Sebulan di Korporat

by - Oktober 09, 2017


Syukur alhamdulillah, gak kerasa udah sebulan gue mengenal Jakarta. Ga disangka juga bakal dapet kesempatan untuk mengenal Jakarta cukup cepat. Iya gue benar-benar berkenalan, berhubung gue ga punya saudara di Jakarta, jadi kalau gue ke Jakarta ya cuma sekelebat aja, sehari terus pergi.

Akhir Juli lalu, tepatnya tgl 31 Juli di tengah konsolidasi Teknik Lingkungan 13 di Bogor yang lagi nginep bareng dan main werewolf gue akhirnya nyoba-nyoba ngirim email untuk magang. Kenapa magang? karena niat awal gue adalah demi mengisi kekosongan hari-hari menuju wisuda dan awal-awal waktu pascawisuda yang penuh dengan kegiatan ngelamar-lamar kerja itu ga bentar karena nunggu antara tahap seleksi satu ke yang lainnya itu berselang hari, bahkan minggu, jadi yaudah gue kirim aja itu email.

Awalnya ga ada panggilan, sampai akhirnya pas gue lagi gladi resik wisuda, lagi duduk manis di balairung, nunggu antrian salaman sama rektor 2 detik tapi antriannya melebihi wahana dufan, tiba-tiba gue di telepon sama nomor Jakarta, yaudah dong gue angkat, jemurannya, eh teleponnya. Ternyata yang ngehubungin gue adalah orang dari HR perusahaan yang udah gue kirim email sebulan yang lalu. Gue ditanya kapan kosong, akhirnya setelah Kamis-Jumat gue selesai wisuda, Senin besoknya gue interview..dengan pengalaman interview gue 0, gue juga prepareless karena badan masih sakit-sakit jadi yaudah pemahaman yang gue punya sata itu aja yang gue pake.

2 minggu proses berlangsung, setelah interview HR, User, dan Director, gue dengan segala kepolosan yang ada, yang baru belajar Supply Chain hasil minta materi sama anak TI seadanya, dateng cukucuk kucuk ke Cyber 2 Tower, di Kuningan. Modal gue cuma ucapan bismillah #unjust


My first day at School








Sebulan ini gue dikenalkan bagaimana alur supply chain bekerja, dikenalkan dengan pembagian kerja yang ada di Supply Chain Planning, kenalan sama orang-orangnya, suasananya, ritme kerjanya, data-datanya, termasuk kenalan lagi sama Ms. Excel yang tiap hari pasti gue buka, yang awalnya gue cuma kenal rumus excel seadanya dan cuma pernah pake sedikit ikon-ikon yang ada di menu bar, tapi sekarang jari-jari gue makin lihai dan mata gue makin kebisa ngeliat tabel row lebih dari 60.000.
Tapi ya inti sebulan ini satu : kenalan

Gue ga pernah kepikiran untuk nyoba mencicipi dunia perusahaan FMCG. Baru kepikiran pas lagi skripsian aja, terus nyoba. Somehow, gue merasa bangga dapetnya di perusahaan bottled water yang pas gue kecil kalau mau beli minum di warung nyebutnya, "Bu, mau beli Aq*a" padahal yang di tangan gue itu 2t*ng atau Ad*s, dan lagi macem-macem juga penghuninya. Oh ya, yang paling gue seneng magang di sini adalah kalau masalah outfit santai asal sopan, ga harus yang rapih-rapih kek orang kantoran, jeans and polo are allowed, bruh.


Jakarta, sore hari, view dari Cyber 2

September just introduced me how to be a real human being

Sebulan menjalani rutinitas baru membuat gue berkenalan dengan manusia yang lebih beragam lagi. Dari gue kecil sampai gue kuliah, gue selalu berada di lingkungan mayoritas, tapi di kantor spesifiknya di divisi gue, gue belajar menjadi minoritas. Keharusan untuk sujud harus udah ga usah diingetin atau dientar-entar yang bisa bikin gue solat ga di awal waktu. Gue berkenalan dengan obrolan mereka, mereka semua welcome dan itu yang bikin gue bener-bener berada dalam sebuah diversitas padahal gue cuman ditempatin jauh dikit dari rumah gue di Bogor.

Itu baru di kantor. Belum hal-hal lainnya yang gue temui di jalan pergi maupun pulang. Dalam sehari gue minimal naik gojek 3x, kadang pernah 4x atau 5x kalau ga langsung pulang. Commuter line pp Bogor-Tebet selalu bikin gue ngerasa kayak perkedel dengan waktu tempuh paling cepet aja 65 menit dan di dalam gerbong apa yang gue lihat dan temukan : tumpukan manusia.

