2017

by - Januari 10, 2018


Well I've been afraid of changin'
'Cause I've built my life around you
But time makes you bolder
Even children get older
And I'm getting older, too
(Landslide - Fleetwood Mac)


19 posts in 2017, seems like it's a good number to describe what I've been through last year. So here I am, ready to write them all, in my blog, just like I always did.

2017 was like a roller-coaster year to me,
a big roller-coaster
  
3 bulan pertama
Hari ketiga dari 365 hari dalam tahun 2017 dimulai dengan gue sidang seminar. It wasn't like I expected before, but it wasn't bad at all, it was just good enough. Beberapa revisi dan perubahan konsep sempat terjadi. Tapi yang paling mengkhawatirkan gue sebenarnya adalah gue mendapat giliran terakhir untuk memakai reaktor yang artinya waktu pengambilan data - pengujian data - dan pegolahan data akan gue lakukan dalam waktu yang benar-benar singkat. But at the end, semua ketakutan akan hanya berakhir pada ketakutan ketika akhirnya kita memutuskan untuk melakukan sesuatu rather than diam meratapi, beraharap sesuatu akan terjadi.
Di awal tahun ini juga I tried to let something go. Post bertuliskan Racau#2 benar-benar menjelaskan bahwa rasa sakit itu ada dan akhirnya gue berniat mengakhiri di racau #3 karena memang sudah tidak ada cerita yang perlu diperpanjang. Gue menyegerakan diri gue agar berdamai dengan keadaan, untuk tidak memperparah keadaan, yang mana gue harus fokus dengan skripsi dan kelulusan gue. Nyatanya ga gampang. Nyatanya free spaces memori otak gue masih cukup besar ntuk menampung memori yang sama. Nyatanya lagi, semuanya sudah berjalan normal, tersisa gue yang enggan untuk kemana-mana. Rasa, sesakit apapun itu harus diterima. Rasa sakit berhak diterima, rasa sedih juga berhak diterima, sama halnya dengan rasa senang, rasa bangga. Mereka memiliki kedudukan yang sama untuk dirasakan seorang makhluk bernama manusia. Manusia merasakan semua rasa yang menghampiri, dikehendaki atau tidak dikehendaki. Gue akhinya sadar, untuk tidak melulu tertawa, tidak melalu berbahagia. Sedih, pilu, sakit, menjadi bagian yang tidak terpisahkan untuk gue, untuk kita menjadi manusia, untuk mampu merasakan yang orang lain rasakan, yang juga sama-sama manusia.

3 bulan pertama di tahun 2017 menjadi tahun gue untuk siap menyambut hal baru dan menutup sisa-sisa 2016 yang masih tersisa

http://regia-pursof.blogspot.co.id/2017/01/road-to-bachelors-degree-1.html
http://regia-pursof.blogspot.co.id/2017/01/racau-2.html
http://regia-pursof.blogspot.co.id/2017/01/sebungkus-cerita-dari-semangkuk-indomie.html


6 bulan berikutnya
Selama kuliah, gue tidak pernah menargetkan untuk jadi mahasiswa berprestasi. Tapi entah mengapa, entah bagaimana, gue mendapatkan kesempatan untuk maju ke depan bersama orang-orang hebat lainnya. I mean, I just do what I like without hoping an award, or an appreciation. I just do it. Tapi Allah dengan segala kebaikannya memberikan gue penutup kuliah yang benar-benar manis untuk bikin gue merasakan gimana rasanya maju ke depan panggung, dikalungin medali. Mungkin itu yang orang bilang tentang karma, lakukan saja kebaikan yang kamu bisa, toh pada akhirnya kebaikan itu akan bekerja pada diri kamu sendiri.




Memasuki masa-masa penelitian skripsi, sambil menjalankan sebuah project, sambil berlatih demi memberi yang terbaik untuk departemen di momen terakhir di masa kuliahan ditambah dengan gue keluar masuk IGD 3x dalam 5 bulan bikin gue babak belur sana sini. Ga jarang gue di evaluasi, komplain dateng sana sini, kena tegur pembimbing, berada di situasi ga enak, nangis sendirian di kosan karena saking banyaknya hal yang harus dikerjain. Mencapai keseimbangan memang ga pernah mudah, bukan?





