Belajar pamit

by - Februari 24, 2018

Jari rasanya cukup kaku untuk digerakan mengikuti satu persatu kata yang keluar dari isi kepala,
juga lamanya waktu untuk tidak membaca membuat saya minim dalam menyelami sesuatu,
tapi awal tahun ini ada banyak cerita yang ingin saya ceritakan,
ini satu diantaranya
.
.
.
Februari 2018

Awal tahun 2018 gue diwarnai dengan sebuah perpisahan singkat. Pelajaran berharga yang diberikan kepada saya yakni tentang mengatakan salam, bukan perpisahan, tapi salam untuk berjarak lebih jauh dari biasanya. Pelajaran untuk semakin memaklumi setiap orang yang berlalu-lalang entah sekejap atau selamanya, dan mengucapkannya dengan perasaan yang lebih ringan.

"Saya pamit, ya"
sudah jauh lebih ringan mengucapkannya setelah sebelumnya dijejali latihan-latihan untuk semakin dewasa dalam menanggapi keadaan. Termasuk mengucap pamit kepada orang-orang yag memberikan paparan baru dan berharga. Itu tugas setiap orang untuk menjadi bermanfaat, jadi kiranya tak perlu menyelaminya terlalu dalam. Cukup dengan terima kasih dan mengamalkan ilmu yang telah diperoleh selama diruangkan pada gedung yang sama.

Akhirnya saya undur diri, bukan dari perusahaan, melainkan dari kebiasaan. Kebiasaan bangun pagi lalu naik kereta jakarta kota disambung transjakarta. Saya undur diri dengan perasaan penuh harap, yakni dipertemukan dengan orang-orang yang memberi ruang seluas-luasnya untuk belajar.

Ada pula cerita lainnya tentang pamit dari sebuah cerita yang cukup membekas.

Saya pikir pamit terbaik adalah pergi dengan izin, dengan jujur, yang penting ending pamitnya baik walaupun ada banyak gemuruh yang terjadi di dalam namun terkurung dengan baik, dan setelah itu hilang tak berjejak karena menganggapnya sebagai hal yang wajar. Saya pikir saya sudah baik-baik saja. Ternyata gemuruh itu masih ada. Hingga akhirnya saya dapat mengatakan baik-baik saja yakni ketika pertemuan di lain kesempatan terasa seperti titik balik cerita, sebuah percakapan normal, sebuah keinginan untuk mampu menanggapi dengan seperlunya, sebuah sikap biasa saja tanpa dibalut perasaan ingin menghindar. Di titik itu saya yakin bahwa saya sudah pamit dengan baik, dan masa lalu sudah tegak berdiri di belakang tanpa ada keinginan untuk mengejar kembali.

Saya akan menemui banyak pamit-pamit lainnya kedepannya, baik saya sebagai penerima, ataupun sebagai pemberi, itu semua tidak apa-apa. Menyelami satu persatu pamit membuat saya lebih menghargai kehadiran seseorang dengan segala hal yang telah ia lakukan, sekaligus membuat saya sadar bahwa kehdadiran seseorang mampu memberi warna berbeda.

Semoga cukup 3 'pamit besar' untuk tahun 2018 ini.
Waktunya menikmati cerita baru, bukan?


You May Also Like

0 komentar