There are no mistakes. Only Lessons

by - November 19, 2017

  

 "Life is not a race, kok. Pelan - pelan. Tuhan tahu persis caranya mengabulkan"
itu postingan gue di IGstory kurang lebih sebulan yang lalu when I tried to calm myself down, waktu gue mensugestikan diri gue untuk terus berprasangka baik.

Baru 2 bulan ini gue mulai menikmati masa intern yang gue udah mulai nyaman sama lingkungannya, udah kebiasa sama rutinitas perkereta-apian-nya, menikmati selingan-selingan kecil dari obrolan gojek atau candaan temen-temen kantor yang pada iseng banget karena gue anak bawang, ga kerasa gue sekarang harus mikir lagi saat memasuki bulan ke-3 demi memutuskan akan dibawa ke mana nasib gue setelah ini

People said that your 20s are experimental years. Try everything. Make some mistakes. Fall. And keep the good stuffs.

Pas gue ikut tes CPNS di Pulogadung, gue akhirnya memutuskan untuk nginep di rumah temen kampus gue padahal selama 4 tahun kuliah gue ga pernah ke rumahnya. Pulang tes gue main ke Mall Kelapa Gading untuk pertama kalinya, dan di sana gue merasakan sehari jadi anak Cakung 
Kerjaan gue minggu lalu juga mengharuskan gue untuk pertama kalinya kerja sama sama orang-orang selain di lantai gue karena kebetulan perusahaan gue baru aja kedatangan bos baru dari Turki dan tugas yang dikasih harus udah selesai within 3 hours.
Minggu lalu, waktu gue ke Bandung untuk dateng wisudanya anak-anak ITB, gue akhirnya menceklis kali pertama gue naik kereta ke Bandung yang katanya punya pemandangan yang belum tentu bisa ditemuin di jalur kereta antar-kota lainnya.

and along the railway, my mind just started contemplating...

Gue baru sadar gue lagi jarang banget punya first time in my life-moment saking hidup gue rasanya aman-aman aja gitu. Momen pertama kali di hidup gue yang paling baru ya..yang baru aja gue sebut di atas. Gue akhirnya paham sama maksud kata-kata umur 20 tuh masa-masanya mencoba ditambah gue juga tipikal anak yang "mumpung"-an jadi setiap ada tawaran ke gue dan gue belum permah ngelakuin itu hampir selalu gue iyakan tanpa berpikir 2 kali, karena kapan lagi?

Kehausan gue untuk mencoba hal baru yang jauh berbeda dari apa yang pernah dialami dalam hidup gue rasanya benar-benar belum terpenuhi di building years ini and it seems like I need to take bigger risks. Walaupun gue selalu mikir-mikir kalau jauh dari orang tua, kalau ditempatin di tempat yang rasanya ga punya kehidupan karena jauh dari peradaban. Tapi ada hal besar yang gue investasikan kali ini untuk mencoba banyak hal baru : waktu, spesifiknya waktu muda (dengan semengat yang masih muda) dan waktu sendiri (karena kalau berkeluarga pastinya akan beda cerita).

Mendengar kabar teman SMA, seorang perempuan yang baru aja survive di oil rig Schlumberger di tengah gurun Oman dengan jumlah wanita yang sangat sedikit dibanding pria padahal ga banyak orang yang rela untuk 'ga punya kehidupan' ketika masuk sana bikin gue takjub. Temen gue ini dulunya juga punya ketakutan yang sama, "Iya Gi gue juga sering denger kalau di sana tuh kayak ga ada kehidupan, jauh dari orang-orang, pulang ga tentu, pekerjaannya berat, tapi ya karena gue anaknya di ajak ke tempat baru aja udah seneng, ya jadi pindah dari satu tempat ke tempat lain udah kayak hiburan buat gue". Ini cara temen gue dalam meng-create her own happiness di tengah omongan yang katanya ga akan punya kehidupan.Teman gue baru aja mengambil suatu risiko yang besar dalam hidupnya.