The pressure was real, bud. Nyatanya tingkat akhir tidak membut rapat maupun forum hingga tengah malam berakhir. Gue sudah menuliskan semuanya di post #SkripsiLyfe how hard it was. Ketika momen perjuangan menyelesaikan skripsi melebur dengan detik-detik menjelang akhir cerita masa-masa kuliah, it was indescribable. Sampai-sampai gue tidak ingin menyudahi skripsi dengan  segera karena itu berarti rutinitas gue dan kampus juga ikut berakhir. I mean, who doesn't love college life?


Sampai akhirnya gue lulus, memakai toga ini di balairung, dinyanyiin sama maba-maba unyu, gue akhirnya paham bahwa gelar ini, toga yang gue kenakan saat itu, sertifikat dan perintilannya bukan untuk gue semata, tapi untuk orang tua gue karena telah berhasil mendidik anaknya, untuk dosen yang telah mendedikasikan ilmunya, untuk civitas akademika yang baru saja mencetak sarjana baru dengan harapan tinggi mampu menjadi solusi dari berbagai kompleksitas masalah yang terjadi di berbagai lapisan masyarakat. Selebrasi ini hanyalah simbolik, namun sekaligus sebagai teguran bahwa hidup baru akan dimulai setelah ini. Right after gue keluar balairung, langkah pertama yang statusnya tak lagi menjadi mahasiswa.




Pasca lulus urusan gue dan kampus belum benar-benar usai. 6 bulan berturut-turut selama tahun 2017 ada banyak kemudahan dan unpredictable things happened. Syukur alhamdulillah, gue akhirnya ikut international conference di Bali, dan semuanya gratis. Dari awal penelitian, penyusunan reaktor, pengujian parameter, biaya registrasi conference hingga biaya akomodasi ditanggung oleh UI. Momen ini sekaligus menjadi ceklis terakhir gue atas apa-apa yang ingin gue capai selama kuliah.
Ketika gue diterima sebagai mahasiswi UI, ada banyak hal yang ingin gue capai, ga semua memang berhasil gue wujudkan, tapi banyak dari keinginan baik yang gue upayakan maupun sekan-akan datang secara tiba-tiba seperti menang undian terjadi. Di tahun terakhir, gue merasakan apa itu mahasiswa berprestasi, jadi peserta dan presentasi di international conference, jadi project officer acara, seakan-akan tahun ke-4 kuliah menjadi klimaks perjalanan di umur gue yang 22 tahun ini.

http://regia-pursof.blogspot.co.id/2017/07/skripsilyfe.html
http://regia-pursof.blogspot.co.id/2017/06/hampir.html

3 bulan terakhir
Baru aja gue bilang pertengahan 2017 seakan-akan menjadi klimaks cerita, dan apa yang terjadi setelah klimaks? Tren cerita akan turun kembali hingga akhirnya ada banyak momen terakumulasi dan terbentuklah kembali klimaks. Seperti gelombang transversal. 1 gelombang atau 1 lambda terdiri dari bukit dan lembah. Sama seperti zenith dan nadir : The highest and the lowest point. Keduanya seperti 2 mata koin yang tidak bisa terpisahkan.

Gak sedikit post di tahun 2017  yang menuliskan betapa takutnya gue mengadapi dunia pasca kampus. Betapa bingungnya gue men-define apa yang menjadi keinginan gue. Betapa khawatirnya gue terbunuh dengan segala ekspektasi diri gue dan orang-orang di sekitar gue.
Entah mengapa, hidup benar-benar terasa ketika lepas dari status mahasiswa. Harapan, amanah, ekspektasi, titipan, pesan, dan angan-angan yang menghampiri kerap kali menjadi bayang-bayang yang terus menerus mengikuti. Dua bulan setelah gue wisuda bertepatan dengan masa pensiunnya Bapak dari PNS. Senang akhirnya punya banyak waktu, namun di saat yang bersamaan gue sadar bahwa gue sudah tidak boleh bergantung lagi pada mereka. Nyatanya hal tersebut menjadi tekanan tersendiri bagi gue untuk benar-benar mandiri, dalam hal apapun.

Benturan tidak hanya datang dari luar, tapi juga dari diri gue, tentang mimpi-idealisme-dan ekspketasi bahwa apa yang gue rencanakan akan mampu berjalan dengan baik. Ada banyak belokan tajam selama perjalanan, tanjakan dan turunan, hingga mobil-mobil besar yang kerap kali menghalangi dan memperlama perjalanan.Terlalu cepat untuk menyebut apa yang gue rasakan -yang juga teman-teman gue rasakan- sebagai quarter life crisis, mencemaskan banyak hal yang belum terjadi, bahkan belum tentu akan benar-benar terjadi. Ketika pilihan seakan-akan terasa sulit dari biasanya. Ketika, fear of suffering is worse than suffering itself.

