Tiga Bulan

by - Juli 01, 2018

Mari kita awali hari pertama di semester ke-2 tahun 2018 dengan sedikit menelisik hari-hari ke belakang, termasuk beberapa detik ketika gue membuka blogspot dan meniatkan untuk menulis.

Akhir-akhir ini, akhirnya ada banyak first time moment yang terjadi
Setelah gue akhirnya menyerah dengan kehidupan perkerata-apian, gue kembali ngekos dan hal tersebut membuat waktu weekend gue rasanya berharga banget
2 hari di Bogor selalu penuh dengan kegiatan gue mengunjungi kakak dan ponakan gue, kadang sodara kadang ketemu temen buat main, atau me time ga jelas di sudut coffee shop, dan weekend pertama di Bulan Juli gue putuskan untuk meniatkan kembali terjun ke dunia pendidikan bersama teman-teman SMA lainnya. Weekend bukan menjadi jeda dari setiap aktivitas, melainkan konversi kesibukan weekdays dalam bentuk lain : sibuk main sama ponakan, sibuk nonton bola bareng sama keluarga, sibuk meneruskan janji dahulu untuk melaksanakan hal-hal yang di luar kepentingan diri sendiri.
Weekend gue harus tetap sibuk namun dalam bentuk yang berbeda. Waktu main gue semoga akan tetap cukup meski sekedar nonton hal lucu di youtube, bisa punya deep conversation sama temen-temen di inner circle, makan malam bersama-2 jam-di pusat kota bersama orang-orang yang sejak dulu bertumbuh bersama gue dengan sangat baik.  Jeda gue semoga juga akan tetap seputar bisa nulis lagi, dan yang paling gue doakan tetap menjadi terbaik adalah menikmati kekhusyuan di 5 waktu setiap harinya.
Gue dan harapan-harapan di atas belum benar-benar melebur dengan baik. Gak jarang temen gue bilang atau komen mengenai gue yang sekarang sibuk banget, susah diajak cerita/ketemu, segan buat nyapa lagi, atau ngerasa ga bisa ngelakuin hal-hal yang dulu biasa dilakuin. 3 bulan bekerja di sebuah startup yang cepetnya kadang (bahkan hampir selalu) bikin megap-megap bukan hal yang mudah buat gue ketika gue seutuhnya tetap menjadi gue yang dulu. 3 bulan gue bekerja, 3 bulan itu juga hampir setengah kehidupan gue berubah. Kalau teman-teman gue ga mencoba memberi kabar, mungkin gue ga akan pernah tau kondisi mereka saat ini. Kalau teman-teman gue ga chat panjang lebar di group, mungkin gue ga tau kalau teman gue sedang butuh bantuan. Gue berubah menjadi sosok yang harus dijemput ketika temen gue butuh bantuan. Satu persatu serpihan puzzle gue bukan hilang dan tergantikan, melainkan menjadi susunan yang sangat besar namun gambar/pesan inti yang ingin disampaikan sudah diwakilkan oleh beberapa bagian puzzle dan membuatnya seakan-akan menjadi susunan yang sempurna.

"Teh, jangan lupa sedekah dari penghasilan per bulan, ya"
Ini pesan bapbap setiap gue abis gajian. Gak hanya itu, kakak gue pun selalu mengingatkan untuk sedekah dan sedekah terbaik itu untuk orang tua. Di sana gue mulai memahami "bahagia-in orang tua selagi mereka masih ada". Keberadaan mereka yang hampir selalu 24 jam di rumah karena sudah tidak bekerja membuat gue benar-benar harus membahagiakan mereka tanpa tapi. Bukan hanya membahagiakan, tapi akan lebih tepat : memuliakan. Sejak dimulainya gue mandiri secara finansial, gue seperti merasa bahwa tanggung jawab orang tua gue sudah selesai dan mereka bisa duduk bersila sambil menikmati udara Bogor pagi hari yang sejuk.

Tapi nyatanya,
kewajiban seorang ayah kepada anak perempuan terus ada sampai bakti anak perempuannya pindah dari ayahnya kepada suaminya.
Menjadi anak perempuan satu-satunya membuat gue memiliki atensi penuh dari ayah gue. Beliau bisa sebawel itu kalau gue jam setengah 6 belum bangun. Atau solat zuhur jam setengah 2. Atau bangun tengah malam karena ketiduran dan belum sholat isya. Rasa iri gue ternyata salah ketika gue bingung kenapa kakak dan adik gue yang laki-laki keliatannya lebih jarang dibawelin karena ternyata beliau, dengan istiqomah, menjalankan kewajibannya sebagai seorang ayah. "Kamu, walaupun udah besar, walaupun udah kerja, masih sepenuhnya tanggung jawab bapbap" dan disaat yang sama pipi kanan-kiri gue tiba-tiba basah karena gue kurang memiliki rasa : walaupun gue udah mulai besar, dan bekerja, ayah gue masih bertanggung jawab penuh atas gue, termasuk juga dosa-dosa gue.

Seperti yang gue tuliskan di awal,
banyak momen kali pertama yang gue dapatkan dari pekerjaan gue. Bekerja di bagian operasional dimana business unit gue hampir dipastikan 100% mitranya adalah bapak-bapak membuat gue sering mendapat pesan "Harus tough, Reg. Sanggup lah, ya?"
Ga jarang gue setiap ketemu orang diawali dengan kalimat "Eh gue bingung deh kak masa...." atau "Kak kok gue lagi merasa payah banget, ya.." atau lagi "Kak...kok pusing ya...heu". Tapi akhirnya, hampir setiap hari gue "learn new thing" dan gue ingin berterima kasih terhadap ketidaktahuan yang pernah gue alami sebelumnya.
Saat rasanya semua hal lagi memuncak, gue amat bersyukur punya kakak-kakak yang bisa diajak makan/minum/ sekedar ngobrol di tengh suasana sepi kantor yang membantu gue dalam mengurai benang kusut di kepala gue tanpa membenarkan dan memaklumi apa yang sudah gue lakukan walaupun gue masih bocah ingusan namun tetap dengan cara yang hangat dan membuat gue pengen meluk mereka satu persatu.
Hal tersebut membuat gue setiap ada masalah menjadi lebih lega untuk bertanya dengan cukup tenang "Oh, ada masalah apa?" karena masalah dan hari-hari gue di kantor itu seperti kacamata yang gue pakai setiap harinya : selalu gue bawa, kalau ga ada kacamata gue resah dan merasa ada yang tidak lengkap, walaupun kadang gue juga pernah lupa kalau gue lagi pake kacamata.

Di awal bulan Juli, di setengah perjalanan di tahun 2018, gue sudah memperbarui hidup gue. Post-post lainnya yang juga bisa jadi menjadi milestone perjalanan membuat gue cukup terkejut karena gue sudah tiba di titik ini dengan gue yang masih rajin membagi hari-hari gue yang ga spesial-spesial banget tapi tetep gue tuliskan. Bisa punya waktu menulis dan mendapatkan vibe yang benar-benar nyaman menjadi sulit karena semua yang ditumpahkan tidak boleh hanya sekedar tumpah, tapi juga membuat sadar kalau air tumpahannya membuat basah dan harus dibereskan.

Satu hal lagi, kenapa ya tetap ada deg kecil setiap melihat instastory 'orang tertentu' masih menjadi tanda tanya bahwa ada hal yang perlu diperbaiki, bisa jadi ada rasa iri walaupun hanya sebesar biji.

Apapun itu,
mari kita sambut dengan penuh semangat dan gembira :
Hai Juli! :)

You May Also Like

0 komentar