Ada lagi 1 teman yang resign kerja karena dia terpilih menjadi Pengajar Muda-nya Indonesia Mengajar. Yang membuat gue terkesima adalah.. track record teman gue ini bukan yang ketika SMA/kuliahnya tergabung dalam kegiatan pengabdian masyarakat khususnya dalam hal mengajar. Tapi sekarang dia terpilih-yang artinya dia lolos melewati tahapan seleksi dan mengalahkan kandidat-kandidat lainnya-untuk 1 tahun mengabdi di tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya. Dia baru aja melakukan sebuah lompatan jauh, menginvestasikan 1 tahun waktunya untuk membuat banyak kali pertama dalam hidupnya. Gue yang sangat senang dengan kegiatan seperti ini -ngajar, ketemu anak-anak, nikmatin indahnya Indonesia, merasakan keramahan masyarakatnya- masih mikir untuk memberikan 1 tahun waktu gue untuk jauh dari orang-orang, kehilangan banyak momen  dan kadang gue...mungkin dalam 1 tahun ada banyak hal yang terjadi dalam diri gue dan orang-orang sekeliling gue.
Halah bilang aja gue takut.

Terus sekarang pertanyaannya adalah,
'gue udah ngapain ya?'
ketika satu persatu teman gue mulai mengambil risiko besar dan mengaktualisasi dirinya

I'm motivated to take big steps. Dulu gue kepikiran untuk kerja di start up untuk ambil sebanyak-banyaknya ilmu di sana. Gue juga punya mimpi kuliah S2 di luar negeri dengan beasiswa. Gue mau punya usaha kedai kopi sendiri. Gue pengen jadi sociopreneur. Gue pengen kerja di Multinational Company. Gue pengen...banyak lah. Pengen yang gue ga tau sebetulnya gue butuh itu atau engga, gue bener-bener mau atau cuma kabita aja, dan juga gue ga tau mana yang baik buat gue.

Tapi mungkin emang kayak kalimat pembuka tulisan ini : hidup bukan tentang perlombaan- yang kerja duluan pasti sukses, yang bisa masuk MT duluan pasti sukses, yang bisa dapet beasiswa duluan pasti sukses, yang nikah duluan pasti sukses
padahal belum tentu,
mungkin tiap orang punya waktunya masing-masing.
dengan cobaan hidup masing-masing yang orang lain ga akan paham gimana sulitnya

Belum lagi di tengah keinginan sana-sini, gue masih selalu tertegun setiap gue baca tulisan yang membuat gue bertanya apakah pekerjaan ini membuat gue jadi pribadi yang lebih baik, apakah menjauhkan gue dari Tuhan atau engga, apakah membuat gue makin peduli sama orang-orang yang masih jauh dari beruntung atau engga, dan apakah...gue menjadi benar-benar bahagia atau engga.

Kok jadi kayak ribet gini.
tapi emang seaneh ada di zona aman
apalagi di masa-masa lo-bisa-ngelakuin-hal-apa aja-yang-lo-mau

Jadi kerasa kalau nyari kerja tuh ga gampang
nyari kerjanya aja udah banyak lika-likunya
apalagi nyari kerja yang sesuai passion
di perusahaan yang diidam-idamkan
di posisi yang di targetkan
belum pertimbangan sana-sini, kayak mulai jarak rumah-kantor, gaji, lingkungan kerja, jenjang karir, ritme kerja, banyak banget indikatornya
makanya orang kalau dapet/gagal dapet kerja bilangnya : mungkin emang/belum jadi jodohnya
emang bener kayak jodoh
cocok-cocokan

tapi mungkin akan lain cerita untuk temen-temen yang saat ini mengambil langkah besar, karena kalau sudah berkaitan dengan experience dan value, bisa jadi rasanya priceless

bisa jadi.

Daan di sepanjang tulisan ini juga mengalir doa dan harapan terbaik untuk kawan seperjuangan lainnya yang juga sedang berikhtiar dalam mencari maupun mengaktualisasi diri-yang apply sana sini, rela tes sana sini, dateng jobfair sana sini- karena emang kondisi di dunia nyata ternyata bener-bener ga pernah kebayang sebelumnya. For all the 'no' instead of the yes, Tuhan tahu persis caranya mengabulkan, kawan.

seperti kutipan post di medium yang baru aja gue baca,

"There are no mistakes. Only lessons."

And finally, trust the path. I know life seems harsh. That’s kind of the point.

You May Also Like

0 komentar