itu kan sampah"
"Buat skripsi, Mas"
Kemudian pukul 11 siang di tengah lapangan BP 3 di mana matahari rasanya ada di atas ubun-ubun, gue memindahkan tumpukkan rumput hijau yang baru dipotong ke karung yang udah gue siapin,
"Ya ampun Neng udah sini sama saya aja, panas neng ini, neng tunggu aja"
duh, rasanya pengen gue beliin es kelapa itu masnya.
Bang Jack juga gitu.
Setiap gue ke UPS dan gue minta sampah, gue dan temen2 kelompok skripsi gue berpanas-panas ria di UPS. Ngambil sampah yang di sebelahnya ada sampah lagi di bakar sukses bikin badan bau asep. Kadang sampahnya udah di buang  ke lubang dan mau ga mau setengah badan kita harus ngejeblos ke lubang. Namun seringkali berakhir,
"Udah sama saya aja, Neng" Kata Bang Jack
"Segini udah cukup belum?"
karung-karung yang berat diangkut dari UPS ke lab lantai 4 sampai-sampai udah bodo amat diliatin anak-anak FT yang lainnya.

Waktu gue dan temen-temen harus ngolah data statistik dan menganalisis juga ga lepas dari bantuan orang lain. Berkali-kali gazeb dan perpus FE jadi tempat gue dan temen-temen diajar sama anak S2 selama berjam-jam. Ngajarinnya pun bukan yang 1 atau 2 kali, tapi berkali-kali. Bahkan ga jarang gue dan temen-temen nanya via chat, janjian ketemu untuk minta diajarin lagi.

Menjelang sidang, gue tersadarkan. Skripsi ini selesai karena telah melewati banyak uluran tangan, banyaknya doa-doa yang terpanjat, dan juga cucuran keringat. Skripsi ini bisa selesai bukan hanya karena gue. Terlalu banyak sentuhan orang-orang di sekitar gue selama masa-masa skripsi berlangsung. 

Ga sedikit pengorbanan dalam 6 bulan ini. Ada yang harus bolak-balik Depok-Bogor-Serpong setiap harinya untuk nguji parameter. Ada yang harus muter-muter glodok buat ngerangkai reaktor, ada yang harus turun ke danau-danau di UI untuk ambil sampel, ada yang harus mengendap di UPS main sama lindi seharian, ada yang harus bolak-balik jababeka-depok.
Gue untuk bisa memperoleh kelulusan ternyata harus masuk IGD dalam 3 bulan berturut-turut. Gimana kebayang-bayangnya skripsi dan asistensi setiap kali diinfus bener-bener ga enak. Tapi, terlepas dari lebih banyak cerita pahit atau manis, yang pasti skripsi benar-benar meninggalkan banyak cerita.

Dan nyatanya,
yang harus ditutup selama 4 tahun ga cuma skripsi, tapi keseluruhan rutinitas yang hanya bisa dirasakan di masa-masa kuliah. Setiap kali pertama, pasti punya kali terakhir. Yang tadinya "kantek lagi kantek lagi" berubah jadi "akhirnya bisa ke kantek juga" karena bahkan mau makan aja kadang nitip temen yang mau ke kantin. Momen-momen lainnya seperti dateng hearing terakhir di kuliah sekaligus nginep di kampus buat dengerin orang-orang berjakun presentasi dijalani bukan semata-mata hanya karena diundang, tapi karena bisa jadi ini yang terakhir. Pertigaan dept atau kantek bahkan udah jadi tempat tidur ketiga (selain rumah dan kosan) untuk melawan malam dan nyamuk-nyamuk ganasnya yang udah bermutasi. Keinginan untuk tetap menyeimbangkan membuat temen-temen pun dateng hearing sambil tetep nyicil skripsian yang jarak hearing dan deadline draft cuma selang beberapa minggu.

