Dunia Sepi

by - Agustus 12, 2018

Di tengah hiruk-pikuk informasi yang silih berganti setiap jam, menit, bahkan detiknya, dunia rasanya bising sekali. Saking bisingnya, manusia bukan hanya bisa kenyang makan, tapi juga kenyang informasi. Belum lagi, lingkungan kerja tanpa sekat, kemudahan mobilitas, dan dunia dalam genggaman menjadi jalan bebas hambatan bagi arus informasi. Informasi semakin besar, namun kita semakin kecil. Rasa-rasanya semua orang ingin memiliki tempat, semua orang rasanya ingin diakui. Sesak sekali rasanya. Dunia rasanya sibuk karena semua orang semakin mudah terkoneksi satu sama lain. 

Semakin sering kita dikelilingi informasi, rasanya seperti selalu ada teman yang menemani. Tapi bagaimana pun juga, kita selalu butuh ruang privasi, dan nyatanya, deep down, ini yang tak jarang terjadi,


"We now live in a world where we’re connected to everything except ourselves." - Zat Rana

Pertumbuhan penduduk memang semakin tinggi, tapi semakin dewasa, entah mengapa, dunia rasanya semakin sepi. Intensitas yang tinggi dengan banyak orang, hari-hari yang penuh dengan meeting dan diskusi, sering membuat saya semakin butuh waktu untuk tidak banyak di tengah orang. Semakin saya butuh waktu untuk membiarkan diri saya asik sendiri dengan dunianya yang tak butuh orang lain untuk mengerti.

Di saat yang sama, entah sudah berapa kali menjalin pertemanan, yang benar-benar menetap nyatanya ga banyak. Lingkaran rasanya semakin mengecil, saya kembali pada orang-orang yang sama. Mungkin bisa dihitung jari jumlahnya. Tapi mungkin, memang kita hanya butuh segelintir orang. Toh, meski lingkarannya kecil, tapi rasanya hangat.



"Ayah gue pernah bilang sama gue, Reg. Salah satu tanda bahwa kita semakin dewasa adalah kita semakin tidak punya waktu untuk mendiskusikan hal yang kurang penting"
- Ka April to Regia

Hal ini yang sering membuat saya ketinggalan banyak informasi tentang teman-teman angkatan di SMP, atau SMA, atau kuliah. Tumpukkan chat dengan sekian bilangan notifikasi terkadang rasanya kurang menarik untuk segera diselesaikan. Yang semakin dibutuhkan adalah waktu yang berkualitas, apapun bentuknya.

Tapi untuk sampai ke titik ini, selalu ada rasa kehilangan. Kesibukan dunia kerja sukses membuat waktu sendiri di perjalanan hingga ke kosan benar-benar terasa sepi. Padahal kita pulang dengan setumpuk cerita yang siap untuk dibagi. Rasa sepi, baru kali ini terasa menyeramkan. Teman-teman saya bercerita, mereka merasa satu persatu bagian seperti ada yang hilang, secara mendadak mereka merasakan kehilangan seseorang, walaupun cuma sekedar teman cerita, bukan seseorang yang pernah saling berbagi tentang rasa. Ternyata, kita sebegitunya ingin dipahami.

Salah satu cara saya memecah sepi akhirnya saya putuskan untuk mengkoneksikan diri saya sendiri. Menyelami diri lebih jauh dan berenang hingga ke dasarnya. Rasanya baru kali ini saya dapat mendengar suara yang ada di dalam diri saya dengan jernih. Saya jarang berfokus pada diri sendiri. Iya, saya se-selfless itu rasanya. Semasa kuliah, semuanya berfokus tentang orang lain, hingga saya abai dan tak peduli dengan diri saya, dengan tingkah laku saya, dengan kebiasaan-kebiasaan saya.

Untuk pertama kalinya, saya seakan memiliki energi besar yang sebegitunya menggerakan. Rutinitas bangun pagi lalu menghirup udara luar, olahraga setiap pagi, rutin makan buah, harus baca apapun setiap harinya, ikutan online course, termasuk ibadah yang harus terus ditingkatkan. Rasanya mungkin telat, amat sangat telat untuk baru memulai memperhatikan diri sendiri. Rasa insecurity level ubun-ubun + hasil tes kesehatan sukses menggelitik saya. Hidup harus sebegitunya dijaga ternyata. Mungkin orang lain juga ada yang merasa demikian. Cukup untuk berfokus pada banyak hal yang kita tak paham akan kemana arahanya, dan mulai berfokus dengan diri sendiri terkait rencana maupun mimpi ke depan. Semakin dewasa, rasanya benar-benar sulit untuk menjalani sesuatu dengan bercanda. Ah, terkesan egois kah ini semua?

Dunia semakin sepi di tengah keramaian yang kian memuncak. Pasang earphone, buka buku, dan list chat yang itu-itu saja. Mungkin hanya ini yang sebenarnya dibutuhkan. 

You May Also Like

0 komentar