Selang 1 minggu gue wisuda, gue akhirnya mendapat kesempatan magang di sebuh multinational company yang posisinya diluar core-competency gue sebagai lulusan teknik lingkungan. Awalnya semua terasa baik-baik saja, gue terlampau aman sampai akhirnya gue sempat terlupa dengan mimpi gue untuk bekerja tanpa menghilangkan rutinitas gue untuk tetap bersinggungan dengan social movements, untuk segera menyiapkan S2, untuk tetap berada di lingkungan yang mampu mengeskalasi kemampuan gue namun tetap sejalan dengan value yang gue emban, dan sayangnya semuanya berkaitan erat dengan pekerjaan apa yang harus gue ambil.

Gue kembali menjadi job seeker setelah gue memutuskan untuk meng-extend masa intern gue sampa gue mendapatkan permanent job. Gue ikut CPNS, dan gue gagal. Walaupun gue selalu bilang PNS adalah keinginan orang tua, namun hal yang paling membuat gue sedih bukan karena gue gagal, tapi karena gue besar kepala, gue merasa sombong dan merasa gue mampu, karena gue menyia-nyiakan sebuah kesempatan yang sebenarnya mampu gue usahakan. Gak sedikit pula gue harus gugur di awal seleksi hanya karena tes matematika, atau tes online, atau psikotest, lalu gue merasakan sesal terdalam karena gue menyadari bahwa kemampuan gue ternyata jauh di bawah mimpi dan ekspektasi gue.

"Lo harus merasakan sebuah penolakan, Reg. Harus." Ini pesan teman gue yang setiap dia cerita ga lolos seleksi kerja dari yang awalnya sakit hati sampai lama-lama biasa aja.
"Kemaren-kemaren hidup lo udah enak. Jalan lo mulus-mulus aja. Nah sekarang waktunya lo kembali berjuang"




I learn to accept the feelings without questioning too much. Ada banyak kata kenapa yang mengepung isi kepala namun bisa jadi gue gak benar-benar pantas mempertanyakan hal tersebut. Mungkin gue, kita, sebagai manusia terlalu sombong untuk menganggap bahwa kita bisa mendapatkan hal yang kita inginkan dengan mudah, atau mengeluhkan kenapa harus diberi jalan yang susah, atau terus menerus membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain yang sudah jelas tidak memiliki ujung.

"Usahanya harus lebih keras lagi berarti", kata yang selalu menghampiri ketika gue belum cukup berhasil dalam berjuang. Nyatanya, ada yang lebih sulit dari terus menerus berusaha dan berdoa, yaitu terus menerus baik dalam berprasangka, dan terus menerus mengimani segala keputusan yang diberikan oleh-Nya.

Gapapa kalau harus jatuh dahulu, harus tertinggal di belakang untuk sementara, harus menemui banyak kata tidak, harus terus menunggu hal yang kita inginkan, harus menunda waktu sejenak, harus merasakan hal-hal yang selama ini dihindari. Gapapa kalau harus sedih dahulu, atau marah, atau kecewa dengan diri sendiri. Mereka hanya perlu diterima, sebab ruang untuk merefleksi terbuka lebar. Bahkan sangat lebar untuk menampung apa-apa yang mampu kita cerna. Rasanya memang seperti naik roller-coaster. Either gue lagi ada di posisi atas atau bawah,  gue hanya perlu menikmati perjalanannya, menikmati hempasan angin, walaupun terkadang  merasa takut, atau terlampau senang selama perjalanan.

Ada banyak 'semoga' untuk tahun 2018. Sebanyak itu kata semoga sampai-sampai  gue sadar gue terlampau kecil di hadapan harapan-harapan yang menumpuk. "Resolusi itu fana, kerja keras yang abadi".
Gue berjanji untuk tidak berhenti. Untuk semakin keras berusaha terlebih ketika  gue mengeluh.
Juga dengan do'a-do'a yang terpanjat. Sebab saat do'a melangit, kita tak pernah tahu langit  mana yang bergetar karenanya

"Saya percaya kepada tiga macam jawaban doa. Pertama. Iya, boleh. Kedua. Iya, nanti. Ketiga. Iya, tapi yang lain. Jawaban doa selalu iya." -Teh Mute

Well, selamat datang 2018!

You May Also Like

0 komentar