Perjalanan pulang menuju stasiun naik transJakarta atau angkot lagi-lagi gue ketemu orang-orang yang beda, tapi bisa jadi sama kayak gue dapet mas-masa kenek TransJakarta 3x berturut-turut orang yang sama. Gue sekarang tau persis rasanya isi hati orang-orang yang kerja di jakarta tapi bukan orang asli Jakarta kalau kereta lagi anjlok, atau G*jek lagi error/ga nemu2 driver padahal udah 20 menit nyari, atau TransJakarta dan angkot lagi penuh-penuhnya.

Semakin kesini, gue semakin bisa memakulumi jalanan Jakarta di rush hour yang kadang bikin gue memilih untuk jalan kaki dari Cyber 2 ke Kokas. Yang awalnya gue mencak-mencak karena jarak  4 km ditempuh dalam waktu 45 menit, lama-lama yaudah gue dengerin lagu yang diputer selama perjalanan sambil baca apa yang bisa gue baca. Di kereta kalau penuh yaudah nikmatin aja penuhnya dan kalau dapet duduk gue pasti langsung tidur, sama kayak setiap gue berangkat. Kalau yang gue ingat hanya bagaimana lamanya gue di perjalanan, pepesenya kereta, macetnya jalanan, gue baru seminggu juga pasti udah nyerah



Tapi,
perkenalan sebulan ini mengantar gue dengan hal baru dalam obrolan maupun cara pandang. Ga sedikit cerita inspiratif yang didapet dari abang Goj*k dan obrolan ringan macam "Mba, masuk kantornya jam berapa? saya harus kenceng ga bawanya?", atau kalau Go*ek di Bogor nanya "Mba kerjanya di Kuningan terus tiap hari pulang jam segini? ga capek mba?".

Momen-momen yang dicuri di sela-sela waktu kerja oleh seorang ibu muda karena merasa harus video-call dengan anaknya yang baru berusia 6 bulan.

Wanita-wanita hamil yang dengan penuh keikhlasan menerobos hiruk pikuknya Jakarta demi untuk menghidupi insan yang nantinya tidak lagi membuat perutnya besar.

Dering telepon dan notifikasi chat dari suami/istri/anak yang menanyakan "sudah dimana? kok belum juga sampaI?"

Wajah-wajah lelah yang bikin tertidur dalam posisi mangap karena lupa pake masker atau malah tetap memutuskan berdiri dan bilang "Mbaknya silakan duduk aja" padahal kita sama-sama lelah, padahal bisa jadi bapak/masnya abis kena omel atasan hari ini setelah seharian begadang.

Solidaritas orang-orang kereta setiap ada wanita hamil/lansia "Misi-misi ada lansia ini kasih jalan" kemudian semua orang berusah keras memberi jalan meski mereka sedang banyak beristighfar di dalam hati sembari menahan sakit. Sebulan ini gue sudah merasakan diinjak dan biru di tangan, dan  ketika gue ingin mengeluh sakit atau "kok?" gue langsung meyakini bahwa dari gerbong depan sampai belakang yang punya rutinitas macam gue pasti ada aja yang pernah merasakan hal yang sama, bahkan bisa jadi lebih parah. Ya macam sakit tapi ga berdarah gitu mungkin ya.

Kadang gue kalau melihat orang-orang pulang kerja juga jadi mikir, dia kerjanya apa ya, ngapain jobdescnya, gajinya berapa, bahagia ga ya dia sama kehidupannya. Gue seperti sedang mem-portray diri gue menjadi dia.


Gue saat ini sebenarnya adalah gue yang sedang membuktikan idealisme yang pernah terlintas, lalu gue aminkan, dan ternyata Tuhan kabulkan,
yang penting itu experience dan value, baru gaji ; 
ya gapapa capek macet-macetan di Jakarta pp tiap hari daripada di tempatin di daerah ; 
ya yang penting harus perusahaan bonafit dan Multi-National Company bukan Kementrian
Tuhan dengan segala kebaikannya memberi gue ruang untuk merasakan hal itu, untuk mencerna, memahami, lalu membiarkan gue berpikir apa yang baik, apa yang menjadi seharusnya, apa yang gue sebenarnya harus lakukan khusunya sebagai perempuan

Thank you for introducing me, 'these things'

Alhamdulillah, sudah satu purnama ternyata :) 

You May Also Like

1 komentar