 
Menjadi Negarawan Sipil










Menikmati masa-masa TC terakhir di tengah hectic-nya skripsi dan bisa ngerasain lagi vibe 3 piala rasanya jadi penutup cerita yang penuh warna. Masa-masa jarang bisa papasan sama temen karena masing-masing orang sedang sibuk dengan dunia skripsinya membuat gue lebih menghargai sebuah pertemuan. Bahkan ga sedikit janji untuk ngabisin waktu bareng untuk berbagi cerita karena sampai saat ini belum juga terpenuhi. Memastikan adik asuh benar-benar berkembang, memastikan jejak yang tertinggal bisa menjadi manfaat..menjadi hutang buat gue untuk tidak sekedar pamit dari tempat yang pernah menjadi laboratorium kehidupan dan udah ngajarin gue banyak hal, tempat yang udah jadi reaktor dimana segala reaksi terjadi di dalamnya, tempat yang pernah membuat gue nangis karena bikin banyak kesalahan maupun nangis karena ngerasa sebersyukur itu dikelilingi oleh orang-orang baik.
karena balik lagi,
rutinitas seperti ini semahal itu harganya untuk dilalui dengan begitu saja.

TC terakhir
Salah satu hal yang gue sedihkan juga adalah, gue baru merasakan betapa dosen-dosen gue 'nyoooo' banget sama mahasiswanya. Dosen di TL tuh ga banyak, tapi itu yang bikin kita ketemunya bapak itu lagi, ibu itu lagi, Prof itu lagi, dan itu juga yang bikin mereka jadi gampang inget nama mahasiswanya karena seangaktan cuma 45 orang. Di tahun akhir ini gue baru bisa bercanda dan ketawa bareng, ngedengerin curhat colongan mereka tentang keluarganya, makan dan asik-asikan bareng, ditraktir, sampai ngasih pesan-pesan untuk menghadapai pasca kampus yang kadang bikin gue dan temen-temen luluh.

Kalau gue lagi skripsian-menyendiri-di kedai kopi, selalu ada campuran rasa antara ingin segera menyelesaikan skripsi tapi ga pengen cepet-cepet selesai kuliahnya. Aneh sih emang. Tapi hal itu yang bikin gue mencoba menikmati hari-hari skripsi walaupun badan pegel banget abis ngangkut sampah, atau badan bau banget abis ngaduk feedstock, atau muka jadi jerawatan karena tiap hari ngambil sampel dan terpapar bakteri. Gue cukup membiarkan semuanya berjalan semestinya, tidak segera menyudahi, tapi juga tidak menahan waktu. Wong waktu ga bisa ditahan.

Duh pegel juga.

Iya gue mau bilang makasih sama orang-orang yang udah baik banget mau bantuin skripsi, mau bantuin nemenin skripsian di McD, mau nemenin diskusi, mau ngajarin, mau nganterin, mau bantu ngangkutin, mau ditumpangin kosannya biar ga pusing sendirian di kosan, mau ngedengrin gue curhat dan ngeluh, untuk yang udah ngedo'ain, yang udah bilang "semangat skripsinya. Untuk orangtua, dosen, temen-temen angkatan, kakak, adik, mas-mas kedai kopi, mas mba McD, dan mahkluk-mahkul lainnya, gue amat berterima kasih.


"Allah mempertemukan untuk 1 alasan. Entah untuk belajar atau mengajarkan. Entah hanya sesaat atau selamanya. Entah akan menjadi bagian terpenting atau hanya sekedarnya. Akan tetapi, tetaplah jadi yang terbaik di waktu-waktu tersebut. Lakukan dengan tulus. Meski tidak menjadi seperti yang diinginkan. Tidak ada yang sia-sia karena Allah mempertemukan"

Tulisan ini ditulis dari tanggal 15 Juli, tepat sebulan setelah gue sidang. Gue mau nulis gini aja ampe 3 hari gara-gara kepotong mulu.

Do'nya ga banyak,
semoga tali silaturahminya tetap terjaga

Selamat bertumbuh dan berproses!

Liefs,
Pursof

You May Also Like

0 komentar